oleh

Operator SDN 1 Banjar Agung tak Masuk Kerja Dua Tahun, Kadisdik Lamsel Diduga Tutup Mata

Harianpilar.com, Lampung Selatan – Dengan tidak masuknya tenaga operator SDN 1 Banjar Agung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) Mutiara Insani, selama dua tahun, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Thomas Americo, diduga tutup mata.

Pasalnya, di setiap sekolah ada pengawas yang bertugas mengawasi jalannya proses kegiatan belajar mengajar (KBM), termasuk mengecek kehadiran guru dan operator sekolah.

Ketua LSM Aliansi Indonesia, Kabupaten Lampung Selatan Mistorani menjelaskan tugas pengawas yakni; pertama, melakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah.

Kedua, melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya, dan melakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah.

“Ini kan pengawas pasti tahu, kalau operator tidak masuk kerja selama dua tahun. Pengawas pasti melaporkan atas kejadian tersebut ke Kadisdik Lamsel, melalui Kabid Dikdas. Makanya, Kadisdik Lamsel pasti tahu kejadian tersebut. Nah, tapi ini sudah berjalan sampai dua tahun. Ini kan berarti ada semacam pembiaran,” tegas Mistorani, Minggu (21/06/2020).

Lebih lanjut dia mengungkapkan perlakuan seperti itu, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada tindakan nyata dari Disdik Lamsel. “Apabila itu dibiarkan terus-menerus dikhawatirkan akan merembet ke sekolah lain. Sekarang tinggal ada apa ga keberanian Disdik Lamsel melakukan action,” tukasnya.

Mistorani mengatakan dengan absennya tenaga operator SDN 1 Banjar Agung, memperburuk dunia pendidikan di Lampung Selatan. Sebab tugas-tugas rutin di sekolah dipastikan akan terganggu.

Apabila hal tersebut dibiarkan berlarut-larut akan berdampak ke sekolah lain. “Kalau itu dibiarkan dikhawatirkan akan merembet ke sekolah lainnya,” kata Mistorani.

Lebih lanjut dia mengatakan anehnya kendati tidak pernah masuk kerja, tapi oknum operator tersebut tetap menerima honor dari sekolah. “Itu pastinya oknum kepala sekolah melindungi tindakan operator tersbut. Itu karena Mutiara Insani masih anak kandung oknum kepala sekolah,” kata Mistorani.

Sejak dua tahun Mutiara Insani diangkat sebagai tenaga tenaga operator hanya sekali masuk kerja.  “Sejak dua tahun yang lalu Mutiara Insani diangkat sebagai operator sekolah, dia hanya bekerja sehari,” kata guru.

Akibatnya, proses data pokok pendidik (Dapodik), pemetaan mutu pendidik (PMP), Ketatausahaan, calon peserta ujian nasional, standar pelayanan minimal (SPM), verval peserta didik (PD) dan beberapa kegiatan lainnya di sekolah tersebut sangat terganggu.

Bukan hanya pada persoalan operator, tapi juga rehab usaha kesehatan sekolah (UKS) juga diduga bermasalah.

Pasalnya, Indrawan sebagai ketua komite tidak mengetahui adanya rehab geduang UKS sedang berjalan. “Saya malah tidak tahu kalau di sekolah ada pekerjaan fisik rehab gedung UKS,” kata Indrawan, Senin 15/06/2020).

Dia meneritakan sebelumnya memang Kepala SDN 1 Bajar Agung Misliana, S.Pd meminta kepada dirinya untuk mengecek sejauhmana kerusakan gedung yang bersebelahan dengan perpustakaan.

“Saya periksa semua, sampai naik ke atap, tapi sampai sekarang tidak ada informasi akan direhab. Saya kaget kalau gedung UKS sedang direhab. Pekerjanya darimana, dananya berapa, uang yang digunakan darimana, saya tidak tahu,” tukasnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gedung UKS dikerjakan oleh dua orang warga Gang Tirta, Tanjung Seneng. Mereka mengaku dibayar Rp125.000 per hari. “Kami berdua tukang semua. Kami upah harian. Setiap hari dibayar Rp125.000,” kata dia.

Kepala SDN 1 Bajar Agung Misliana mengatakan di sekolah yang dipimpinnya memang ada satu tenaga operator. Setiap bulan operator selalu ada pekerjaan.

Ketika ditanya memang kerja operator cukup dari rumah, Misliana mengatakan dari dinas sering memerintahkan kepada pihak sekolah secara mendadak yang keesokan harinya harus segera dikumpul. Jadi, pekerjaan tersebut dilembur di rumah,” katanya.

Namun demikian, kata dia operator kan bukan karyawan yang setiap hari harus berangkat ke sekolah. “Kami memberi honor ke operator berdasarkan seberapa banyak pekerjaan tersebut. Jadi besar kecilnya uang honor tidak menentu. Pokoknya disesuaikan dengan keuangan sekolah. Karena operator kan freelance,” kata dia, di kantornya, Selasa (16/06/2020).

Berdasarkan anjuran Dinas Pendidikan Lampung Selatan setiap sekolah harus ada tenaga operatornya. Namun kejadian di lapangan di Jati Agung, kata dia, beberapa sekolah mengangkat satu operator saja. “Banyak sekolah di Jati Agung hanya mengangkat satu orang tenaga operator saja,” tukas dia. (mar)