oleh

RMD Berpeluang Diusung Koalisi Besar

Harianpilar.com, Bandarlampung – Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Lampung, Rahmat Mirzani Djausal (RMD) berpeluang diusung koalisi besar pada Pilkada yang akan digelar pada 27 November 2024 mendatang, jika partai politik (Parpol) koalisi Prabowo-Gibran pada Pilpres berlanjut menjadi koalisi Pilkada.

Terlebih, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Nasional Demokrat (NasDem) telah menyatakan siap bergabung dalam kabinet Prabowo-Gibran.

Dari hasil rekapitulasi suara KPU Provinsi Lampung, Partai Gerindra keluar menjadi partai pemenang dengan perolehan kursi paling banyak yakni 16 kursi, PKB dan Golkar masing- masing 11 kursi, Partai NasDem 10 kursi, Demokrat 9 kursi, PAN 8 kursi.

Pengamat Politik Unila Dedi Hermawan menilai, koalisi partai besar bisa saja terjadi untuk mengusung dalan satu calon dalam Pilkada.

Dalam hal ini yang menjadi pertimbangan dibentuk koalisi besar itu karena kepentingan tiket, bisa juga kepentingan elektabilitas.

“Peluang untuk koalisi besar sangat terbuka, paling tidak jangka pendek untuk memastikan bahwa para parpol bisa mengusung calon,” jelasnya.

Selain itu, jelasnya, ada keuntungan kalau koalisi nasional pada Pilpres kemaren, kemudian dilanjutkan di lokal.

“Iya ada peluangnya, karena parpol parpol itu sudah pernah bekerjasama sebelumnya, itu jadi modal untuk bisa merapatkan barisan kembali di dalam konteks Pilkada atau Pilgub. Apalagi kalau figur yang akan dimajukan itu punya popularitas dan elektabilitas yang tinggi. Dan akan menjadi magnet perekat menyatukan koalisi besar itu,” ungkapnya.

Menurut Dedi, dalam setiap Pilkada salah satu faktor pemenangan itu mesin partai, jadi partai koalisi juga harus dipilah pilah.

“Jadi ada koalisi yang terbentuk atas kepentingan untuk tiket bagi calon, ada juga koalisi terbentuk karena kekuatan mesin partai sebagai pendulang suara,” ujarnya.

Dedi memastikan, faktor pengalaman sebelumya akan menjadi modal, tinggal bagaimana para pimpinan partai membangun komunikasi kesamaan visi, flatform untuk agenda kemenangan.

“Itu juga akan menjadi penentu. Kesamaan visi juga bisa memperkuat peluang menjadikan koalisi besar. Dan jangan lupa juga ada faktor pusat dalam menentukan koalisi besar itu,” tegasnya.

Dedi juga menyarankan, jika koalisi besar terbentuk harus diikat oleh satu visi untuk membangun daerah, mencari satu pemimpin yang tidak hanya faktor elektabilitas, popularitas tapi juga pada faktor nilai pada persoalan etika, persoalan pengetahuan.

“Kita harap koalisi besar yang terbangun tidak fragmatis juga substansialis untuk kemajuan daerah yang paling utama. Kemudian jika koalisi besar ini terbentuk tidak hanya diikat oleh satu figur yang memang punya kapasitas dan peluang menang saja,  tapi juga mempunyai komitmen untuk membangun daerah. Kemudian, koalisi besar jangan pula terlalu elitis, kalo bisa juga mengakur ke bawah,” tandasnya. (*).