oleh

Densus 88 Kembali Amakan Terduga Teroris

Harianpilar.com, Pringsewu – Tim Densus 88 kembali mengamankan terguga tertoris atas nama PP, warga Waringinsari Barat, Pringsewu, sekitar pukul 14.30, Kamis (21/06/2018).

Kepala Pekon Waringinsari Barat, Woto Suswoyo, menjelaakan terduga teroris merupakan warganya yang lahir pada tanggal 10 Oktober 1976.
Saat diamankan, terduga terotis mempunyai aktivitas sebagai pedagang telur keliling dan terakhir sebagai tukang bangunan.

Woto menjelaskan terduga teroris yang yang beralamat di Dusun IV, RT VIII, memiliki aktivitas keagamaan tergabung dengan dua orang yang sudah ditangkap beberapa waktu lalu.

Menurut pengamatan keluarganya, tambah Woto, diduga ada kelompok lain yang memisahkan diri dengan kelompoknya saat ini.
Menurut Woto, di pekonya juga sempat ada salah satu warga yang merekrut warga lain untuk bergabung dengan jamaahnya.
Dia menambakan saat di amankan sekitar 14.30,  di rumahnya,  terduga teroris tidak melakukan perlawanan. Penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88, ada barang bukti (BB): motor, KK, KTP, dan empat buah telepon genggam. Saat ini rumah tetduga teroris telah dipasang garis polisi.
Woto mengaku baru diajak anggota Densus 88, hanya untuk menyaksikan saat penggeledahan rumah usai penangkapan terduga.

Sebelumnya, Tim Densus 88 juga mengamankan terduga teroris di Pringsewu. Terduga tersebut bernama Hendro (32) warga Dusun III RT VII Pekon Waringinsari Barat, yang ditangkap pada Minggu (3/06/2018) sekitar pukul 19.00.

Penangkapan Hendro dilakukan di kediamannya tanpa perlawanan. Belasan personel polisi datang ke Pekon Waringinsari Barat, langsung menuju ke rumah terduga teroris.

Hendro sebelumnya di kabarkan kabur saat penangkapan dua terduga teroris Ujang dan Imron. Namun usai magrib sekitar pukul 19.00 Densus 88 dan jajaran Polda Lampung, langsung menuju rumah Hendro dan di dapatkan terduga teroris berada di kediamannya.

Kepala Pekon Waringinsari Bara Woto Siswoyo, Senin (4/06/2018) pagi menceritakan kronologis penangkapan yang berlangsung singkat. Woto mengaku hanya menyaksikan penggeledahan rumah terduga teroris, sedangkan saat penangkapan mutlak dilakukan aparat.

Hendro kata Woto, kesehariannya bekerja sebagai penjual motor tua/antik dan mobil bekas serta fried chiken. “Awalnya hanya menjual chiken, karena dapat modal warisan sehingga usahanya tambah jual beli mobil bekas,” kata dia.

Terduga teroris yang memiliki tiga anak itu, kata dia, kesehariannya lebih terbuka dengan masyarakat sekitarnya, hanya pahamnya terlihat radikal.

Hendro juga terlihat anti pemerintah, bahkan dalam proses demokrasi mulai dari pilihan kepala pekon sampai pilihan presiden, yang bersangkutan tidak mau aktif menyalurkan hak politiknya.

Terkait pemasangan bendera merah putih tambah Woto, terduga teroris sama dengan keyakinan Ujang dan Imron yang telah lebih dulu di tangkap, juga tidak mau pasang bendera meskipun sudah di perintahkan oleh kepala pekon. Bahkan, Hendro terkesan sangat benci dengan orang-orang pemerintahan yang di buktikan dengan tidak mau jabat tangan dengan kepala pekon. “Tegur sapa dan jabat tangan tidak mau dengan saya,” ungkap Woto.

Menurutnya bergabungnya Hendro dengan par terduga teroris lain dimungkinkan belum lama, sebab istri Hendro ternyata adik istri terduga Imron. Hendro asli kelahiran Sukoharjo III, Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu. (Mar/Lps)