oleh

12 Warga Tanggamus Terserang DBD

Harianpilar.com, Tanggamus – Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus mengakui kasus demam berdarah dangue (DBD) dari Januari sampai Februari 2017, baru ada12 kasus DBD yang ditangani. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus melalui Kasi Pencegahan, Pengendalian, Penyakit Menular, Syaifullah mengatakan bahwa, jumlah kasus DBD memang turun drastis dua bulan terakhir dan prediksinya kasus tidak akan sebanyak tahun 2016.

“Tahun lalu memang siklus lima tahunan untuk kasus DBD sehingga tinggi dan sekarang itu sudah lewat, maka sampai nanti kami prediksi kasusnya lebih sedikit dibanding tahun lalu,” katanya, Kamis (2/3/2017).

Ia mengaku apabila kasus DBD sedang memasuki siklus lima tahunan, kasusnya pasti tinggi. Di Tanggamus pada tahun lalu terjadi 398 kasus namun sekarang turun drastis karena sudah dua bulan berjalan baru terjadi 12 kasus. Rinciannya empat kasus pada Januari, dan delapan kasus di bulan Februari. Untuk lokasinya dua kasus di kewenangan Puskesmas Kota Agung, dua di Puskesmas Rantau Tijang Kec. Pugung, satu di Puskesmas Antar Brak, Kec. Limau, satu di Puskesmas Pulau Panggung, satu di Puskesmas Sudimoro, Kec Semaka, dua di Puskesmas Margoyoso Kec Sumber Rejo, tiga di Puskesmas Gisting.

“Penderita yang meninggal tidak ada, dan langkah penanganan sudah dilakukan berupa penyelidikan etimologi jentik nyamuk, perawatan di sarana kesehatan, lingkungan tempat tinggal penderita difogging. Itu langkah meminimalisir wabah DBD supaya tidak meluas,” ujar Syaifullah.

Diterangkan Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular itu bahwa memang yang terjadi dalam siklus lima tahunan intensitas hujan tinggi, namun suhu udara meningkat, itu yang menyebabkan jentik nyamuk cepat tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Namun di luar siklus lima tahunan intensitas hujan tinggi suhu udara dingin, itu akan menghambat perkembangan jentik nyamuk sehingga jumlah populasi nyamuk dewasa tidak begitu banyak. Dampaknya pertambahan kasus DBD pun lambat.

“Belajar dari siklus lima tahunan itu juga maka mulai tahun ini kami mencanangkan pembentukan kelompok kerja operasional (pokjanal) dari tingkat kabupaten, kecamatan, dan pekon. Pokjanal berperan mendeteksi dan evaluasi perkembangan populasi jentik nyamuk untuk mengantisipasi mewabahnya DBD,” terang Syaifullah.

Selanjutnya ia menjelaskan, anggota pokjanal untuk tingkat kabupaten terdiri diskes dan dinas-dinas terkait dengan kesehatan dan masyarakat.
“Lalu di tingkat kecamatan berupa camat, kapolsek, danramil dan kepala instansi terkait tingkat kecamatan, dan di tingkat pekon terdiri aparatur pekon,” terangnya pula.

Selain itu lanjut Saifullah, ada beberapa orang yang ditugaskan memantau perkembangan jentik nyamuk ditiap rumah masyarakat. Standarnya dari 100 rumah maksimal ditemukan lima rumah yang ada jentik nyamuknya. Jika sudah lebih dari lima rumah maka tanda bahaya dan semua warga harus digerakkan untuk kerja bakti berantas sarang nyamuk. Tanda bahaya lagi jika sudah ada satu warga positif DBD dan ada warga lainnya di radius 20 meter mengalami demam, itu tandanya bakal muncul serangan DBD di lokasi tersebut. Jika itu terjadi maka langsung dilaksanakan fogging.

“Hanya dengan cara itu wabah DBD bisa diminimalisir, sebab sampai saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penderita jika positif terkena DBD,” pungkas Syaifullah. (Agus/Mar)