Harianpilar.com, Lampung Utara – Dewan Perwakilan Rakyat Darah Lampung Utara melalui Komisi IV memanggil Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD Ryacudu), Kotabumi, Senin (24/10/2016) pagi. Dalam pertemuan itu komisi IV yang diketuai Agustori, hanya memberi masukan kepada RSUD Ryacudu agar meningkatkan pelayanan.
Didalam hearing itu juga, dibahas mengenai persoalan disiplin para dokter, kualitas alat-alat kesehatan dengan mengacu pada keinginan Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara.
“Pemanggilan ini agar peningkatan mutu alat diperbaiki, karena pak bupati bilang ada berobat ‘gratis’ perubahan nyata, dan perubahan apa.? Terkait alat supaya diganti dengan yang lebih canggih., ucap Agustori, Ketua Komisi IV, usai melakukan hearing.
Ditambah Ketua Komisi IV pemanggilan dilakukan berdasarkan keluhan dari berbagai pasien mengenai penanganan yang diberikan pihak RSUD Ryacudu yang diberitakan di media massa.
Bahkan yang membuatnya sedikit kesal ialah, ketika pemanggilan ditujukan kepada Maya Metissa, Kepala Dinas Kesehatan (eks Dirut RS Ryacudu) yang terus mangkir saat akan dilakukan hearing.
“Ini kita lakukan atas masukan dari keluarga pasien dan juga pemberitaan di media mengenai RSUD Ryacudu. Kita juga sudah mengundang Maya Metissa (Kadiskes), tetapi tidak juga mau hadir,” imbuh dia.
Sementara, secara singkat dijelaskan Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD Ryacudu, dr. Rahmad Wahyu Hidayat, didampingi Kepala Ruang Laboratorium Basuki, pembahasan yang dilakukan saat hearing ialah hasil pemeriksaan terhadap pasien yang notabene ada kesalahan tekhnis. Apalagi menurutnya, untuk hasil pemeriksaan dengan Rafites memang tidak pernah digunakan untuk diagnosis.
“Sebetulnya hasil pemeriksaan dengan Rafites (tes cepat) untuk HBSAG memang kita tidak pernah gunakan untuk diagnosis, tetapi kita gunakan untuk screaning, dimana ketika seseorang diperiksa HBSAG nya positif atau Antigen Hepatitis B yang kemudian cuci darah, itu tidak bisa dilaksanakan di RSUD Ryacudu, karena belum ada alat untuk itu,” jelas Rahmad usai hearing, diruang komisi IV DPRD, Lampura.
Diakui plt, Direktur RSUD Ryacudu, bila akurasi hasil diagnosis dengan menggunakan alat kesehatan, untuk pemeriksaan tidak selamanya tepat. Dimana terdapat kesalahan (human Eror) atas alat tersebut.
“Untuk alat, akurasi hasil diangnosa itu semua bagus tetapi dari perbandingan itu ada 1 dari 10.000 itu ada yang kurang (human Eror),” pungkas dr. Bowo sapaan akrabnya. (iswant/yoan)









