Harianpilar.com, Jati Agung – Proyek pengerasan jalan onderlagh di Desa Rejo Mulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, melalui Dana Desa tahun 2020 dinilai sangat merugikan negara.
Pasalnya, ada beberapa item pekerjaan yang diduga kuat tidak dilaksanakan, seperti; pemasangan pasir dasar dan batu pengunci berukuran 5-7. Kemudian, pasangan batunya tidur, sehingga mengurangi volume kubikasi batu dan berem pinggir pasangan batu onderlagh.
Ketua LSM Koalisi Percepatan Pemberantasan Korupsi (KPPK) Provinsi Lampung, Suhardi DS mengatakan pihaknya akan melakukan investigasi tentang pembangunan pengerasan jalan onderlagh yang didanai melaluiDana Desa tahun 2020.
“Kami akan melakukan investigasi ke lapangan untuk mencari data dan ketarangan dari berbagai sumber untuk menguak dugaan carut marutnya proyek onderlagh di Desa Rejo Mulyo,” katanya, Selasa (25/08/2020).
Sebab kata Suhardi proyek tersebut diduga kuat merugikan negara. “Makanya, untuk menguak kebenaran berapa besar kerugian negaranya, kami akan hitung secara keseluruhan,” tukasnya.
Sebab menurut Suhardi, apabila dilitik dari pemasangan batunya, memang diduga menyelahi besaran teknis (Bestek) karena pemasangan batuinya tidur.
“Ini bisa mengurangi volume kubikasi batu. Semua bisa dihitung, karena ada teknis cara menghitung volume kubikasi pasangan batu onerlagh. Nah… berapa harga batu setiap kubikanya. Nanti akan ketahuan,” jelas dia.
Belum lagi pasangan pasir dasar, dan batu pengunci. Semua akan dihitung, sehingga ketahuan kerugian negaranya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, setelah semua data dan keterangan sudah lengkap, pihaknya akan melaporkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kalianda agar dapat memerosesnya.
Diberitakan sebelumnya, sebelum dilakukan pemasangan batu onderlagh tidak dipasangang pasir landasan. Kemudian, pemasangan batunya juga tidur. Dan parahnya lagi betu berukuran 10-15 cm terlihat lebih sedikit ketimbang batu 5-7 cm. Padahal, batu 5-7 tidak masuk dalam rencana anggaran biaya (RAB).
Salah seorang warga yang tidak mau disebut namanya mengatakan lebar jalan onderlagh 3 meter. Sebelum dipasang batu, terlebih dahulu tidak dilandasi pasir, pasangan batunya juga terlihat tidak berdiri.
Dia mengatakan bahwa antara batu berukuran 10-15 dengan batu kerikil kecil yang lainnya tidak dipisah. “Kami tinggal memasang saja,” kata dia.
Sunar, warga setempat mengatakan dirinya ikut menata pemasangan batu onderlagh di samping rumahnya. Dia menceritakan sebelum batu dipasang, terlebih dahulu tidak dipasang pasir landasan. “Memang tidak dipasang pasir landasan,” katanya.
Kepala Dusun III Hardi mengatakan pemasangan onderlagh di dusunnya tersebar dibeberapa titik sepanjang 500 meter. Namun sayangnya dia tidak tahu secara rinci.
Pj Kepala Desa Rejomulyo Rusdiwanti, SE enggan dikonfirmasi. “Langsung saja ke Sekretaris Desa,” katanya dengan meninggalkan wartawan.
Sekretaris Desa Rejo Mulyo Hartono,mengatakan proyek onderlagh di desanya tahun 2020 sepanjang 2.436 km. Itu tersebar di lima dusun. “Yang tidak mendapat proyek onderlagh hanya Dusun 4 dan Dusun Tri Kora,” katanya.
Dia mengatakan pelaksananya dikekola oleh tim desa yang kordinatornya Kepala Urusan (Kaur) Perencaan dan Pembangunan Mawardi.
Dia mengungkapkan pemasangan batu onderlagh dimulai dari batu berukuran 10-15 dahulu, kemudian dikunci dengan batu berukuran 5-7.
Dia mengakui bahwa sebelum dilakukan pemasangan batu, memang tidak dilakukan pemasangan pasir dasar. “Kami langsung siram pasir atas dengan ketebalan yang luar biasa. Tujuannya apabila terkena air hujan, pasir akan masuk ke pori-pori atau sela-sela rongga atar batu, sehingga bisa rapat,” tukasnya.
Berbeda dengan Kepala Urusan (Kaur) Perencaan dan Pembangunan Mawardi. Dia mengatakan bahwa untuk pemasangan onderlagh, hanya menggunakan batu berukuran 10-15. “Kami tidak memakai batu berukuran 5-7, karena di spek tidak ada, ” tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa sebelum memasang batu onderlagh, memang tidak dilapisi pasir dasar dengan alasan tidak akan menggigit pasangan batu.
“Kami selalu wanti-wanti kepada pekerja agar pemasangan batu dilakukan secara berdiri dengan harapan agar celah antara batu bisa dikunci dengan urugan pasir. Pasir urugnya sangat tebal, sehingga pasir masuk ke rongga antar batu,” tukasnya.
Begitu ditanya dana untuk ngamprah pasir dasar kemana, dia mengatakan nanti akan ada plus minus.
Sedangkan dusun yang tidak mendapat jatah kata dia, Dusun 4 dan Dusun 5. “Bukan Dusun 4 dan Dusun Tri Kora sebagaimana kata Sekdes,” katanya.
Sementara menurut pegawai PU Lampung Selatan yang tidak mau namanya ditulis mengungkapkan bahwa pemasangan batu onderlagh menggunakan batu berukuran 10/15 cm. Batu pokok diletakkan pada badan jalan dengan metoda penyusunan permukaan batu yang mengarah ke tanah cenderung runcing.
Kemudian batu tepi memiliki kisaran ukuran lebih besar dari batu pokok (15/20 cm), disusun sepanjang jalan hanya pada dua sisi tepi (kiri kanan) badan jalan, fungsinya untuk menjaga stabilitas batu pokok agar tidak tergeser ketepi saat adanya beban bergerak melintasi permukaan badan jalan tersebut.
Batu pengunci, biasa disebut batu penutup antara bidang atas batu pokok yang keliatan masih ada ruang lekukan dan perlu ditutup, sehingga bidang batu pokok secara utuh saling mengunci, beda jika bidang tadi hanya ditutup dengan pasir urug yang kemudian mengalami abrasi. Batu pengunci biasa dipakai berukuran 5-7 cm.
Kemudian pasir urug, memiliki ukuran gradasi tertentu, jenis pasir urug gunanya untuk mengisi selah pori pori dari struktur batu pokok yang telah disusun. Fungsi pasir urug juga mengurangi gesekan antar batu pokok yang bisa mengakibatkan batu tersebut mengalami keretakan akibat beban yang ditanggungnya. Secara umum pengisian pasir urug ini untuk mengisi ruang antara batu pokok dengan batu pokok, batu pokok dengan batu tepi, batu pengunci dengan batu pokok dan batu pengunci dengan batu tepi. Selain itu juga digunakan pada lapisan bawah batu (sebelum disusun batu) yang bisa mengisi pori pori tanah dasar. (Mar)









