Harianpilar.com, Bandarlampung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung didesak melakukan inventarisir seluruh aset Asphalt Mixing Plant (AMP) dan alat berat yang dimiliki oleh Dinas Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sehingga bisa diketahui seperti apakondisinya dan selamaini digunakan untuk apa.
Jika memang selama ini alat berat itu disewakan untuk proyek JTTS, maka hasilnya harus masuk dalam Penghasilan Asli Daerah (PAD). Sehingga perlu dihitung berapa jumlah PAD dan berapa nilai sewanya.”AMP dan alat berat milik PUPR Lampung itu harus di inventarisir lagi, biar jelas jumlah dan kondisinya.Pemprov harus beriskap tegas,” ujar Tim Kerja Institute on Corruption Studies (ICS), Apriza, saat dimintai tanggapannya, Selasa (04/12/2018).
Menurutnya, jika memang selama ini alat berat di sewakan untuk JTTS maka perlu diketahui nilai kontraknya dan masuk menjadi PAD atau tidak.”Harus ditelusuri seperti apa penggunaan alat berat selama ini.Dan alat yang diduga dicuri juga harus didata apa saja dan kondisinya seperti apa, karena semua itu aset pemerintah,’ pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lampung memiliki Asphalt Mixing Plant (AMP) di Jalan Soekarno Hatta. Namun, sejumlah alat AMP itu diduga dicuri. Dari informasi yang di himpun, AMP itu selama ini diam-diam disewakan untuk pengerjaan proyek jalan tol trans Sumatera (JTTS).
Masalah ini mencuat setelah jajaran Polsek Panjang menemukan sejumlah komponen AMP di gudang tidak terpakai saat patroli di Jalan Soekarna – Hatta, baru-baru ini.
Selain itu, polisi juga menyita mobil pick warna Nopol BE-9646-EO dan membawa dua orang yang berada di lokasi tersebut ke Polsek Panjang.
“Kami masih menunggu surat pembuktian atas mesin-mesin tersebut dari Dinas PUPR Lampung,” kata Kanit Reskrim Polsek Panjang, Ipda Hasanusi, seperti dilansir fajarsumatera.com.
Kepala Sub Bagian Umum Dinas PUPR Lampung, Dzikri, saat dikonfirmasi soal penyewaan alat berat itu untuk proyek JTTS terkesan menghindar. Berulang kali ditanya soal itu, Dzikri selalu mengelak dengan menyuruh wartawan datang ke kantornya.”Kekantor sajalah, biar jelas,” ungkapnya.
Saat kembali ditanya soal itu, Dzikri tetap tidak menjawab dan menyuruh wartawan datang ke kantornya. Sementara, Dzikri sendiri saat ditanya apakah sedang dikantor, ternyata tidak.”Saya dirumah ada acara keluarga,” kilahnya.(Maryadi)









