Harianpilar.com, Bandar Lampung –Pemerhati Pembangunan Target persentase kemantapan jalan provinsi Lampung yang disebut-sebut telah mencapai 80 persen oleh Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, seperti yang diungkap Kepala Dinas BMBK Muhammad Taufiqullah, adalah kabar gembira yang patut disambut dengan analisis kritis.
Angka ini, jika benar-benar terealisasi dan berkelanjutan, bukan sekadar statistik pembangunan, melainkan indikator vital perputaran mesin ekonomi Lampung.
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: apakah peningkatan kemantapan ini menyentuh urat nadi perekonomian, khususnya jalan yang menjadi akses vital hasil pertanian, perkebunan, dan pariwisata?
Akses Vital: Dari Kopi ke Kiluan
Lampung dikenal sebagai lumbung komoditas utama seperti kopi, singkong, lada, dan nanas. Sektor pariwisata bahari, seperti Teluk Kiluan, Gigi Hiu, dan kawasan pesisir Tanggamus-Pesawaran, juga menjadi magnet besar.
Berdasarkan data dan pernyataan resmi pemerintah provinsi sebelumnya, perbaikan infrastruktur memang telah memprioritaskan ruas-ruas yang memiliki daya ungkit ekonomi dan pariwisata.
Dulu pada era Gubernur Ridho Ficardo, Pj. Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Hamartoni Ahadis, pernah menegaskan bahwa Pemprov Lampung memprioritaskan ruas jalan yang mendukung konektivitas dan akses pariwisata, seperti ruas Padang Cermin–Teluk Kiluan–Way Umbar dan Simpang Umbar–Putih Doh di Pesawaran dan Tanggamus, selain juga sebagai akses menuju Kawasan Industri Maritim (KIM).
Ruas-ruas ini secara definitif merupakan akses vital yang menghubungkan hasil perkebunan dan pertanian dari pedalaman ke pelabuhan atau pasar, sekaligus menjadi jalur utama wisatawan.
Jika jalan-jalan prioritas ini termasuk dalam 80% kategori mantap, dampaknya akan langsung terasa. Akses yang lancar berarti biaya logistik yang lebih rendah, waktu tempuh yang lebih cepat, dan yang terpenting, kualitas produk pertanian yang terjaga saat tiba di pasar.
Mengurai Dampak Ekonomi dengan Teori
Secara teoretis, peningkatan kualitas infrastruktur jalan memiliki korelasi yang kuat dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Kita bisa merujuk pada Teori Growth Poles (Kutub Pertumbuhan) yang dikembangkan oleh François Perroux, yang menggarisbawahi pentingnya investasi di sektor kunci, termasuk infrastruktur, untuk mendorong pertumbuhan di wilayah sekitarnya.
Dalam konteks Lampung, jalan mantap adalah ‘saluran’ yang menghubungkan wilayah produksi (kebun dan sawah) ke pusat konsumsi (pasar/pelabuhan) secara efisien. Ketika saluran ini lancar, terjadi beberapa efek simultan, yang dijelaskan oleh akademisi:
- Efisiensi Logistik: Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung, Usep Syaipudin, pernah menekankan bahwa jalan yang tidak layak meningkatkan biaya logistik, memperlambat arus distribusi, dan membuat harga komoditas lebih mahal dan sulit bersaing. Sebaliknya, jalan yang mantap akan menurunkan biaya operasional, sehingga harga produk Lampung lebih kompetitif.
- Peningkatan Nilai Jual: Untuk sektor pertanian, jalan rusak dapat menyebabkan penurunan kualitas produk (misalnya, singkong atau sayur-mayur) akibat keterlambatan atau kerusakan dalam perjalanan. Dengan jalan mantap, kualitas hasil bumi lebih terjamin, yang berujung pada nilai jual yang lebih tinggi bagi petani dan nelayan.
- Daya Tarik Pariwisata dan Investasi: Kepala Dinas BMBK sebelumnya, Muhammad Taufiqullah, juga menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur di koridor wisata bahari bertujuan untuk mendukung mobilitas wisatawan. Infrastruktur yang baik meningkatkan jumlah dan durasi kunjungan wisatawan. Di sisi lain, investor cenderung enggan menanamkan modal di wilayah dengan infrastruktur yang buruk.
Kutipan Kunci: Seperti yang ditegaskan oleh M. Taufiqullah, Kepala Dinas BMBK Lampung,
“Dinas BMBK memprioritaskan jalan-jalan yang rusak parah dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Jalan yang rusak parah, dan kalau diperbaiki akan menumbuhkan perekonomian. Itu yang menjadi prioritas utama kita.”
Singkatnya, persentase 80% jalan mantap di Lampung dapat diartikan sebagai pembukaan hambatan (bottleneck) logistik.
Hal ini mengubah biaya transportasi yang tadinya merupakan beban bagi produsen menjadi modal yang bisa diinvestasikan kembali.
Jika mayoritas ruas vital pertanian, perkebunan, dan pariwisata ada di dalam 80% tersebut, maka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Lampung berpotensi terakselerasi signifikan.
Namun, pekerjaan rumah belum selesai. Jaminan mutu pengerjaan dan pemeliharaan jalan secara berkelanjutan menjadi kunci agar 80% ini tidak sekadar angka sesaat.
Jalan mantap adalah investasi jangka panjang, dan keberlanjutannya adalah jaminan terhadap pertumbuhan ekonomi yang stabil di Bumi Ruwa Jurai.









