oleh

12 Gajah Liar Mengamuk di Semaka

Harianpilar.com, Tanggamus – Kawanan gajah liar kini datang lagi ke pemukiman warga di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, berperilaku lebih agresif dan berani menyerang dibandingkan saat pertama kali masuk ke perkampungan beberapa bulan yang lalu.

Menurut Aman, warga Pekon Sri Katon, Kecamatan Semaka mengatakan, perilaku gajah kini lebih ganas lagi bila dibandingkan beberapa bulan yang lalu.

“Sekarang ini tidak bisa melihat manusia. Begitu dilihat langsung mendekati dan hendak menyerang. “Kalau dulu masih jinak, sering diam kalau lihat manusia masih bisa difoto-foto, tapi sekarang ini langsung menyerang, tidak takut lagi dengan manusia,” ujarnya, Senin (6/11/2017).

Selanjutnya Aman menceritakan, di Pekon Sri Katon, gajah liar yang berjumlah 12 ekor pernah datang ke pekon itu pada Agustus lalu. Kemudian berhasil digiring masuk ke hutan lewat rute Pekon Sidomulyo sampai hutan lindung register 31. Beberapa bulan berlalu kawanan gajah terdiri delapan dewasa dan tiga anakan kini kembali lagi ke pekon tersebut.

“Kira-kira sekarang ini sudah seminggu, kalau di sekitaran sini adanya di Bukit Keramat, kalau siang tidur, istirahat di sana. Kalau malam baru turun cari makan, akhirnya memakan apa saja tanaman-tanaman di sini,” ujar Aman.

Aman memperkirakan penyebab gajah kembali lagi karena perambah juga ikut mengusir gajah agar jangan masuk hutan lindung. Sehingga yang semestinya gajah kembali ke habitatnya justru kembali lagi ke perkampungan.

“Mestinya orang-orang di atas sana suruh keluar dulu, biar gajah ini masuk, setelah itu baru mereka masuk lagi,” terang Aman.

Adanya aktifitas perambahan, alih fungsi lahan, dan berdiam di hutan lindung membuat kawanan gajah Talang Bamban ini tidak mau masuk hutan. Gajah keluar hutan sejak Mei lalu, saat itu turun di Pekon Pardawaras, kemudian ke Pekon Karang Agung, Pekon Sri Katon. Lantas gajah bisa digiring masuk dengan bantuan pawang gajah dari Pemerihan, Pesisir Barat dan Way Kambas, Lampung Timur.

Beberapa hari kemudian turun lagi ke Pekon Karang Agung, lalu bergeser ke Pekon Sidomulyo, lalu ke Talang Asahan. Saat itu gajah yang turun berjumlah delapan ekor. Setelah memakan dan merusak tanaman warga di Talang Asahan, gajah berhasil digiring masuk ke hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang digiring dengan libatkan pawang gajah dari Pemerihan.

Berselang dua pekan setelahnya, sekitar awal Oktober, gajah kembali turun ke Pekon Sedayu, Margomulyo, lalu kembali lagi ke Pardawaras, Way Kerap, bergeser ke Sri Katon dan Karang Agung saat ini. Pastinya selama proses penggiringan selama ini sebenarnya sudah dua kali gajah sampai pada habitatnya. Namun bukannya tinggal di sana justru keluar lagi. Apabila hanya aktifitas melintasi wilayah jelajah tentu gajah tidak keluar lagi dalam waktu dekat, minimal tahun depan atau lima tahun mendatang.

“Habis mau bagaimana lagi orang-orang di atas sana bukan cuma tanam kopi, tapi menanam cabai dan macam-macam. Ujung-ujungnya tinggal selamanya di atas sana, gajahnya yang keluar,” ujar Aman.

Aman berharap para perambah sadar bahwasannga hanya menumpang hidup di hutan. Maka selama itu dilakukan sebaiknya tahu diri, seperti jangan tinggal di hutan. Apabila punya tanaman maka cukup ke hutan untuk memupuk tanaman dan saat panen saja, setelah itu keluar lagi.

“Kalau mau terus-terusan tinggal disana ya sudah bakar saja gubug-gubug mereka,” ujar Aman.

Warga-warga yang tanamannya rusak sebenarnya kesal dengan aktifitas perambahan. Sebab akibat ulah mereka, tanaman warga yang ada di lahan non hutan jadi korbannya.

“Selama mereka tidak turun, tanaman warga di bawah ini yang akan rusak terus. Maunya mereka itu sadar kalau mereka juga merugikan orang-orang di bawah,” ujar Aman.

Warga Pekon Karang Agung, Titik, sekarang ini jika malam hari memang menakutkan sebab gajah bias sewaktu-waktu muncul karena aktifitasnya malam hari.

“Kalau malam itu suaranya sering terdengar karena gajahnya sudah berada di sawah yang dekat rumah. Warga juga mengusir tapi gajahnya tidak mau pergi,” ujarnya.

Selama ini upaya pengusiran yang dilakukan warga tidak menghasilkan apa-apa. Gajah tidak takut lagi dengan suara gertakan, teriakan, begitu juga dengan suara petasan, meriam spirtus atau bambu. Gajah justu mendekati arah sumber suara, dan menyerang.

“Bahkan meski dengan pengasapan, gajah tidak menghindar lagi, asap akan dihisapnya,” kata Aman.

Dengan kondisi tersebut maka selama ini upaya tim gabungan dari BKSDA, WWF, WCS, Polhut, RPU, dan warga hanya bisa mencegah agar gajah tidak merusak rumah atau mengejar manusia. (Agus/Mar)