Oleh : Lia Puspitasari/Editor : Juanda Hipni
(Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lampung)
STRATEGI nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan acuan dalam penyusunan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan verifikasi yang terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat untuk mencapai kelurahan STBM menuju sanitasi aman Hal ini mengawali terbentuknya inovasi tok tok jamban sehat keluarga sehat (Jaga Sehat) di UPT Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung.
Sanitasi Total Sanitasi Aman adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan dan penggerakan masyarakat dengan metode pendekatan dan pemicuan Tok tok jamban sehat keluarga sehat (Jaga Sehat) yaitu terpenuhinya Pilar 1 dari STBM dengan penerapan Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang merupakan perbaikan utama terhadap sanitasi, lingkungan dan air bersih, secara substansial akan mengurangi tingkat kesakitan dan tingkat keparahan berbagai penyakit sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pelaksanaaan tok jamban sehat keluarga sehat (Jaga Sehat) yang berkaitan dengan sanitasi yang melibatkan masyarakat, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pelaksanaannya mulai dari pemerintah lokal, agen pelaksana, ketersediaan sumber daya, partisipasi masyarakat, hingga faktor lingkungan, ekonomi dan sosial-politik. STBM sebagai dasar pelaksanaan inovasi tok jamban sehat keluarga sehat (Jaga Sehat) memiliki strategi yang meliputi tiga komponen yang saling mendukung antara satu dengan yang lain.
Strategi tersebut meliputi penciptaan lingkungan yang kondusif, peningkatan kebutuhan sanitasi, dan peningkatan penyediaan akses sanitasi.
Kata – kata kunci : Sanitasi, BABS, jamban sehat, keluarga sehat
PENDAHULUAN
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang senantiasa mencurahkan segala nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas analisa literatur dengan judul “Program Inovasi Tok-Tok Jaga Sehat (Jamban Sehat Keluarga Sehat) Dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di UPT Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Kesehatan Lingkungan di Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Lampung.
Pada kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih kepada Drs. Tugiyono, M.Si, Ph.D selaku dosen pengampu mata kuliah Kesehatan Lingkungan yang telah memberikan arahan agar tugas makalah ini dapat diselesaikan.
Rasa terima kasih juga penulis ucapkan teman – teman Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Lampung Angkatan 2023 atas bantuan dan dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan bagi dunia pendidikan, terimakasih.
Latar Belakang
Sanitasi merupakan kunci untuk menciptakan masyarakat sehat. Sanitasi yang baik akan menciptakan sebuah keteraturan lingkungan, meningkatkan produktifitas manusia dan mengurangi pencemaran lingkungan yang akan bermanfaat bagi kelangsungan hidup bagi masyarakat (Bernynda, 2018). Pemberdayaan masyarakat menuju sanitasi yang baik merupakan langkah untuk mewujudkan mutu lingkungan yang sehat.
Demikian halnya jika terjadi sanitasi yang buruk, maka akan mempengaruhi kesehatan penduduk dan memicu berbagai macam penyakit. Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) merupakan pilar pertama dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang terdiri dari 5 Pilar Utama Yaitu Pilar 1 Stop BABS, Pilar 2 adalah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pilar 3 adalah Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT), Pilar 4 adalah Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT) dan Pilar 5 adalah Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PCRT).
Pembangunan jamban sehat yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi menyebabkan masyarakat tidak memiliki tangki septik dengan demikian masyarakat lebih memilih untuk membuang limbah dari jamban ke aliran sungai terdekat serta tidak memperbaiki atau mengubah kontruksi jamban sesuai dengan syarat bangunan jamban yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Berbasis Masyarakat (Prasetyo & Asfur, 2021).
Berdasarkan data dari seketariat STBM tahun 2018 bahwa masyarakat Indonesia 8,70 % masih menumpang jamban sehat atau sharing, sedangkan 21,76 % masih berperilaku buang air besar sembarangan (BABS).
Jamban sehat merupakan jamban yang memenuhi standar bangunan dan syarat kesehatan yaitu tidak menyebarkan bahan berbahaya dan mencegah vektor menyebarkan penyakit terhadap manusia dan lingkungan sekitar. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2019, 72,3% keluarga menggunakan jamban sehat permanen (Kemenkes RI, 2020).
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Paladiang et al., 2020) menyatakan bahwa semakin dekat jarak antara rumah dan sungai, perilaku BABS oleh masyarakat memiliki kecenderungan yang besar. Hal tersebut didukung pula oleh rendahnya masyarakat dalam kepemilikan jamban sehat, sehingga perilaku BABS semakin tinggi.
Dalam penelitian Aulia et al., (2021) menyebutkan bahwa kepemilikan jamban oleh masyarakat dan ketersediaan air bersih memberikan pengaruh terhadap perilaku BABS.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku BABS diantaranya yaitu melakukan edukasi pada masyarakat tentang pentingnya BAB pada jamban sehat, kepemilikan jamban sehat serta memberikan contoh penggunaan dan pengelolaan jamban sehat.
Menurut data yang dilansir pada (stbm.kemkes.go.id) bahwa Provinsi Lampung berada di ranking tujuh terkait pemicuan ODF (Open Defecation Free) , yang sudah dilakukan di 15 kabupaten / kota di Provinsi Lampung. Dan dari 2.270 desa / kelurahan, 1.470 desa / kelurahan di Provinsi Lampung sudah terverifikasi ODF.
Sedangkan untuk perihal akses sanitasi, keberadaan Provinsi Lampung ialah di ranking sepuluh yang ditunjukkan pada nilai 90,68%. Akses sanitasi tersebut dinilai sudah berada di kategori yang tepat, dengan jamban sehat permanen (JSP) sejumlah 1.395.997 jamban.
Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama, sebagai instansi Pemerintah yang bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu kepada masyarakat dan menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan masyarakat di tingkat daerah (Pratiwi, 2020).
Puskesmas merupakan elemen penting yang menunjang Sistem Kesehatan Nasional. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan Sistem Kesehatan Nasional adalah dengan melakukan revitalisasi Puskesmas dalam skala nasional.
Program Inovasi Tok-Tok Jaga Sehat (Jamban Sehat Keluarga Sehat) Dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Di Upt Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung adalah merupakan upaya revitalisasi Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung dalam rangka menekan masalah sanitasi utamanya adalah Stop BABS dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), yang melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya. Diharapkan dalam jangka panjang, Program Inovasi Tok-Tok Jaga Sehat (Jamban Sehat Keluarga Sehat) Dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh sanitasi yang kurang baik, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Kedaton.
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah:
Apakah faktor-faktor yang menyebabkan masalah BABS ?
Bagaimana Program Inovasi Tok-Tok Jaga Sehat (Jamban Sehat Keluarga Sehat) Dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ?
Tujuan
Mengetahui faktor-faktor penyebab masalah BABS.
Mengetahui hal-hal terkait Program Inovasi Tok-Tok Jaga Sehat (Jamban Sehat Keluarga Sehat) Dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
TINJAUAN TEORI
STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) Kementerian Kesehatan telah mempunyai program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebanyak lima pilar, yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.
Perbaikan terhadap sanitasi, lingkungan dan air bersih, secara substansial akan mengurangi tingkat kesakitan dan tingkat keparahan berbagai penyakit sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya.
Menurut Blum, lingkungan merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. Faktor perilaku, akses terhadap pelayanan kesehatan dan genetik merupakan faktor lain yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2007: 107).
Faktor – faktor tersebut tidak dapat berdiri sendiri dalam menciptakan kondisi yang sehat melainkan saling berkaitan satu sama lain. Jamban yang sehat dapat memutus berbagai rantai penyakit.
Jamban sehat harus dibangun, dimiliki, dan digunakan oleh keluarga yang ditempatkan baik di dalam rumah maupun di luar rumah serta mudah dijangkau.
Menurut data dari Kemenkes Tahun 2021 kepemilikan jamban sehat ialah jamban yang berbentuk leher angsa dan berada di dalam rumah dengan proporsi jamban permanen sebesar 72,3%, penggunaan semi permanen tanpa penggunaan konstruksi leher angsa dan memiliki tutup sebesar 18,5%, dan sebesar 9,2% keluarga masih menggunakan jamban komunal atau jamban yang digunakan bersama-bersama (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
Dalam panduan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dijelaskan bahwa jamban sehat yaitu jamban yang memenuhi kriteria bangunan dan persyaratan kesehatan seperti tidak menyebabkan penyebaran penyakit akibat pembuangan kotoran manusia.
Kriteria bangunan jamban yaitu jamban harus memiliki atap, pada lubang pembungan kotoran memiliki bentuk leher angsa, dan bagian bawah jamban terdapat penampung, pengolah serta pengurai tinja/kotoran (Kemenkes RI, 2022).
Stop BABS dan Jamban Sehat
Sanitasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga lingkungan fisik yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan manusia. sanitasi juga merupakan pemeliharaan dan penyediaan sarana dan pelayananan pada pembuangan feses dan urin.
Jika sanitasi pada suatu lingkungan itu buruk maka juga berdampak pada kesehatan masyarakat di lingkungan tersebut. Salah satu sanitasi dasar adalah kepemilikan jamban. Jika kepemilikan jamban masyarakat masih rendah, maka angka BABS akan tinggi dan hal ini dapat mengganggu kesehatan masyarakat (Mukhlasin &solihhudin, 2020).
Sanitasi adalah intervensi yang dilakukan untuk mengurangi keterpaparan masyarakat terhadap penyakit dengan mengusahakan lingkungan yang bersih, guna memutuskan mata rantai penularan penyakit.
Termasuk juga tindakan manajemen pembuangan kotoran hewan, kotoran manusia dan air limbah rumah tangga. Sanitasi terdiri dari perilaku dan fasilitas yang secara bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih (Simpson-Hebert, 1998: 5).
Dampak buruk akibat BABS adalah menyebabkan kontaminasi pada tanah, air, udara, makanan dan juga perkembangbiakan lalat. Sesuai dengan model ekologi, lingkungan buruk dapat menyebabkan penyakit. Berbagai macam penyakit yang timbul akibat kontaminasi-kontaminasi tersebut adalah diare, kolera, disentri, paratiroid, tifoid, hepatitis viral, penyakit cacing, dan beberapa penyakit gastroinsentinal serta infeksi parasite lain. Langkah yang harus ditempuh untuk mencegah penyakit-penyakit ini agar tidak berkembang adalah dengan memperbaiki sanitasi lingkungan dengan menyediakan jamban yang sehat (Muzaffar et al., 2020).
Keputusan menteri nomor 285/2008 mengenai strategi nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menyebutkan bahwa jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit. Jamban sehat merupakan fasilitas sanitasi keluarga yang harus dimiliki oleh setiap rumah.
Salah satu masalah kesehatan yang menjadi penyebab tidak adanya jamban sehat adalah diare (Hayati et al., 2021). Selain itu, WHO juga menyebutkan bahwa diare merupakan penyebab kematian yang paling besar yang mencapai angka 1.400.000 jiwa dalam setiap tahun. Akar dari kematian tersebut adalah berasal dari sanitasi dan kualitas air yang buruk (Sari, 2020). Penelitian lain juga menyebutkan bahwa penyakit diare lebih banyak menyerang pada negara berkembang daripada negara maju ialah disebabkan karena masih sedikitnya air minum yang layak konsumsi, status kesehatan masyarakat, buruknya gizi serta kurangnya kesadaran akan kebersihan dan sanitasi (Savitri & Susilawati, 2022).
Program Inovasi Tok Tok Jaga Sehat
Pemerintah Indonesia melakukan upaya peningkatan akses sanitasi sejak tahun 2006. Salah satu upaya melalui Kementerian Kesehatan adalah melakukan perubahan arah kebijakan dari yang sebelumnya memberikan subsidi perangkat keras menjadi pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada perubahan perilaku Stop BABS menggunakan metode Community Led Total Sanitation (CLTS).
Pendekatan CLTS dikembangkan dengan menambahkan empat pilar perubahan perilaku lainnya yang dinamakan STBM. Sehingga pada tahun 2008, Pemerintah menetapkan STBM menjadi kebijakan nasional melalui Keputusan Menteri Kesehatan No 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Makalah ini memberikan kesimpulan sebagai berikut :
- Perilaku yang tidak mendukung hidup bersih dan sehat dapat mencemari lingkungan seperti Perilaku BABS atau ODF karena tidak memiliki Jamban Sehat di wilayahnya. Untuk mengubah perilaku masyarakat yang mendukung hidup bersih dan sehat membutuhkan komitmen dari para pembuat dan pelaksana kebijakan. Lingkungan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat di samping faktor perilaku, genetik dan akses pelayanan kesehatan.
- Program inovasi Tok Tok Jaga Sehat di UPT Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan dan penggerakan masyarakat dengan metode pendekatan dan pemicuan. STBM Pilar 1 Stop BABS dengan memiliki Jamban Sehat merupakan acuan dalam penyusunan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta verifikasi yang terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat untuk mencapai kelurahan STBM menuju sanitasi aman untuk memenuhi 5 Pilar STBM Selanjutnya.
Saran
Adapun saran dari makalah ini adalah :
- Dibutuhkan regulasi ataupun aturan yang tegas dibuat oleh instansi setempat. Dengan melaksanakan kegiatan membuang air limbah, atau kegiatan yang berhubungan dengan sanitasi secara sembarangan. Sanksinya dapat berupa pemberian efek untuk tidak mau mengulangnya.
- Perlunya penyusunan rencana kegiatan lebih rinci untuk program inovasi tok tok jaga sehat, antara lain dengan berkoordinasi dengan lintas program dan lintas sektor dan melibatkan kader kesling dalam pelaksanaan. Hal ini dapat menjadi katalisator pencapaian kelurahan STBM 5 pilar di wilayah kerja UPT Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, G., & Medong, A. (2022). Permasalahan Gizi, Stunting dan Dampaknya pada Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal Lontok Leok, 4(1), 1–10. https://jurnal.unikastpaulus.ac.id/index.php/jllpaud/article/view/909.
Savitri, A. A.-Q., & Susilawati, S. (2022). Literature Review: Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita. FLORONA: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 1(2), https://doi.org/10.55904/florona.v1i2.311
Agustina, D., Khairiah, A., Ramadhani, A., & Azmi, P. A. (2022). Sikap Masyarakat Tentang Pemanfaatan Jamban Keluarga Di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Nelayan, Kelurahan Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan. Jurnal Abdi Mas Adzkia, 2(2), 81. https://doi.org/10.30829/adzkia.v2i2.10284
Azzarrah Ilmi & Kurniawan B (2021). Implementasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Publika. Volume 9 Nomor 4, Tahun 2021, 573-586
Purnama Fenita dkk (2021). Penerapan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan Kejadian Diare pada Balita. Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 20 N0 1 Tahun 2021.
Herniwanti dkk (2021). Penyuluhan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai Support Program Kesehatan Lingkungan Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Abdidas Vol 2 No 2 Tahun 2021, 435-441
Muaja Maria, Pinontoan Odi & Sumampouw Jufri (2020). Peran Pemerintah Dalam Implementasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Stop Buang Air Besar Sembarangan. Indonesian Journal of Public Health and Community Medicine Vol. 1, No. 3 Juli 2020, 28-33. (*).









