Harianpilar.com, Tanggamus – Wakil Bupati Tanggamus H. Samsul Hadi mengatakan, Kabupaten Tanggamus merupakan wilayah yang masuk dalam katagori rawan bencana, dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Lampung, dan tentunya menjadi prioritas penanggulangan resiko bencana. Dalam indeks resiko bencana Indonesia (IRBI) kabupaten yang berjuluk Bumi Begawi Jejama ini memiliki resiko bencana tinggi dengan nilai indeks 201,2 yang merupakan nilai indeks tertinggi di Pulau Sumatera.
“Saya mengingatkan kepada masyarakat untuk mengantisipasi bencana alam secara dini, menyelenggarakan persiapan-persiapan yang di perlukan sebagai mitigasi dan juga kontigensi terhadap berbagai bencana yang mungkin akan melanda wilayah teritorial kita. Dan saya mengajak untuk senantiasa menjaga komitmen dan kinerja dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab masing-masing, demi suksesnya berbagai program yang ada di kabupaten Tanggamus ini,” kata Wabup pada acara seminar yang dilaksanakan oleh Badan Meterologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika (BMKG) Provinsi Lampung di hotel 21 Gisting, Senin (23/5/2016)
Kegiatan seminar diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari anggota Polres Tanggamus, BPBD Tanggamus, Guru dan Pemuka Masyarakat. Dengan pengisi seminar dari Deputi Bidang Geofisika Dr. Masturyono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Provinsi Lampung Dr. Daryono, Sekertaris BPBD Prov. Lampung M. Fadli. Dandim 0424 Tanggamus Letkol Inf. Hista Soleh Harap, Kapolres Tanggamus AKBP Ahmad Mamora, Wabup Tanggamus Hi. Samsul Hadi, Staf Ahli Idham Kholid dan Perwakilann dari BPBD Tanggamus.
Deputi Bid. Geofisika Dr. Masturyono menjelaskan, secara garis besar gempa bumi disebabkan oleh pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh lempengan (kerak bumi) yang bergerak. Semakin lama tekanan itu semakin membesar sehingga mencapai pada keadaan, dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan, pada saat itulah gempa bumi terjadi. Dan memang gempa bumi bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, serta sifatnya tidak bisa di prediksi, maka dari itu harus adanya sikap siaga.
“Biasanya gempa bumi yang berkekuatan diatas tujuh skalarichter (sr) bisa mengakibatkan bencana tsunami. Dan kemungkinan sudah sering diajarkan mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi. salah satunya yakni bersembunyi dibawah benda yang mampu menahan reruntuhan dari atas rumah atau gedung, seperti berlindung dibawah meja yang kokoh, itu salah satu cara dasar yang harus dilakukan dan semua juga pasti sudah paham,” kata Masturyono, saat memberikan pengarahan dalam seminar yang dilaksanakan di hotel 21 Gisting, Senin (23/5/2016).
Ia juga menambahkan, dalam seminar tentang tindakan penanggulangan saat gempa bumi, kepada para peserta juga dibertahukan beberapa point penting yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi. Diantaranya, perhatikan kondisi rumah, persiapkan perlengkapan untuk keadaan darurat, mengidentifikasi tempat yang aman didalam rumah jika terjadi gempa dan mencari lokasi untuk evakuasi gempa bumi. Bukan hanya itu saja, diberitahukan juga kepada peserta seminar apa yang harus dilakukan jika berada diluar rumah saat terjadi gempa.
“Nantinya pemahaman tentang gempa bumi ini bisa di beritahukan kembali kepada keluarganya, dan orang-orang yang ada disekitar kita. Agar semuanya bisa mengetahui apa saja yang harus dilakukan saat gempa bumi terjadi,” katanya, seraya mengatakan seminar dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 23-24 mei 2016. (Ron/Mar)









