Harianpilar.com, Bandarlampung – Usai menghadiri deklarasi tolak dan lawan politik uang dan sara, yang digelar oleh Bawaslu Lampung di Lapangan Saburai Korem 043/Gatam, Calon Gubernur M. Ridho Ficardo berjalan kaki menuju Lampung Elephant Park (Taman Gajah) Rabu (14/02/2018) siang.
Selain mengecek pembangunan taman gajah, Ridho juga menyapa masyarakat dan komunitas yang tengah melakukan aktifitas disana.
Sambil mencoba bermain basket dengan komunitas basket, Ridho Ficardo mencoba menyerap masukan-masukan untuk pembangunan taman gajah tahap berikutnya dari masyarakat dan komunitas-komunitas yang ada.
Kegiatan kemudian semakin hangat dan santai, Ridho Ficardo bersama masyarakat ngobrol sambil minum kopi dipinggir jalan.
Masyarakat antusias untuk bersalaman dan foto bersama Ridho. Tidak terkecuali beberapa pengendara ojek online yang meminta agar Ridho dapat berkendara bersama mereka mengelilingi Taman Gajah dan Saburai.
Gayung bersambut, Ridho Ficardo menyanggupi dan langsung diarak berkeliling oleh beberapa ojek online. Uniknya Ridho justru mengendarai motornya sendiri, dan malah membonceng si pemilik motor.
Fika (28) warga Bandarlampung yang sehari-hari berprofesi sebagai driver ojek online mengaku sangat senang bertemu dengan Ridho Ficardo.
“Seneng banget ketemu pak Ridho, beliau itu orangnya baik, ramah, mau berbaur dengan kita-kita. Apalagi sekarang ada taman Gajah, bisa nambah pemasukan juga buat ojek online. Pokoknya kami dukung Pak Ridho untuk terus jadi Gubernur Lampung,” paparnya.
Ridho datang paling awal pada acara deklarasi tolak dan lawan politik uang dan sara. Ridho hadir tanpa didampingi wakilnya, namun bawaslu tampaknya masih sibuk melakukan persiapan, sehingga acara baru di mulai pukul 9.30 WIB.
Ketidakhadiran Bachtiar Basri lantaran sedang dilantik menjadi Ketua Dewan Pimpinan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Lampung Fatikhatul Khoiriyah, S.H.I., M.H.d. menyatakan bahwa deklarasi ini bertujuan untuk menciptakan Pilkada yang berintegritas dan damai. Selain itu Fatikhatul juga mengingatkan bahwa politik uang tidak hanya berupa pemberian uang saja.
“Saya ingatkan kembali, jadi politik uang itu bukan hanya pemberian uang saja, tapi bisa juga berupa barang, misalnya susu dan lain-lain.” pungkasnya. (Mar/Lis)









