oleh

Nelayan Pesisir Pantai Tuba Bertalih ke Budidaya Kerang Dara

Harianpilar.com, Tulangbawang – Apresiasi layak diberikan kepada para nelayan Pesisir Pantai Laut Kabupaten Tulangbawang di Kampung Sungai Burung Kecamatan Dente Teladas. Pasalnya, sejak diberlakukannya Peraturan Menteri (Peraturan Menteri) Kelautan dan Perikanan tentang larangan pengunaan alat penangkapan ikan berupa Pukat Tarik, Seine Nets, Pukat Hela atau Jaring Troll dan sejenisnya, serta dengan ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh Polisi Air dan Udara (Polairud) maupun Polisi Penyidik Dinas Kelautan dan Perikanan (PPNS DKP), mereka tidak lagi melalukan kegiatan tersebut.

Kini mereka menekuni usaha perikanan lainnya. Seperti membudidayakan berbagai jenis spesies hewan-hewan laut. Diantara budidaya tersebut yakni Budidaya Kerang Dara, yang hasilnya dinilai cukup menggiurkan untuk meraup rupiah untuk kebutuhan hidup mereka.

Kepala Kampung Sungai Burung, M. Jamal, mengatakan bahwa masyarakat Kampung Sungai Burung terus mengembangkan Budidaya Kerang Dara, karena selain tidak peraturan yang melarang, hanya dengan bermodal jaring dan bibit, usaha budidaya ini mampu meraup keuntungan yang dinilai sebanding dengan menangkap hasil laut dengan Jaring Troll.

“Perlu diketahui, kerang termasuk komoditas laut yang mudah dibudidayakan. Ada berbagai macam jenis kerang yang ada di perairan Indonesia, namun kerang yang sering dibudidayakan adalah jenis kerang Dara. Kegiatan budidaya yang baru ditekuni dua tahun terakhir membuat nelayan perlahan beralih profesi. Sebab harga dan nilai jual Kerang Dara cukup menjanjikan,” jelasnya ketika diwawancarai oleh wartawan, belum lama ini.

Dengan umur budidaya antara 3 bulan sampai 4 bulan dari masa tebar, Kerang Dara sudah dapat dipanen. Ini membuat masyarakat Sungai Burung rata-rata tertarik untuk membudidayakan kerang. Untuk bibit Kerang Dara, dipasok dari Palembang dan ada pula berasal dari daerah perbatasan antara Tulangbawang dan Mesuji di daerah Teluk Gedung, dengan harga Rp2500 sampai Rp3000 per 1 Kg. Kemudian untuk harga siap panen pembudidaya menjual kisaran Rp8.500 sampai dengan Rp9.000 per 1 Kg.

“Untuk pembeli rata-rata pemasarannya ada dari kampung terdekat Mahabang, Rawa Jitu, dan ada juga dari Palembang dan dari pulau Jawa seperti Jakarta, bahkan seringkali ada dari luar negeri, seperti dari Hongkong dan Taiwan,” kata Kepala Kampung Sungai Burung, M Jamal.

Dengan semakin banyak pembeli yang datang, akan semakin naik harga kerang saat dipanen. Namun untuk ekspor ke luar negeri, Jamal mengungkapkan bahwa salah satu kendala yang dihadapi adalah bagaimana cara mempertahankan agar kerang dara tetap hidup dalam waktu yang lumayan lama jika diekspor.

“Karena seperti beberapa waktu lalu ada orang dari luar negeri, seperti orang Cina, ia membeli sekitar 5 Kwintal. Namun sepertinya tidak kena, karena sampai di Hongkong, semua kerang telah mati. Jadi belum tau cara bagaimana membawa ke luar negeri dan tetap segar, sehingga saat ini hanya dari Palembang dan Jakarta semua hasil panen itu langsung dikirim menggunakan kapal ke luar Lampung,” urainya. (Merizal)