Harianpilar.com, Bandarlampung – Rumah Pintar yang didirikan di Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, Kecamatan Hiliran Gumanti, Talang Babungo, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, sukses meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Beragam inisiatif pengelolaan ekonomi yang berfokus pada pemanfaatan kembali sumber daya alam serta pengurangan limbah dan polusi ini membawa dampak perubahan ekonomi masyarakat setempat.
Ekonomi kerakyatan daerah yang sebelumnya cukup terisolir ini kini bergerak lebih baik menjadi desa wisata yang terbuka untuk umum. Selain sebagai Rumah Maggot & Bank Sampah Pengelolaan serta rumah produksi gula semut, daerah ini juga sekarang memiliki homestay untuk pengunjung wisata.
Ketua KBA Jorong Tabek yang Inisiator Ekonomi Sirkuler KBA Talang Babungo, Kasri Satra menyampaikan bahwa KBA Jorong Tabek sukses menerapkan konsep sirkuler yang diwujudkan melalui rantai kegiatan ekonomi yang mengintegrasikan proses produksi gula semut berbahan baku nira pohon enau.
Disampaikannya, limbah produksi gula semut dan sampah organik warga kemudian diolah menjadi pakan maggot. Maggot yang telah berkembang selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan ikan.
“Sementara, limbah warga nonorganik lainnya seperti botol air mineral, bungkus makanan ringan, dan lainnya di Kelola melalui bank sampah dimana kontribusi setiap warga dihitung dalam bentuk rupiah, dalam periode tertentu dapat diuangkan kembal,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima wartawan, Rabu (6/8).
Dijelaskannya, Rumah Pintar KBA Jorong Tabek merupakan bangunan panggung yang berukuran 4×20 meter. Ini dibangun pada tahun 2019 melalui gotong royong masyarakat Jorong Tabek. Kini menjadi simbol desa wisata budaya-edukasi sekaligus pusat inspirasi dan laboratorium ekonomi sirkuler di Kawasan Talang Babungo.
Dijelaskan juga, Rumah Pintar KBA Jorong Tabek memiliki empat fungsi. Pertama, bisa sebagai perpustakaan budaya dan ruang berbagi konsep ekonomi kerakyatan. Kedua, bisa sebagai penggalian model ekonomi sirkuler melalui diskusi dengan penggiat sosial.
“Kemudian ketiga, bisa menjadi titik kumpul bagi 90 penggiat ekonomi setempat (sebagian besar ibu rumah tangga) untuk menggali dan menguji ide. Dan keempat, Pusat informasi 45 homestay untuk wisatawan domestic yang ingin berkunjung ke daerah tersebut,” jelasnya.
Disampaikannya juga, di KBA Jorong Tabek juga memproduksi bubuk gula semut yang berasal dari sadapan pohon enau yang kemudian diolah melalui proses
pemanasan nira melalui oven yang menggunakan bahan bakar gas. “Sementara proses produksi dilakukan dengan teknik pemukulan pangkal bunga pohon enau untuk merangsang aliran nira ke bambu penampung,” jelasnya.
Produksi bubuk gula semut ini, kata dia, dijalankan oleh 20 kepala keluarga yang dimana produksi harusnya bisa mencapai 10 sampai 20 kilogram. “Dan jika dikalkulasi dalam sebulan produksinya bisa mencapai 1500 kilogram,” kata dia.
Ia juga menyampaikan, produk bubuk gula semut ini juga memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya produk berasal dari ketinggian >1.500 mdpl (suhu 18-24°C) dan kadar gula tinggi dengan tekstur lebih halus. “Namun, proses produksi saat ini cukup terbatas dan dapat ditingkatkan dengan peluang pasar yang lebih menjanjikan,” kata dia.
Ia menyampaikan, Rumah Maggot & Bank Sampah Pengelolaan Rumah Maggot KBA Jorong Tabek ini telah beroperasi sejak 2021 dan diintegrasikan dengan pengelolaan limbah non organic melalui bank sampah dan limbah organik dari proses produksi gula semut dan gula tebu.
“Pengolahan limbah organik ini bersumber dari gula semut dan gula batu berbahan baku tebu, serta dari kegiatan harian warga. Dan Maggot yang sudah dewasa dijadikan bahan pakan ikan untuk Kolam Ikan KBA,” kata dia.
Sementara itu, masih kata dia, Bank sampah tempat pengelolaan sampah non organik. Pengumpulan hasil limbah non organik masyarakat dihitung sebagai tabungan yang dihitung dalam nilai rupiah dapat diuangkan dalam periode kapanpun.
Lalu, Hasil limbah non organik yang berbahan baku plastic (botol, kemasan plastic) besi dan berbentuk logam lainnya akan ke luar Kawasan Jorong Tabek. “Hasil penjualan limbah non organic ini sebagian dikembalikan ke warga yang menyetorkan limbah yang dicatat dalam bentuk buku tabungan, Sebagian lagi dikumpulkan untuk mendukung kegiatan ekonomi lainnya. Termasuk untuk membangun fasilitas-fasilitas warga di daerah wisata KBA Astraz” bebernya.
Lebih lanjut, di KBA Jorong Tabek ini juga terdapat kolam ikan yang memiliki beragam keuntungan. Pertama, bisa sebagai arana hiburan dan tempat rekreasi mini yang dibangun sebagai ekosistem ekonomi sirkuler di daerah Jorong Tabek. Kedua, bisa digunakan sebagai tempat menampung produksi maggot.
Ketiga, dapat dioperasikan dengan pola biaya masuk untuk penikmat olahraga pancing ikan yang dating dari daerah lain di luar Jorong Tabek. “Dengan rata-rata penghasilan bersih Kolam Ikan sekitar Rp5 juta per bulan, dijadikan sebagai bagian untuk mendukung ekonomi masyarakat yang kurang mampu untuk kebutuhan kesehatan dan pendidikan warga,” jelasnya.
Lebih lanjut lagi, dari semua kegiatan ekonomi di KBA Jorong Tabek telah memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi warga. Diantaranya, ekonomi kerakyatan daerah yang sebelumnya cukup terisolir kini bergerak lebih baik menjadi desa wisata yang terbuka untuk umum.
Kemudian, dengan ketersediaan sekitar 45 HomeStay, daerah Jorong Tabek menjadi daerah yang siap menerima kunjungan wisata dari daerah lainnya. Lalu, ekonomi sirkuler menjadi pendorong penguatan kemampuan keuangan masyarakat di Jorong Tabek.
“Menjadi salah satu jaminan Pendidikan dan Kesehatan untuk keluarga yang kurang mampu didaerah Jorong Tabek. Dan Menjadi bagian usaha yang mampu menambah pembiayaan beasiswa untuk 20 penerima beasiswa anak muda berprestasi di Jepang,” tutupnya. (Ramona).









