Harianpilar.com, Metro – Petani di Metro tidak mendapatkan air pada musim gaduh tahun ini. Sebanyak 1500 Ha lahan sawah tak dapat ditanami. Diprediksi produksi padi Kota Metro mengalami penurunan mencapai 8400 ton gabah kering panen yang setara dengan 4500 ton beras. Pasalnya, per hektar bisa memproduksi mencapai rata-rata 5,6 ton. Hal itu terungkap dari Dinas Pertanian setempat, Senin (17/06/2019).
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Wiji mengatakan saat ini pihaknya sedang berupaya meminta provinsi untuk bisa mengaliri air. Pasalnya, SK gubernur mengisaratkan agar petani di Metro mendapat pasokan air gaduh.
“Sk gubernur tidak akan ada pembatalannya, sedangkan dalam SK tersebut tertera mendapatkan air dari Balai Pengelolahan Sumber Daya Air Sekampung Sistem melalui kanal I,”ujarnya. Sementara Balai tidak memberikan air kepada Kota Metro. Hal itu dipertanyakan dinas pertanian Kota Metro.
Hingga hari ini air tidak mengalir, makanya petani tidak menanam padi. “Ada seluas 1500 Ha lahan sawah yang tidak bisa ditanami akibat tidak mendapat pasokan air,”ucapnya.
Selama beberapa tahun ini produksi padi Kota Metro mengalami surplus hingga 3000 ton. “Makanya dengan tidak ada air, berimbas produksi padi Kota Metro mengalami penurunan hingga 8400 ton padi,”tuturnya.
Ditambahkannya, pemkot sudah mengusulkan untuk bisa mendapatkan air ke Balai Pengelolahan Sumberdaya air Sekampung Sistem, namun hingga kini belum ada realisasinya. “Intinya kita akan gagal panen gaduh tahun ini, karena tidak mendapatkan pasokan air,”ucapnya.
Menurut Wiji, dari dinas akan menghadap gubernur Lampung untuk meminta agar pasokan air diberikan dari BPSDA Sekampung Sistem.
Dikatakannya, salah satu cara untuk mengantisipasi pasokan air adalah dengan membangun embung-embung dan sumur bor. “Kedepan akan kita coba usulkan untuk pengadaan embung dan sumur bor dibeberapa areal pertanian padi guna mengatisipasi terhentinya pasokan air,”tambahnya. (Zuli)









