Harianpilar.com, Tanggamus – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanggamus menemukan berbagai macam jenis makanan yang kemasannya tak layak masih dipajang di etalase toko modern. Bahkan di Pasar Tradisional Gisting, Dinkes menemukan bakso kering kemasan yang ternyata mengandung bahan kimia jenis boraks dan cendol mengandung rhodamin B.
“Kami menemukan makanan yang kemasannya tak layak masih dipajang di etalase waralaba, bahkan di pasar Gisting kami menukan bakso mengandung boraks dan cendol mengandung rhodamin B,” kata Kepala Diskes Tanggamus Sukisno, saat melakukan sidak, Selasa (7/6/2016).
Pemerintah Kabupaten Tanggamus melalui Dinkes menggelar sidak terhadap makanan dan minuman berkemasan yang beredar selama puasa dan menjelang Idul Fitri. Sidak dilakukan di pasar tradisional Kecamatan Gisting dan beberapa toko modern. Dalam sidak yang dipimpin langsung Kepala Diskes Tanggamus Sukisno didampingi Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Basri.
Lebih lanjut Sukisno mengatakan untuk temuan kemasan makanan yang penyok di toko modern, pihaknya sudah memberikan arahan pada pengelola. Sementara terhadap bakso kering kemasan di Pasar Gisting, uji sampel juga sudah dilakukan. “Awalnya kami curiga melihat gelagat pedagangnya. Makanya, toko itu kami datangi. Setelah kami periksa, ternyata kami temukan bakso kering kemasan yang mengandung bahan berbahaya itu,” terang Basri.
Dia menegaskan, boraks sangat tidak aman jika dikonsumsi manusia dalam bentuk kandungan makanan. Mengkonsumsi makanan ber-boraks dalam jumlah berlebih, bisa menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Kemudian, bisa juga membuat tubuh menjadi demam, koma, menimbulkan depresi, apatis, tekanan darah turun, memicu anuria (gagalnya pembentukan urin), bahkan mematikan.
Tidak dipungkiri, belakangan ini marak oknum produsen nakal yang hanya memburu keuntungan besar, namun mengesampingkan kesehatan bahkan keselamatan konsumen yang mengkonsumsi produk makanan mereka. Ironisnya, meskipun sudah diatur tegas dan rinci dalam UU Kesehatan dan Keselamatan Nasional bahwa boraks sangat dilarang terkandung di dalam bahan makanan, masih saja ada produsen yang bandel.
Boraks sendiri berwujud putih padat dan sudah diproduksi sejak tahun 1700 silam di Indonesia, dalam bentuk air bleng. Biasanya bleng dihasilkan dari ladang garam atau kawah lumpur. Dalam dunia industri, boraks yang bersinonim dengan natrium biborat, piroborat, dan tetraborat, menjadi bahan solder, bahan pembersih, pengawet atau antiseptik kayu, hingga pengontrol kecoa. Bisa dibayangkan betapa bahayanya, jika bahan yang fungsi sebenarnya untuk mengontrol kecoa, masuk ke dalam tubuh manusia. Meski berbahaya, produsen nakal tetap mencampurkannya, karena boraks memang bersifat pengenyal dan sebagai pengawet.
Tak hanyo bakso kering ber-boraks, Tim Diskes Tanggamus juga menemukan cendol yang mengandung bahan rhodamin B. Itu dipastikan, setelah tim juga melakukan uji sampel pada cendol yang dicurigai. Dalam memilih bahan makanan atau minuman yang beragam jenis dan warna dan beredar di pasaran, masyarakat diminta lebih selektif. Jangan melulu tertarik pada warna yang terang atau mencolok. Karena warna yang mencolok adalah indikator paling mudah dan sederhana, untuk membedakan makanan/minuman itu biasanya mengandung pewarna sintetis. Jika pewarna alami yang berasal dari tumbuhan, warnanya tidak akan bisa terang atau stabil.
Rhodamin B sendiri merupakan zat pewarna untuk tekstil (kain). Jika dikonsumsi manusia dalam jumlah masif, pewarna ini akan memicu efek racun, merusak organ vital tubuh, dan kanker. Pemerintah Indonesia sendiri melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya, termasuk di dalamnya rhodamin B.
Sangat disayangkan, Basri mengakui, pihaknya tak punya wewenang untuk menyita bakso ber-boraks dan cendol mengandung rhodamin B tersebut. Para pedagangnya pun hanya diberikan arahan tegas supaya tidak lagi menjualnya. Diskes Tanggamus mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan selektif memilih bahan-bahan makanan/minuman untuk dikonsumsi. “Apalagi saat bulan puasa dan menjelang Idul Fitri, biasanya banyak pedagang makanan/minuman dadakan. Bahan-bahan yang dijajakan pun beragam jenisnya, mulai dari makanan berbuka puasa sampai makanan berat,” tandas Basri (Ron/Mar)









