Harianpilar.com, Tulangbawang Barat – Proyek jasa konstruksi fisik pembangunan pasar rakyat Dayamurni milik Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tulangbawang Barat (Tubaba) menelan anggaran hingga RpRp5,7 Miliar, namun secara kualitas cenderung murahan. Betapa tidak bagian atap proyek yang menggunakan dana APBN itu hingga kini masih mengalami kebocoran.
Dari pantauan Harian Pilar hingga Senin (23/07/2018) malam, masih ditemukan adanya bagian plafon proyek ini yang bocor. Hal ini menguatkan dugaan jika pengerjaan proyek itu sarat masalah sehingga secara kualitas meragukan. Anehnya, proses ini justru lolos dalam provisonal hand over(PHO).
“Indikasi penyimpangan proyek Pasar Dayamurni itu cukup jelas. Sebab dari proses tendernya saja sudah banyak kejanggalan. Proyek bernilai Rp5,7 Miliar tapi penawran pemenang tender hanya turun 0,19 persen dari HPS itu sudah sangat janggal, bahkan bisa diketakan percuma dilakukan tender. Sebab, tender itu tujuannya agar pemerintah mendapatkan rekanan yang bekerja baik dengan harga yang efesien,” ujar Ketua Solidaritas Lembaga Independen Daerah (Solid), Suadi Romli, Senin (23/07/2018).
Yang lebih aneh lagi, lanjutnya, penawaran pemenang tender sangat minim penurunnya tapi kualitas pekerjaanya juga meragukan. Secara logika, jelasnya, harusnya pekerjaan itu memiliki kualitas yang baik dan bertahan lama.”Disinilah kejanggalan itu semakin terlihat. Ada apa kok penawaran sangat minim penurunnya tapi kualitas tidak baik. Dan kenapa pula ini lolos dalam PHO? Apa lagi atap saja bocor hingga kini, itu menunjukkan besaran anggaran yang dihabiskan berbanding terbalik dengan kondisi proyek,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Proyek jasa konstruksi fisik pembangunan pasar rakyat Dayamurni Kabupaten Tulangbawang Barat tahun 2017 milik Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) diduga kuat sarat penyimpangan. Indikasi ‘permainan’ dalam pelaksanaan proyek itu terlihat mulai dari proses tender hingga pelaksanaan di lapangan.
Dari dokumen yang diperoleh Harian Pilar, menemukan fakta pada proses tender proyek ini diduga kuat sarat permainan, hal itu terlihat dari peserta yang memasukan penawaran seluruhnya hanya turun 0,1 persen. Dalam tender proyek ini terdapat 23 perusahaan yang mendaftar, namun yang memasukkan penawaran hanya tiga perusahaan dengan penawaran sama-sama hanya sekitar 0,1 persen dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yakni PT. Nai Nau Nam Mandiri dengan penawatan Rp5.689.990.000 hanya turun Rp9 juta atau 0,15 persen dari HPS, CV.Adam Jaya dengan penawaran Rp5.690.680.000 hanya turun Rp8,3 juta atau 0,14 persen dari HPS, dan PT. Jata Duta Mandiri yang menjadi pememang tender memasukkan penawaran Rp5.687.740.000 hanya turun Rp11,2 juta atau 0,19 persen dari HPS. Kuat dugaan keseluruhan penawaran bisa mendekati HPS itu akibat tender dikondisikan atau dibawah satu kendali.
Parahnya, meski dalam tender penawaran PT. Jaya Duta Mandiri hanya turun 0,19 persen dari HPS, pengerjaan proyek yang menggunakan dana APBN itu justru terindikasi bermasalah. Pasalnya, meski baru diresmikan kondisi bangunan proyek itu sudah memprihatinkan. Di beberapa bagian atap sudah mengalami kebocoran hal itu terlihat dari beberapa bagian plafon yang sudah menghitam. Di bagian lantai juga sudah retak-retak dan mengelupas, bahkan saluran air di lokasi pasar ini tidak lancar itu terlihat dari bagian lantai yang dirusak untuk saluran air.
“Ya mas plafonnya aja sudah menghitam gitu, sepertinya karena atap ada yang bocor jadi plafon terkena air kalau hujan,” ujar salah satu pedagang yang enggan menyebutkan namanya, baru-baru ini.
Menurutnya,pedagang tidak banyak mengetahui persoalan pembangunan proyek itu.”Waduh takut kalau banyak ngomong mas. Kami pedagang gak banyak tau soal pembangunannya,tanya yang lain aja ya,” kilahnya.
Sementara, pihak Diskoperindag Tubaba hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi.(Epriwan/Maryadi)










