Harianpilar.com, Bandarlampung – Indikasi penyimpangan sejumlah proyek milik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung semakin menguat. Persoalan itu akan dilaporkan oleh sejumlah elemen masyarakat ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung bersamaan dengan aksi massa, Rabu (14/12/2016) hari ini.
Proyek yang diduga sarat masalah itu adalah proyek Belanja Gedung dan Bangunan untuk diserahkan kepada masyarakat/Pemda berupa Pembangunan Breakwater tahun 2014 senilai Rp3,8 Miliar dan Belanja Modal Pengadaan Konstruksi Pembelian Dermaga Berupa Pembangunan Breakwater tahun 2016 senilai Rp3,7 Miliar. Kedua proyek ini sama-sama berlokasi di Bengkunat Pesisir Barat dan dikerjakan oleh satu perusahaan yakni PT.Haga Unggul Lestari.
“Indikasi penyimpangan dua proyek ini tidak hanya pada fisiknya. Belakangan kami menemukan tender proyek ini diduga kuat dikondisikan, karena dua proyek ini dimenangkan oleh satu perusahaan dengan nilai penawaran kurang dari satu persen,” ujar Ketua Gerakan Lembaga Anti Korupsi (Galak), Suadi Romli, Selasa (13/12/2016).
Menurutnya, untuk proyek Breakwater tahun 2014 senilai Rp3,8 Miliar dimenangkan oleh PT Haga Unggul Lestari dengan penawaran Rp 3.797.000.000 atau hanya turun Rp20 juta. Sementara Pembangunan Breakwater tahun 2016 senilai Rp3,7 Miliar dimenangkan oleh perusahaan yang sama dengan penawaran Rp 3.745.770.000,00 atau hanya turun Rp41 juta.”Ini dua proyek jarak dua tahun tapi tendernya bisa dimenangkan oleh satu perusahaan dengan nilai penawaran sangat mendekati HPS, patut diduga tendernya dikondisinya,” tandasnya.
Temuan ini, lanjutnya, semakin menguatkan pelaksanaan kedua proyek ini memang terindikasi sarat kecurangan sejak tahap awal, untuk itu pihaknya akan melaporkan masalah itu ke Kejati Lampung agar diusut secara tuntas.”Besok (hari ini,red) kami akan menggelar aksi massa untuk melaporkan masalah ini ke Kejati Lampung, serta mendesak Gubernur Lampung untuk mengevaluasi kinerja pejabat DKP Lampung,” tegasnya.
Sementara, Pelaksana Harian (Plh) Kepala DKP Provinsi Lampung, DR.Toga Mahaji, hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi.
Sebelumnya, Suadi Romli juga membeberkan indikasi penyimpangan pelaksanaan dua proyek tersebut.”Kami sudah melakukan investigasi kelokasi kedua proyek itu, dan kami menemukan banyak dugaan penyimpangan kedua proyek itu. Meski anggaran yang dihabiskan miliaran tapi kualitasnya jauh dari harapan,” tegas Ketua Gabungan Lembaga Anti Korupsi (Galak), Suadi Romli pada Harian Pilar, baru-baru ini.
Menurutnya, kondisi kedua proyek sudah sangat memprihatinkan, kondisi batu kedua proyek itu sudah sama-sama bertaburan. Bahkan, pihaknya menduga ada indikasi pengurangan kubikasi batu.”Batunya sudah bertaburan kemana-mana. Dan volume atau kubikasi batu juga diduga kuat tidak sesuai ketentuan,” terangnya.
Termasuk,lanjutnya, proyek yang dikerjakan tahun 2016 kini kondisinya tak jauh berbeda, padahal baru hitungan hari selesai dikerjakan.”Yang tahun 2016 juga kondisinya sudah berantakan batunya. Baru hitungan hari sudah seperti itu, berarti ada didugaan secara kualitas dan kuntitas tidak sesuai ketentuan,” pungkasnya. (Tim/Juanda)









