Harianpilar.com, Lampung Selatan – Dugaan adanya pungutan liar (pungli) telah terjadi di SMKN 1 Tanjungsari. Betapa tidak, dalam setahun pelajaran saja, sekolah tersebut mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 2.856.050.000, rinciannya; biaya ujian kelas 12 tahun 2015 yang lalu sebanyak 209 siswa. Setiap anak dikenakan biaya Rp750.000. Dalam pada itu, sekolah mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 155.250.000.
Kemudian, biaya daftar ulang kelas 10, tahun pelajaran 2016 sebanyak 280 siswa, sebesar Rp1.200.000. Uang yang berhasil dikumpulkan sebanyak Rp 336.000.000.
Lalu, seluruh siswa dikenakan biaya Rp1.800.000. Jumlah siswa secara keseluruhan yang menimba ilmu di sekolah tersebut sebanyak 739 anak, sehingga uang yang berhasil dikumpulkan dari pungutan tersebut sebanyak Rp1.330.200.000.
Belum sampai disitu. Sekolah juga menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Setiap siswa mendapat jatah uang dari pemerintah sebanyak Rp1.400.000, sehingga uang yang masuk ke sekolah sebanyak Rp1.034.600.000.
Waki murid Warinto mengaku keberatan dengan tarikan sekolah yang dibebankan kepada seluruh wali murid sebesar Rp1.800.000. “Saya memang merasa keberatan dengan adanya pungutan sebesar Rp 1.800.000 per siswa, melalui rapat komite yang digelar pada Sabtu (22/10/2016),” katanya, Sabtu (29/10/2016).
Lebih lanjut dia mengatakan, anaknya kini menginjak kelas 12, sebentar lagi hendak mengikuti ujian. Dipastikan akan memerlukan biaya tambahan lagi. “Awal tahun pelajaran yang lalu dikenakan biaya Rp1.800.000, kini kena lagi dengan jumlan uang yang sama. Nah nanti menjelang ujian saya yakin ditarik biaya lagi. Katanya sekolah gratis, ko saya ga pernah ketemu dengan program pemerintah tersebut,” keluhnya.
Sisri, wali murid lainnya mengatakan anaknya memang dikenakan biaya Rp1.800.000 per tahun. Biaya tersebut bisa diangsur setiap bulan. “Kalau diangsur Rp150.000 per bulan. Saya baru membanyar Rp500.000,” katanya.
Loviani siswa kelas 10 jurusan Teknik Koputer dan Jaringan (TKJ) mengatakan, siswa baru dikenakan biaya daftar ulang sebesar Rp1.200.000, rinciannya untuk membayar baju, kejuruan, almamater, pramuka, putih abu-abu, olahraga, dan Sumbangan Penyelenggara Pendidikan (SPP) dua bulan.
Subakir orang tua Romadiati, siswa jurusan keperawatan kelas 10 mengaku keberatan dengan biaya yang dibebankan kepadanya. Baru saja melunasi biaya pendaftaran sebesar Rp1.200.000, kini pihak sekolah kembali menarik biaya Rp1.800.000. “Saya ga ada uang. Untuk memenuhi kebutuhan anak di sekolah, saya merelakan istri bekerja sebagai pembantu di Jakarta,” ujar dia.
Lebih lanjut dia mengatakan, berdasarkan hasil rapat komite pada Sabtu (22/10/2016), biaya Rp 1.800.000 untuk membeli alat praktik Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dan tekhnik kendaraan ringan (TKR).
Sementara Kepala SMKN 1 Tanjungsari Drs. Ifraim Azis, MM menyangkal kalau tarikan biaya sekolah dibilang pungli. Sebab semua melalui mekanisme rapat komite beserta wali murid dan pihak sekolah. “Tidak ada SMKN di Lampung Selatan yang gratis,” tegasnya.
Menurut dia biaya yang harus dikeluarkan sangat banyak, terutama untuk biaya praktik siswa jurusan TKJ dan TKR. “Biaya praktik cukup mahal, makanya harus ada keterlibatan orang tua dalam mengatasi maslaha ini,” katanya. (Mar)










Komentar