Harianpilar.com, Tanggamus – Pembudidaya ikan air tawar di Pekon Rantau Tijang, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus mengharapkan bantuan kepada Pemkab Tanggamus. Hal itu guna mengatasi tingginya biaya yang harus dikeluarkan selama waktu budidaya.
Menurut Hepi, salah satu pembudidaya ikan mas, selama ini dana paling tinggi dikeluarkan untuk kebutuhan pakan ikan. Sedangkan untuk pembelian benih dan pemberian pupuk kolam tidak terlalu dipusingkan.
“Pakan ikan itu yang paling tinggi biayanya, kalau bisa pemerintah adakan pinjaman untuk membantu kami. Misalnya harus ada persayaratan bukti kepemilikan kolam atau pengembalian pinjaman,” katanya, Minggu (21/5/2017).
Selanjutnya Hepi menerangkan bahwa, kebutuhan pakan ikan perhari mencapai 30-45 kg atau setara satu sampai 1,5 karung per kolam. Dalam hal ini pemberian pakan memang disesuaikan dengan usia ikan. Masa yang boros pakan setelah ikan beranjak di atas satu bulan, saat itu satu karung pelet sehari pasti habis. Kemudian saat lewat usia dua bulan sampai dipanen, kebutuhan pakan sudah harus 1,5 karung untuk satu kolam. Dalam satu kolam rata-rata berisi seribu ekor ikan.
Sedangkan untuk harga, satu karung pelet Rp 27.000 ribu, sehingga dari awal sampai panen atau lebih dari usia 100 hari, rata biaya pakan yang dikeluarkan Rp 4 juta per kolam. Kondisi tersebut sudah pasti berat bagi pembudidaya yang modalnya pas-pasan.
“Itulah susahnya, kadang kami juga butuh uang, sedangkan uang yang ada rencananya untuk pakan, akhirnya terpakai. Apalagi kalau beli pakan juga harus kontan jarang utang lama-lama, itu yang buat berat,” terang Hepi.
Untuk itu ia sangat menginginkan adanya pinjaman, selain bisa mengurangi beban, bisa juga mengatasi resiko kerugian yang bisa datang sewaktu-waktu, seperti saat kematian ikan tinggi atau kolam tiba-tiba jebol.
“Saat seperti itu pembudidaya tidak mendapatkan apa-apa. Hasil penjualan panenan ikan yang didapat akhirnya kembali untuk modal yakni Rp 10 juta. Dan sekarang ini harga panen satu kilogram Rp 21.000 yang berisi lima sampai enam ekor,” ujarnya.
Hepi juga mengaku selain pemberian bantuan modal bisa juga memberi bantuan mesin dan pelatihan pembuatan pakan. Nantinya pembudidaya secara berkelompok bisa membuat pakan sendiri untuk kurangi beban belanja pakan. Tentu dalam satu karung pakan di dalamnya ada akumulasi biaya produksi, ongkos distribusi dan keuntungan pedagang pakan.
“Kalau seperti itu bisa juga, tapi syaratnya memang harus ada mesinnya, dan kami dilatih cara membuat pakan sendiri,” jelas Hepi.
Senada dengan Hepi, Joni warga Pekon Rantau Tijang Kecamatan Pugung, juga mengatakan bahwa, pembudiaya ikan mas di Kecamatan Pugung memang minim perhatian, seperti pelatihan, bimbingan sampai pengadaan saluran air sendiri.
“Semua itu memang tidak pernah ada bagi mereka di sini. Padahal budidaya ikan di sini sudah lama dan bisa dikatakan sudah jadi bagian pembangunan Tanggamus, tapi sayangnya mereka kurang perhatian dari pemerintah, padahal selama ini Kecamatan Pugung sudah jadi sentra ikan mas, budidayanya yang banyak ada di Pekon Rantau Tijang dengan jumlah ratusan kolam, lalu Pekon Sukajadi, Banjar Agung, Tiuh Memon. Untuk rata-rata pembudidaya miliki satu sampai empat kolam,” tukas Joni. (Agus/Mar)









