oleh

Dokter RSUD Ryacudu Kotabumi Mogok Kerja, Pasien Terlantar

Harianpilar.com, Lampung Utara – Ada kejadian yang tak lajim yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ryacudu Kotabumi. Pada Kamis (14/11/2019) para dokter yang bertugas di rumah sakit pemerintah kabupaten Lampung Utara (Lampura) tidak ditemukan masuk kerja untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Akibatnya, banyak pasien yang mengeluh dikarenakan tidak terlayani secara maksimal oleh rumah sakit. Semisal, Zamjaya, salah satu pasien yang melakukan pengobatan disana. Dirinya terpaksa harus menunggu di hari Senin (18/11/2019) untuk bisa dilayani oleh dokter yang menanganinya.

“Ya kecewa sih pak, jauh-jauh datang berobat terpaksa ditunda Senin karena dokter tak ada,” keluh pria tua asal Kecamatan Abung Pekurun itu.

Pantauan ternyata diberbagai poli klinik pun tak terdapat dokter yang stanbay. Desas  desus yang beredar para dokter yang bertugas di RSUD Ryacudu ‘mogok’ lantaran honor jaya pelayanan kesehatan mereka sudah lima bulan lebih belum terbayarkan.

Plt. Direktur RSUD Ryacudu, Syah Indra Husada saat dihubungin melalui telepon seluler beberapa kali tidak mengangkat.

Kemudian awak media mencoba meminta klarifikasi kabar ‘mogoknya’ para dokter tersebut kepada Kepala Tata Usaha RSUD Ryacudu, Merdatina dan bagian Humas, Entina. Saat itu baik Merdatina maupun Entina membantah bahwa ketiadaan dokter hari ini diakibatkan para dokter sedang ‘mogok’ kerja. “Tidak ada yang mogok kerja. Mereka sedang ada acara di luar kalau gak salah seminar,” kelit Merdatina diamuni Entina.

Saat ditanya apakah acara seminar wajib hukumnya ketimbang melakukan pelayanan kesehatan publik yang menjadi kewajiban para dokter, mereka enggan berkomentar lebih lanjut.

Terpisah, kinerja pelayanan RSUD Ryacudu yang buruk itu mendapat sorotan dari Ketua Pemuda Muhammadiyah Lampung Utara, Merwan.

Organisasi Kepemudaan (OKP) ini menilai pelayanan RSUD saat ini sangat buruk. Sistem pelayanan disana amatlah bobrok. Aktivis kepemudaan ini menyatakan keprihatinannya atas kondisi rumah sakit milik pemerintahan daerah ini. Betapa tidak, hanya dengan alasan belum menerim honor jasa layanan kesehatan para dokter melupakan sumpah dan janji profesinya yang mengedepankan pelayanan kesehatan masyarakat ketimbang persoalan lainnya.

“Ini kan parah, sudah tidak ada perasaan kemanusiaan lagi mereka. Apapun alasannya hak kesehatan publik harus terpenuhi terlebih dahulu. Ini ada kesalahan manajemen kepemimpinan disana. Ini harus ada tindakan tegas dari Bupati,” seru Merwan melalui sambungan telepon Kamis (14/11/2019).

Lebih lanjut dia menuturkan, bahwa pelayanan  kebutuhan dasar masyarakat dibidang kesehatan di RSUD Ryacudu sudah tidak lagi berjalan. Semisal ketersediaan obat-obatan yang tidak ada yang  memaksa pasien untuk membelinya di luar dengan harga yang lebih tinggi.

“Hal terkecil saja, seperti stock obat pencegah infeksi luka juga tak terdapat disana dengan alasan keterputusan dengan pihak BPJS. Hal ini harus segera diatasi dengan trobosan-trobosan pimpinan. Sistem menajemen rumah sakit saat ini amburadul yang membuat kita semu prihatin,” pungkasnya. (Iswanto/yoan/Maryadi)