oleh

Fitnah Jihan

​Viral itu kadang racun. Manis di awal, pahit di ujung.

​Kasus Jembatan Kali Pasir di Lampung Timur adalah gambaran faktualnya. Niat hati ingin mengawal pembangunan, ujung-ujungnya malah jadi panggung ghibah yang tak bermutu.

​Lihat faktanya.

​Ada anak-anak sekolah bertaruh nyawa di atas rakit Sungai itu. Ini fakta menyedihkan. Tapi di balik layar, jauh sebelum viral, birokrasi Pemprov Lampung sebenarnya sudah lama bergerak.

Saya pernah ulas, bagaimana budaya birokrasi Pemprov Lampung kini sudah berubah. Lebih responsif. Lebih gesit.

Semua masalah yang muncul langsung di sikapi. Termasuk urusan jembatan ini.

Tapi, tak semua kerja birokrasi itu terekam kamera dan diupload ke medsos.

Saya juga pernah mengulas, bagaimana Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (RMD) yang sejak awal dilantik, tak pernah merasakan bulan madu seperti kebanyakan politisi. Langsung bekerja keras menjalankan semua program pembangunan di tengah keterbatasan anggaran.

Dan infrastruktur jalan – jembatan adalah fokus utamanya.

Termasuk jembatan Kali Pasir di Lamtim itu. RMD sudah paham, Pemkab Lampung Timur tak sanggup menanggung biaya jembatan permanen yang tembus Rp70 Miliar.

​Maka, RMD sejak awal menjabat Gubernur Lampung mencari solusi terbaik. Libatkan pusat. Lobi anggaran. Untuk bangun jembatan.

Itu solusi jangka panjang dan permanen. Tapi butuh proses administrasi dan teknis. Tak bisa seperti main sulap.

Solusi jangka pendeknya? Jembatan Merah Putih.

RMD paham betul. Warganya perlu jawaban cepat dan solutif.

Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung. M. Taufiqullah, menyebut RMD sudah koordinasi langsung dengan Panglima Kodam II/Sriwijaya (Kodam XXI/Radin Intan) sebagai bagian dari penanganan cepat di wilayah berisiko tinggi.

“Alhamdulillah, saat ini sudah diprioritaskan melalui program Jembatan Merah Putih. Pak Gubernur langsung yang meminta ke Pangdam,” ujar Taufiqullah, Senin (2/2).

Targetnya jelas, semester satu 2026 jembatan merah putih rampung. Ini kerja nyata. Kerja yang seringkali sepi dari tepuk tangan karena tak diupload di medsos.

​Tapi apa yang terjadi?

​Substansi ini tenggelam. Kalah bising oleh teriakan – teriakan sumbang yang maaf kata, dangkal. Bahkan cenderung berbau fitnah ke Wagub Jihan.

​Muncul narasi Jihan minta take down video. Logika dari mana? Pemerintah yang justru menjadikan video itu sebagai penguat argumen untuk minta dana ke pusat, masa iya mau menghapusnya? Ini fitnah yang tak pakai nalar.

​Belum selesai di situ, drama makin liar.
Dan lebih menyedihkan. Ini puncak ketololan.

Isu infrastruktur vital ini malah diseret ke ranah isu private.

​Tiba-tiba muncul narasi Jihan nikah siri. Apa hubungannya status pernikahan pejabat dengan tiang pancang jembatan? Tidak ada. Nol besar. Tak ada korelasi sama sekali.

​Lihat saja kolom komentar akun salim_dower. Di sana ada akun @didisna yang dengan entengnya mengetik: “Denger-denger Jihan ini udh nikah siri sama suami orang. Valid 1000%.”
​Valid dari mana? Dari katanya?

​Untungnya masih ada yang membantah. Akun @penggemar_drjihan2204 langsung menyambar: “Kamu juga suka nyebarin fitnah deh. Pernah DM saya kamu ya.”

​Ini potret buram kita. Perdebatan yang harusnya produktif justru digeser jauh diluar inti masalah.

Kalau mau jujur, itulah bentuk sesat pikir. Istilah kerennya, argumentum ad hominem. Ketika tak mampu menyerang kinerja, yang diserang pribadinya. Itu Murahan. Jauh dari nilai substantib.

​Diskusi jadi tidak produktif. Energi yang harusnya dipakai buat mengawal janji pemerintah agar jembatan itu berdiri 2026, malah habis buat meladeni gosip sampah di kolom komentar.

​Kita ini butuh jembatan, bukan butuh drama sinetron.

​Fokus ke substansi. Pemprov sudah kasih solusi. Baik solusi permanen maupun solusi cepat. Pemprov sudah kasih target 2026. Tugas kita sekarang sederhana pelototi janjinya, bukan urusi privasinya.

​Jangan sampai nasib anak-anak Kali Pasir yang butuh akses jalan untuk menempuh pendidikan itu, tertutup oleh debu-debu fitnah yang tak berkesudahan.

​Sudahi nyinyir, kawal kerja nyata…Wassalam.(*)