Harianpilar.com, Pesawaran – Talita Jahra (5), putri pertama pasangan Wahyu dan Ratna Priyati diduga menderita penyakit lumpuh layu semenjak usia 9 bulan. Anak yang tinggal bersama nenek Poniyem (67) di emperan warung berukuran 4×6 meter, tepatnya di Dusun Sido Arsi, Desa Bernung, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran yang disewa nenek Poniyem tersebut tampak terlihat tergeletak tak berdaya. Bahkan dibagian pinggul Talita tampak terlihat melepuh akibat terbaring lama tanpa ada perawatan.
Mirisnya lagi, akibat kemiskinan yang dialami kedua nenek dan cucunya itu, harus hidup dari belas kasihan orang lain. Dan lebih ironisnya lagi, meskipun jarak Puskesmas Bernung hanya beberapa meter dari kontrakan, namun pihak Puskes setempat tidak mengetahui adanya warga sekitar yang mengalami penyakit yang memerlukan pertolongan itu. Bahkan Pemerintah Kabupaten Pesawaran sendiri juga luput memberikan perhatian.
“Penyakit yang diderita cucu saya ini ga tau saya mas, tapi kata dokter yang pernah menanganinya dulu saat saya berada di Pulau Jawa, cucu saya ini terkena polio,” urai Nenek tua renta itu.
Poniyem menceritakan, keadaan Talita saat lahir itu normal seperti kondisi anak pada umumnya, namun akibat terkena penyakit panas tinggi dan disuntik serta diurut saat usia 9 bulan, keadaanya malah menjadi sangat buruk dan lumpuh sampai tidak bisa berbicara.
“Tadinya cucu saya ini sehat mas, tapi akibat disuntik dan diurut saat terkena panas tinggi. Jadi kayak gini, badannya lemas dan tidak bisa berbicara hingga sekarang ini umur 5 tahun,” tuturnya.
Lebih lanjut dikatakan Poniyem, jika cucunya tersebut dirawat oleh dirinya sejak 9 bulan, lantaran kedua orang tuanya merantau bekerja. Ibunya ke luar negeri sebagai TKW hingga saat ini tak kunjung pulang. “Bapaknya kerja di Jakarta, sedangkan ibunya menjadi TKW di Malaysia. Dan mereka ga pernah pulang, ngirim uang juga ala kadar ga pasti,” ungkapnya.
Nenek tua itu mengharapkan uluran tangan dari pihak dermawan serta pihak pemerintah setempat.
“Untuk makan saja saya susah mas, apa lagi untuk berobat, untung saja pemilik kontrakannya baik. Dan saya bayarnya ga mesti tiap bulan, ini saja listrik ama air saya ga bayar. Kalau sekadar untuk bantuan paling dari tetangga dan orang sekitar, tapi kalau dari pemerintah baik itu bantuan secara medis atau materi belum pernah ada,” ujarnya dengan nada sedih.
Ditempat sama, Marlani, pemilik kontrakan mengatakan, dirinya menerima Poniyem bersama cucnya Talita Jahra mengontrak dikediamnya tersebut lantaran rasa iba dan kasihan. “Kita kasih kebijakan bayar ga harus tiap bulan, dia ini sebelum tinggal disini tinggal di Sungai Langka.
Dan terkait masalah ini pihaknya sudah melaporkannya ke pihak pemerintah desa, namun disayangkan hingga kini tidak ada tanggapan. “Kita juga sudah lapor ke pihak desa, tapi ga ada tanggapan karena alasan pihak desa dia ini beda warga bukan warga bernung,” papar Marlani. (Fahmi/Mar)









