Harianpilar.com, Kudus – Vina Febriana Hasan menjalani pertarungan panjang dan melelahkan untuk memperoleh medali emas. Turun di kelas Randori perorangan +70Kg di Pekan Olahraga Nasional (PON) Beladiri 2025 di Kudus, Jawa Tengah, Vina berhadapan dengan Kenshi Nining Ardykara Ar asal Sulawesi Tenggara. Keduanya menjalani pertarungan panjang hingga 40 menit. Padahal normalnya pertandingan Kempo yang terdiri dari 3 babak atau ronde itu maksimal berlangsung 9 menit.
Namun total waktu yang diperlukan Vina untuk meraih medali emas di final Minggu, 19 Oktober 2025 ini kurang lebih 40 menit. “Total tidak kurang dari 40 menit baru selesai. Ini pertandingan paling panjang yang saya jalankan selama ini. Tetapi untuk meraih medali emas apapun akan saya lakukan. Dan rela bibir saya saat ini jontor beberapa kena sasaran pukulan. Gak papa,” ungkapnya.
Lamanya waktu pertandingan memang sangat dimungkinkan di cabang olahraga Kempo, terutama karena kesamaan nilai dan beberapa hal lainnya.
Vina mengaku sempat terbawa arus permainan lawan pada awal-awal, sehingga amat kesulitan untuk bisa melakukan serangan. Namun dengan terus mempelajari pola lawannya bertanding, maka ada suatu kali dia memasukkan satu serangan mematikan.
Vina mengungkapkan perasaannya usai berhasil meraih medali emas pertama untuk Shorinji Kempo di PON Beladiri Kudus 2025.
“Rasanya ini seperti mimpi, saya gak nyangka bisa meraih medali emas di sini (PON Beladiri Kudus). Ini juga karena doa semuanya dari suami saya, anak saya, orang-orang yang mendukung saya. Terima kasih semua dukungannya,” kata Vina.
Pelatih Shorinji Kempo Lampung, Alpha Edison, mengatakan, pihaknya menargetkan dua medali emas dalam ajang ini.“Untuk sementara kami baru dapat satu emas. Masih ada empat nomor lagi yang akan bertanding Farel, Risky, dan dua nomor Embu beregu campuran. Harapannya bisa menambah emas lagi,” ujar Alpha saat ditemui di arena pertandingan.
Alpha juga menyampaikan prestasi ini merupakan buah dari program jangka panjang yang telah dijalankan sejak level remaja. “Kami sudah mulai bina dari usia remaja, dewasa, sampai kadet. Banyak juga atlet perempuan yang sekarang menonjol dan naik ke level berikutnya,” katanya.
Dibalik pencapaian itu, Alpha mengungkap perjuangan keras para atlet Lampung yang berlatih di tengah kesibukan bekerja.
“Sebagian besar atlet kami kerja sebagai buruh atau SPG. Jadi jadwal latihannya gak menentu kadang malam, kadang pagi, tergantung jam kerja. Kami harus fleksibel biar mereka tetap bisa latihan,” ungkapnya.
Ia berharap dukungan dari KONI Lampung bisa semakin kuat agar pembinaan bisa berjalan lebih konsisten. “Harapannya ada sinergi antara program kami dan KONI, supaya kebutuhan atlet bisa terpenuhi dan prestasi lebih stabil,” tambahnya.
Sementara pelatih lainnya Frengky Novera menilai capaian kali ini sudah cukup menggembirakan meski belum sepenuhnya memuaskan.
“Kalau dibilang puas, ya setengah puas. Karena lawan-lawan kita berat ada Jabar, Kalimantan, Sultra, dan lainnya. Tapi kita tetap optimis, kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?” ujarnya.
Tim Kempo Lampung mengerahkan 17 dari total 24 nomor pertandingan, mencakup kategori Randori dan Embu baik perorangan maupun beregu. “Kami masih punya peluang di beberapa nomor, semoga bisa menutup target dua emas,” tuturnya.
Pada kesempatan itu Waketum Perkemi Lampung, Yosa Sasta menyampaikan ucapan selamat kepada para keshi yang bertanding dan meraih medali.
“Semoga emas ini memacu semua kenshi yang masih bertanding untuk termotivasi meraih medali di hari-hari terakhir pertandingan di PON Beladiri ini,” katanya.
Perkemi Lampung, katanya, akan terus melakukan pembinaan dan regenerasi atlet Kempo untuk bisa meneruskan estafet prestasi para seniornya. Meskipun dominasi atlet Kempo dari putri, namun ke depan atlet putra terus akan diupayakan membina dari usia muda. (*)









