oleh

Racikan RMD

Kita lanjut menengok perjalanan pembangunan Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (RMD) dan Jihan Nurlela. Coba kita lihat dengan seksama, di balik keberhasilan RMD berselancar di atas ombak fiskal yang naik turun, sebenarnya ada satu pekerjaan yang lebih dulu di bereskannya.

Pekerjaan pertama dan utama itu adalah menyembuhkan penyakit usang bernama lambat dan ruwet di tubuh birokrasi.

Tanpa menyembuhkan penyakit ini, program dan kebijakan yang bagus sulit terlaksana dengan cepat dan tepat.

Lambat itu bukan hanya penyakit. Itu dosa birokrasi.

​Di era sekarang, di mana dunia berputar secepat peselancar di Laut Krui, yang lelet akan ditinggal.

Sering kita lihat pemimpinnya visioner, idenya brilian, pidatonya berapi-api. Tapi begitu masuk tahap eksekusi? Tersendat. Layu sebelum berkembang.

Kenapa?

Karena kakinya dililit akar serabut bernama birokrasi.

​Birokrasi kita itu unik. Seperti tubuh mahluk hidup. Kalau terlalu gemuk pasti memicu penyakit kronis.

Di dunia birokrasi, penyakit itu bernama ABS alias Asal Bapak Senang.

​Penyakit ini melahirkan anak haram yang tak kalah bahaya yakni ATS alias Asal Terlihat Sibuk.

Rapat maraton. Laporan setinggi gunung Seminung di Ranau. Grup WhatsApp berisik sampai tengah malam. Semua orang tampak berkeringat. Tapi hasilnya nol. Kosong.

​Itu bukan kerja.

Itu sandiwara.

Kasarnya, itu pura-pura kerja dan kerja pura-pura.

​RMD sadar betul penyakit akut ini. RMD besar di dunia usaha. Di dunia usaha, lambat berarti rugi. Lambat berarti bangkrut.

Kebiasaan kerja cepat tanpa birokrasi berbelat belit itu sudah mendarah daging.

Dan kini, kultur itu dipaksa masuk ke tubuh birokrasi Pemprov Lampung.

​RMD tidak mau terjebak. Dia menolak di-ABS-kan.

Maka, operasi pembenahan dimulai sejak awal. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan meracik ulang para punggawa birokrasi Pemprov Lampung. Racikan itu dengan formasi muda di depan, senior di tengah.

​Lihat bagaimana RMD menempatkan Thomas Amirico. Anak muda ditaruh jadi Kepala Dinas Pendidikan. Kenapa? Karena IPM Lampung yang nyaris di papan bawah itu butuh energi ekstra menaikkannya. Menyiapkan SDM unggul itu butuh kreatifitas dan kerja cepat, bukan dengan seminar berhari-hari.

Thomas Amirico punya jejak panjang di dunia pendidikan. Pernah jadi Kadis Pendidikan Lampung Selatan dan Seketaris DPRD. Dia paham mengejawantahkan keinginan RMD menaikkan IPM dan menciptakan SDM unggul.

Lihat M. Taufiqullah. Dari Plt langsung didefinitifkan sebagai Kepala Dinas Bina Marga Bina Kontruksi. Urusan jalan rusak itu urusan nyawa dan ekonomi. Paling banyak di atensi rakyat

RMD butuh eksekutor yang paham teknis, bukan pejabat yang cuma jago senyum. M. Taufiqullah sejak awal karir memang banyak di dunia jalan dan jembatan. Pengalaman panjang itu membuat RMD yakin M Taufiqullah bisa memenuhi targetnya yang tinggi di sektor infrastruktur.

​Lalu ada Descatama Paksi Moeda. Posisinya ngeri-ngeri sedap yakni Sekretaris DPRD. RMD butuh jembatan. Legislatif isinya banyak politisi muda. Desca yang luwes dan pernah jadi Kadispora plus Pjs Walikota adalah pelumas yang pas. Biar mesin eksekutif dan legislatif tidak panas karena gesekan.

​Tapi, ngebut tanpa rem itu bunuh diri. RMD pasang rem cakram di Inspektorat. Namanya Bayana. ASN perempuan yang senyum saja terlihat tegas. Lulusan pertama IPDN. Disiplinnya seperti gunung Pesagi di Liwa, tinggi dan dingin. Dia yang bertugas menjewer telinga ASN yang mulai melenceng.

​Lantas, para ASN senior dikemanakan? Dibuang?

Tidak.

RMD tahu adab. RMD tahu nilai pengalaman.

​Para senior birokrat seperti Mulyadi Irsan dan Sulpakar, dinaikkan posisinya jadi Asisten. Mereka jadi begawan. Jadi libero. Tugasnya menjaga harmoni, mensinkronkan langkah, memastikan anak-anak muda yang lari kencang tadi tidak saling tabrak.

​Dan dirigennya? Marindo Kurniawan.

Sekdaprov muda dengan otak finansial dan kaya pengalaman. Lama jadi Kepala BPKAD dan pernah Pj.Bupati. Kalem dan teliti melihat angka-angka. Dia manajer yang teruji. Di tengah APBD yang defisit, butuh otak encer dan disiplin fiskal untuk mengatur uang belanja dan mengatur irama kerja biar pembangunan tetap jalan.

Hasilnya?

Birokrasi Lampung kini mulai punya kinerja tensi tinggi.

Bukan hanya cepat, tapi performa mulai lincah.

Respon cepat. Inflasi terjaga. Uang rakyat aman.

​Ini bukan kebetulan. Ini by design.

RMD sejak awal menjabat sudah mengirim pesan keras ke seluruh ruangan birokrasi Pemprov Lampung. Zaman ABS/ATS sudah tamat. Sekarang zamannya kerja, atau minggir dari gelanggang.

Emang ada yang minggir dari gelanggang?

Mungkin, sekali lagi Mungkin ini terjadi di OPD yang menangani pendapatan. Ya, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). OPD ini baru dirombak sepekan lalu. Entah karena ABS/ATS atau bukan. Yang jelas perombakan itu dilakukan setelah target PAD 2025 gagal tercapai. Setelah terlihat sibuk dengan pemutihan pajak. Setelah sibuk rapat sana sini bahas potensi PAD.

Kita hanya bisa berdoa, mudah-mudahan formasi baru Bapenda ini kedepan kinerjanya bisa mengimbangi kecepatan OPD lain.

Sehingga akan terjadi pendapatan meningkat. Disiplin fiskal tinggi. Eksekusi program cepat dan tepat. Pengawasan ketat. Orkestrasi kerja cakap.

Jika itu terjadi, maka di akhir tahun 2026 RMD pasti full senyum. Karena semua program terlaksana dengan baik. Janji politik tunai. Rakyat bahagia. Semoga…Wassalam.(*)