oleh

Natal Oikumene Lampung Teguhkan Solidaritas Lintas Iman

Harianpilar.com, Bandarlampung – Perayaan Natal Oikumene Provinsi Lampung 2025 menjadi panggung penguatan nilai keluarga, solidaritas kemanusiaan, dan kepedulian lingkungan hidup. Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan keluarga sebagai fondasi utama ketahanan sosial di tengah tantangan global, mulai dari ekonomi hingga krisis iklim.

Perayaan yang digelar di Gedung Graha Wangsa, Jumat (9/1), dihadiri sekitar 2.000 umat Kristiani dari berbagai aras gereja. Suasana khidmat dan toleran mengiringi perayaan yang mengusung tema “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga.”

“Tema ini sangat relevan. Keluarga adalah entitas terkecil sekaligus pondasi pertama yang menyelamatkan kita dari berbagai tantangan zaman,” ujar Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dalam sambutannya. Ia menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk terus mendorong program pembangunan yang memperkuat ketahanan keluarga sebagai basis moral dan spiritual masyarakat.

Selain ketahanan keluarga, Jihan juga menyoroti isu lingkungan hidup. Mengutip pesan Paus Fransiskus, ia mengingatkan bahwa manusia adalah penjaga bumi, bukan pemiliknya.
“Alam ini kita pinjam dari generasi masa depan. Karena itu, kita wajib mengembalikannya dalam keadaan baik. Saatnya melakukan tobat ekologis,” tegasnya.

Jihan turut mengapresiasi solidaritas umat Kristiani Lampung yang menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Sumatera. Menurutnya, kepedulian tersebut merupakan wujud nyata nilai kasih dan panggilan kemanusiaan lintas iman.

Sejalan dengan itu, Uskup Keuskupan Tanjung Karang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo menegaskan peran keluarga sebagai benteng utama menghadapi percepatan perubahan zaman. Ia menyebut keluarga sebagai sel terkecil yang menentukan masa depan bangsa.“Tidak akan ada keselamatan bagi masyarakat tanpa perhatian pada keluarga. Di sanalah nilai gotong royong, tepa selira, dan persatuan ditanamkan sejak dini,” ujarnya.

Uskup Vinsensius juga mengaitkan pesan Natal dengan Arah Dasar Keuskupan, “Cinta Kehidupan dan Lingkungan Hidup,” serta mengajak seluruh elemen masyarakat merawat potensi Lampung—dari pariwisata bahari hingga pertanian—sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat manusia dan kelestarian alam.

Menutup pernyataannya, Uskup menyerukan kolaborasi inklusif demi kemajuan daerah.
“Ketika berbicara untuk Lampung, kita tidak lagi berjalan atas nama agama masing-masing, tetapi satu nama: Masyarakat Provinsi Lampung,” pungkasnya. (Ramona)