Harianpilar.com, Pringsewu – Sebanyak 8 negara Asia Afrika serta perwakilan dari SNV Netherlands melakukan kunjungan ke-Kabupaten Pringsewu. Kunjungan tersebut dalam rangka mengetahui lebih dekat sekaligus mempelajari keberhasilan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Bumi Jejama Secancanan.
Mereka membahas masalah banjir yang sering melanda di Kabupaten Pringsewu. Pembahasan dilakukan dalam pertemuan bertajuk Sustainable Sanitation and Hygiene for All (SSH4A) di Aula Kantor Pemkab Pringsewu, Rabu (03/5/2017).
Delapan negara asal Asia dan Afrika yang ambil bagian dalam kegiatan ini adalah Indonesia, Nepal, Kamboja, Rwanda, Kenya, Ethiopia, Zambia, dan Bhutan.
Salah seorang peserta asal Zambia, James, mempertanyakan upaya Pemerintah Kabupaten Pringsewu untuk menangani persoalan banjir yang sering terjadi. Selain itu, James menilai, banyaknya wilayah padat penduduk di Pringsewu membuat daerah itu terkesan kumuh.
Sementara, Rekan James, mempertanyakan upaya pemerintah untuk melibatkan pihak swasta dalam program SNV Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Jika program SNV berakhir apa langkah yang akan diambil oleh Pemerintah Kabupaten Pringsewu.
Menyikapi pertanyaan seputar banjir, Penjabat Bupati Pringsewu Yuda Setiawan, mengatakan penanganan banjir tidak bisa hanya tanggung jawab Pemda Pringsewu, Tetapi juga menjadi tanggungjawab pusat, provinsi dan daerah penyanggah.
“Banjir yang sering terjadi di Pringsewu merupakan air kiriman dari Kabupaten Pesawaran dan Tanggamus. Ini yang perlu dipahami dan harus ada observasi di dua wilayah tetsebut. Upaya kita, secara bertahap melakukan normalisasi sungai dan saluran irigasi,” paparnya.
Sedangkan kampung kumuh, Yuda mengatakan Pemkab Pringsewu telah memiliki program Zero Kampung Kumuh. Yuda mengakui belum melibatkan pihak swasta. Untuk sementara cukup melibatkan masyarakat agar bisa mandiri. “Jika program SNV setop, pemerintah akan melanjutkan dengan program APBDes,” tutupnya.
Usai pertemuan rombongan melakukan kunjungan ke tiga pekon di Kecamatan Pagelaran. Diantaranya, Pekon Lugusari, Pekon Karangsari serta Pekon Candiretno yang telah memiliki teknologi jamban untuk warga difabel. Kehadiran negaranegara Asia dan Afrika di Pringsewu ini adalah bagian dari program pemerintah pusat yang menggandeng Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Netherland Development, untuk melaksanakan sejumlah program kesejahteraan rakyat di enam provinsi, yaitu Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejumlah program itu meliputi sektor pertanian, energi terbarukan, air, sanitasi dan kebersihan. Pada tiga tahun lalu, SNV memberikan bantuan langsung ke masyarakat dengan penyerapan dana SNV 7,5 juta euro. Managing Director SNV mewakil SNV Netherlands Development Organisation, Michel Farkas, menyebut program ini dapat memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi masyarakat Indonesia.
SNV merupakan sebuah lembaga non profit yang memiliki kantor perwakilan di hampir 40 negara di dunia termasuk Indonesia. SNV membuka kantor perwakilan di Indonesia pada tahun 2013. Saat ini SNV Indonesia bekerja di 3 sektor utama yaitu pertanian, air sanitasi dan energi terbarukan di 9 kabupaten di 4 Provinsi di Indonesia.
“Dua program unggulan yang masih berjalan adalah penyediaan sanitasi pedesaan yang berkesinambungan di Provinsi Lampung dan program kemitraan advokasi berbasis data,” kata Michel Farkas.
Menurutnya, SNV mendukung Pemerintah Provinsi Lampung dalam mempercepat pencapaian target nasional program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Kedua program itu saling melengkapi untuk mencapai tujuan. ‘Sanitasi dan Kebersihan yang Berkelanjutan untuk Semua atau Sustainable Sanitation & Hygiene for All (SSH4A)’ yang akan berkontribusi bagi pencapaian target Pemerintah Indonesia di tingkat nasional yaitu 100 persen akses terhadap sanitasi di tahun 2019. (Sahirun/Maryadi)









