Harianpilar.com, Bandarlampung – Pihak RSUDAM membantah adanya dugaan bayi tertukar di ruang Delima RSUDAM yang dilahirkan pada Senin(9/07/2018) minggu lalu atas nama pasien Diana Kurniawati.
Pasalnya, hal tersebut terjadi dikarenakan adanya miss komunikasi antara pihak keluarga dan tenaga medis yang menangani pasca kelahiran.
Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Sub Bagian (Kasubag) RSUDAM, Ahmad Sapri.
Dia mengatakan bahwa sebelumnya pada Sabtu (21/07/2018) Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) kebidanan dr. Zulkarnaen, Sp. Obg telah memberikan penjelasan detail mengapa bayi yang dilahirkan bisa berubah jenis kelaminnya.
“Kondisi yang terjadi pada pasien prematur usia kehamilan 30 minggu itu organ yang terbentuk sempurna hanyalah kepala dan otak. Sementara paru-paru dan sistem pernapasan mendekati sempurna dan untuk jenis kelamin mulai berkembang klitoris dan skrotum yang muncul meski belum sempurna, perkembangan jenis kelamin akan sempurna setelah usia bayi 3-10 hari kemudian. Jadi identitas pada bayi tersebut saat awal lahir memang belum dapat teridentifikasi dengan sempurna,” jelas Sapri menirukan penjelasan dari DPJP.
Dengan begitu, dalam hal kejadian seperti ini pasien atau bayi tersebut sama sekali tidak ada bayi tertukar ataupun keliru.
“Karena semua bayi diberikan barcode dan nomor registrasi. Semua tindakan di Ruang Delima sudah sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) Ini hanya karena perkembangan jenis kelamin yang belum sempurna, sehingga identitas bayi belum jelas dikarenakan pasien prematur (perkembangan organ yang belum sempurna),” terangnya lagi.
Lanjut Sapri, setelah diberikan penjelasan oleh pihak RSUDAM, diketahui pihak keluarga pasienpun dapat menerimanya dan merasa puas dengan penjelasan yang diberikan.
“Begitu dijelaskan keluarga pasien percaya, menerima serta merasa puas atas penjelasan dari petugas, dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang telah diberikan dari pihak RSUDAM karena anaknya selamat dan sehat,” tukasnya.
Dan saat ini, lanjut dia, bayi tersebut masih dirawat di RSUDAM dengan kondisi bayi berangsur-angsur membaik dan sedang diberikan edukasi tentang cara menyusui bayi dengan baik dan benar karena bayi prematur sangat rentan terhadap aspeksia (kesedek). (Ramona/Maryadi)









