Harianpilar.com, Bandarlampung – Bawaslu Kota Bandarlampung menyerahkan Buku Mengenal Bawaslu Kota Bandar Lampung : Analisis Proses dan Hasil Pengawasan kepada Ketua Bawaslu Republik Indonesia, Abhan, S.H., M.H. di Jakarta, Selasa (16/03/2021).
Buku diserahkan langsung oleh Kordiv. Penanganan Pelanggaran, Bawaslu Kota Bandarlampung Yahnu Wiguno Sanyoto, S.I.P., M.I.P., bersama dengan Ketua Bawaslu Kota Bandarlampung Candrawansah, S.I.Kom., M.I.P., dan Kordiv Hukum Yusni Ilham, S.Sos.I., M.H., dengan didampingi Ketua Bawaslu Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, S.H.I., M.H
Yahnu mengatakan, Buku itu mengupas secara kompilatif hasil pengawasan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 terkait pelaksanaan fungsi pengawasan yaitu, pencegahan, penanganan pelanggaran, dan penyelesaian sengketa.
Menurutnya, buku itu menjadi penting untuk mengisi ruang Pojok Pengawasan Bawaslu Republik Indonesia sehingga dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh pengunjung Pojok Pengawasan.
“Apalagi kita tahu, bahwa beberapa hari terakhir rencana revisi Undang-Undang Pemilu dibatalkan sehingga kompleksitas pelaksanaan Pemilu 2024 harus segera diantisipasi dan diwaspadai agar kejadian dan permasalahan Pemilu 2019 tidak terulang kembali,” terangnya.
Tentu, lanjut dia, melalui buku itu sebagai bahannya, pihaknya berharap evaluasi sekaligus proyeksi Pemilu maupun Pilkada yang akan datang menjadi lebih baik dalam rangka memperbaiki kualitas demokrasi, baik di tingkat nasional maupun lokal.
“Karena semangat dari Pemilu/Pilkada ini adalah melahirkan pemimpin rakyat yang humanis, berintegritas, dan legitimate sekalipun didalam prosesnya penuh dengan tantangan dan pergulatan sosial politik yang cukup menguras tenaga, pikiran bahkan dana yang tidak sedikit,” ungkapnya.
Disampaikannya, Bawaslu Kota Bandarlampung dengan segala potensi kelembagaan yang ada dan melekat dengan tugas, wewenang, serta kewajibannya, terus mendorong generasi muda yang ada saat ini untuk mencintai dunia kepengawasan pemilu, sehingga ruh dan ghiroh Pengawas Pemilu tidak kehilangan jati dirinya karena dimakan oleh waktu.
“Semoga buku yang telah disusun ini berguna untuk khalayak ramai dan generasi berikutnya dalam pembangunan demokrasi. Kita harus ingat bersama bahwa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Maka dari itu, perubahan dari generasi ke generasi adalah sebuah keniscayaan dan tidak mungkin dihindarkan,” pungkasnya. (Ramona)









