Harianpilar, com. Bandarlampung – Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) secara resmi mengumumkan penutupan sementara seluruh objek wisata alam di kawasan konservasi tersebut bagi masyarakat umum. Penutupan itu berdampak pada perjalan wisata yang dilaksanakan agen perjalanan.
Kebijakan ini mulai berlaku efektif pada Jumat, 16 Januari 2026, hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor: SE. 105/T.11/TU/HMS.01.08/B/01/2026 tentang Penutupan Sementara Objek Wisata Alam di Taman Nasional Way Kambas, yang ditandatangani langsung oleh Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, S.Hut., M.A.P., di Labuhan Ratu pada 15 Januari 2026.
Dalam surat edaran tersebut, MHD. Zaidi menjelaskan bahwa langkah penutupan ini diambil sebagai respons terhadap situasi terkini di lapangan. Pihak balai tengah memprioritaskan penanganan interaksi negatif antara satwa dan manusia.
“Dalam rangka menyikapi atensi masyarakat dan keterbatasan SDM dalam penanganan dan penanggulangan konflik gajah liar, Balai Taman Nasional Way Kambas akan melakukan penutupan sementara objek wisata alam,” bunyi poin B dalam surat edaran tersebut.
Pihak Balai TNWK menegaskan bahwa fokus utama petugas saat ini dialihkan sepenuhnya untuk menangani konflik gajah liar yang memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang intensif. Hal ini dilakukan demi keselamatan bersama dan optimalisasi penanganan satwa.
Meskipun ditutup untuk kunjungan wisata umum, Balai TNWK memberikan pengecualian terbatas. Kawasan TNWK masih dapat diakses khusus untuk kegiatan yang bersifat akademis dan edukatif.
“Kecuali untuk kegiatan penelitian, magang, dan pendidikan,” tegas Zaidi dalam surat tersebut.
Terpisah, Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) DPD Lampung menegaskan penutupan sementara aktivitas wisata di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tidak boleh berdampak panjang terhadap kepercayaan wisatawan dan keberlanjutan pariwisata Lampung.
Ketua DPD ASTINDO Lampung, Adi Susanto, mengatakan pihaknya menghormati keputusan Balai TNWK menutup sementara kawasan wisata sebagai langkah mitigasi keselamatan, baik bagi wisatawan maupun satwa liar, khususnya terkait konflik gajah.
“Keselamatan adalah prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata alam. Penutupan sementara Way Kambas kami pahami sebagai langkah preventif yang harus diambil,” ujar Adi Susanto, Minggu (18/1).
Adi mengakui penutupan Way Kambas berdampak langsung terhadap agen perjalanan, terutama yang menjual paket edukasi satwa, ekowisata, dan wisata keluarga. Namun, ASTINDO menilai kondisi tersebut sebagai tantangan jangka pendek yang harus dikelola dengan komunikasi yang baik.
“Ini bukan kemunduran pariwisata Lampung. Yang terpenting adalah bagaimana informasi disampaikan secara terbuka dan solusi diberikan kepada wisatawan,” tegasnya.
Sejumlah agen travel, lanjut Adi, melaporkan adanya penyesuaian jadwal dan pembatalan kunjungan. Namun keluhan wisatawan masih dapat dikelola melalui pendekatan persuasif serta penawaran destinasi alternatif.
ASTINDO Lampung mendorong seluruh anggotanya untuk menerapkan kebijakan reschedule, reroute destinasi, maupun penawaran paket wisata alternatif dengan prinsip fleksibilitas dan pelayanan maksimal.
“Kepercayaan wisatawan adalah aset utama. Karena itu, pelayanan harus tetap dijaga meski terjadi kondisi di luar kendali,” kata Adi.
Terkait alasan penutupan, ASTINDO memahami bahwa konflik gajah liar merupakan isu serius yang menyangkut keselamatan manusia, konservasi satwa, dan kelestarian ekosistem. Penanganannya dinilai harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.
ASTINDO Lampung juga memastikan akan aktif berkoordinasi dengan Balai TNWK dan pemerintah daerah untuk memperoleh kejelasan durasi penutupan serta skema pembukaan kembali yang aman dan terukur.
Sebagai langkah antisipasi, ASTINDO mendorong promosi destinasi alternatif di Lampung, seperti Pulau Pahawang dan Teluk Kiluan, Kampoeng Vietnam dan wisata sejarah, wisata bahari Pesawaran dan Tanggamus, hingga city tour Bandar Lampung dan wisata budaya Lampung.
“Pariwisata Lampung tidak boleh bergantung pada satu destinasi. Momentum ini justru mengingatkan kita pentingnya diversifikasi produk wisata yang aman, berkelanjutan, dan berdaya saing,” pungkas Adi Susanto.
ASTINDO optimistis, dengan koordinasi lintas pihak dan promosi destinasi alternatif yang masif, pariwisata Lampung tetap tumbuh tanpa kehilangan momentum meski Way Kambas ditutup sementara. (*)









