Harianpilar.com, Pringsewu – Hari habitat sedunia tahun ini dimanfaatkan oleh forum komunikasi pecinta alam Pringsewu (forkompapri) untuk mengadakan kegiatan fun camp dan bhakti sosial. Acara yang digelar selama 2 hari mulai tanggal 8 dan berakhir tanggal 9 Oktober 2016 bertempat di bukit Blitar, Pekon Blitarejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
Menurut penuturan ketua panitia, Bunga Mandalawangi bahwa kegiatan ini mengambil tema dengan hari habitat sedunia 2016 mari kita sukseskan pembangunan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim secara efektif. “Kegiatan ini diikuti oleh oganisasi atau kelompok pecinta alam yang ada di Kabupaten Pringsewu serta ada juga sebagian yang berasal dari luar daerah, seperti Tanggamus, Pesawaran serta Bandarlampung,” ucap Bunga.
Lebih lanjut Bunga menceritakan dengan tujuan untuk mengkampanyekan tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Berkaitan dangan hari habitat tentunya kegiatan juga dalam rangka menyampaikan kepada masyarakat bahwa pemukiman yang nyaman, udara yang bersih merupakan hak dasar bagi kita, dan dalam pencapainya merupakan tanggung jawab pemerintah, serta masyarakat. “Kami berharap dalam perencanaan pembangunan yang digagas oleh pemerintah mengedepankan aspek lingkungan, dan pengawasan penuh dalam penataanya, sehingga hak dasar tersebut tidak terabaikan,” ungkap Bunga.
Senada diungkapkan, Ketua Forkompapri, Novi Antoni menambahkan bahwa kegiatan ini digagas untuk memberikan wawasan kepada pengiat lingkungan dan pecinta alam dikabupaten pringsewu. “Ketika kita bicara hari ini, masalah lingkungan dan potensinya sepertinya belum masuk dalam skala prioritas. Padahal ini sangat penting, misal dalam penanganan sampah, pemerintah belum maksimal. Pada skala lokal, Pringsewu produksi sampah hingga berton-ton perharinya, penanganannya hanya baru dipindahkan dari titik yang satu dipindahkan ke titik yang lain. Kemudian permaslahan penggalian tanah atau tambang tipe-c yang ada di sepanjang Way Sekampung seharusnya sudah ada tindakan yang kongkret karena itu merusak lingkungan, bahkan baru-baru ini sudah terjadi konflik horizontal antara masyarakat yang pro dan kontra dangan adanya tambang galian c tersebut,” ucapnya.
Jika ini terus dibiarkan, lanjut novi tanpa ada penanganan dari awal maka tak akan pernah terwujud pemukiman yang layak. “Bagaimana akan terwujud pemukiman (habitat) yang sehat, berudara bersih dan nyaman jika bukit yang ada rusak karena pengerukan,” tegas Novi.
Sementara dalam pembukaan kegiatan, dr. Hi. Fauzi mengatakan kebanggaanya kepada panitia yang berkerja keras untuk terwujudnya kegiatan ini, karena kegiatan semacam ini biasanya jarang perduli. “Patut diapresiasi kerja keras panitia, sehingga apa yang diagendakan bisa berjalan, dan kegiatan ini bukan hanya untuk mengisi waktu luang tapi juga mampu berprestasi karena belajar dengan alam itu lebih berkualitas,” unglapnya.
Selain itu Fauzi meningatkan kepda peserta untuk mengikuti agenda yang sudah dipersiapkan seperti penanaman pohon, operasi bersih dan pembagian totebag. Dan yang penting acara yang digelar forkompapri mampu mengkader anggotanya untik aktif mensuarakan isue lingkungan,” punkasnya.
Dan acara hari habitat sedunia 2016, dibuka oleh Fauzi dengan penyematan kartu pengenal kepada peserta secara simbolis. (Sahirun)









