oleh

Dirut Bank Lampung ‘Mendadak’ Mundur

Harianpilar.com, Bandarlampung – Kabar mengejutkan datang dari manajemen Bank Lampung. Direktur Utama (Dirut) Bank Lampung Mangkoe Sasmito tiba-tiba berpamitan pada seluruh staff dan karyawan Bank milik pemerintah daerah tersebut. Informasi ini memunculkan banyak spekulasi apakah alasan pengunduran diri itu terkait kinerja Bank Lampung yang belakangan merosot atau karena alasan lain.

Humas PT. Bank Lampung, Suratman, saat dikonfirmasi tidak menampik hal itu. Namun, pengunduran diri itu belum resmi karena belum disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan belum ada penggantinya. Sementara RUPS Bank Lampung baru akan di gelar Jum’at mendatang.

“Iya memang beliau pamitan, tapi itu belum resmi. Sebaiknya nanti saja diberitakan setelah RUPS Jumat nanti di Novotel,” ujar Suratman saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Minggu (8/1/2017) malam.

Suratman membantah jika pengunduran diri Mangkoe Sasmito terkait dengan kinerja Bank Lampung yang belakangan cenderung menurun. Menurutnya pengunduran diri itu terkait dengan kondisi kesehatan Mangkoe yang sudah sering sakit-sakitan.

“Bukan bukan,tidak ada kaitannya dengan kinerja Bank Lampung. Ini karena kesehatan beliau, sudah sering sakit-sakitan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, setahun belakangan kinerja Bank Lampung menjadi sorotan karena terpuruk dan kalah dengan kinerja Bank Perkereditan Rakyat (BPR). Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang memiliki aset banyak, ternyata Bank Lampung kalah dengan perkembangan BPR seperti BPR Eka Bumi Arta (Bank Eka) dan Bank Pasar milik Pemkot Bandarlampung.

Hal itu terlihat dari Rating 599 BPR versi InfoBank yang dilakukan Biro Riset Infobank (birI). Sedikitnya terdapat sembilan BPR beraset tambun yang kinerjanya sangat baik yakni BPR Eka Bumi Artha dari Metro (Lampung) dengan aset Rp5,39 triliun, BPR Karyajatnika Sadaya (KS) dari Bandung beraset Rp4,44 triliun, BPR Sri Artha Lestari dari Denpasar dengan aset Rp2,56 triliun, Bank BPR Jatim dari Surabaya beraset Rp1,85 miliar, BPR Modern Express dari Ambon dengan aset Rp1,14 triliun, BPR Palu Lokadana Utama dari Palu dengan aset Rp1,34 triliun, BPR Surya Yudhakencana dari Banjarnegara dengan aset Rp1,04 triliun, BPR Utomo Manunggal Sejahtera Lampung dari Bandar Lampung dengan aset Rp1,03 triliun, dan BPR Hasa Mitra dari Makassar dengan aset Rp1,02 triliun.

Di sembilan kota tersebut BPR-BPR ini bisa berkembang dan memiliki kinerja sangat bagus. Padahal, di kota-kota tersebut bank-bank umum dan bank pembangunan daerah (BPD) juga tak sedikit jumlahnya. “Artinya, bank perkreditan rakyat tetap bisa survive meski berhadapan langsung dengan bank-bank umum yang memiliki aset lebih besar dari mereka,” ujar Eko B. Supriyanto, Direktur Biro Riset Infobank, seperti dikutif dari infobanknews.com.

Menurutnya, tidak sekadar besar asetnya, Aset kesembilan BPR tersebut juga tumbuh positif meski perkonomian sedang tidak kondusif. Rata-rata pertumbuhan aset mereka di atas pertumbuhan aset industri perbankan nasional. “Market masih memberi ruang bagi BPR untuk berkompetisi. Kunci sukses BPR lebih bagaimana menjaga tata kelola perusahaan dengan baik, karena semua BPR yang mati karena salah kelola, bukan karena kompetisi,” ujar Eko B. Supriyanto. (Tim/Juanda)