Harianpilar.com, Bandarlampung – Ratusan Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung, menggelar aksi tolak Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) yang akan digelar 29 Maret mendatang. Para mahasiswa menilai, selama ini badan pelaksana Pemira tidak pernah menjunjung nilai-nilai keadilan maupun transparansi dalam proses Pemira.
Aksi penolakan ini sempat berlangsung panas, bahkan sebuah panggung panitia Pemira rubuh diamuk mahasiswa. Sebagai bentuk penolakan, mahasiswa juga melakukan pembakaran ban di depan gedung rektorat IAIN, Senin (21/3/2016).
Dalam aksinya, mahasiswa menuntut cabut SK kepanitiaan badan pelaksana Pemira dan badan pengawas Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, karena sudah bukan mahasiswa aktif. Selain itu, mahasiswa mendesak Pimpinan Fakultas Wadek III, bertanggungjawab atas permasalahan Pemira dan bekukan sementara proses Pemira, sehingga sengketa Pemira terselesaikan dan mendorong Pemira bermartabat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, aspiratif, partisifatif, transparan dan merakyat.
“Jangan kotori Pemira, sampai detik ini badan pelaksana tidak ada ikhtikad baik dalam menjunjung nilai-nilai keadilan maupun transparansi yang memang seharusnya ada,” tegas salah seorang mahasiswa Husni.
Di kesempatan itu, Prof. Dr. Hi. Syaiful Anwar, M.Pd Wakil Rektorat III dalam pertemuan dengan mahasiswa mengatakan jika dari pihak panitia masih ada egoisme personal maupun kelompok, mau tidak mau Pemira harus dibubarkan.
Syaiful juga mengharapkan kepada panitia Pemira untuk melibatkanunsur serta seluruh elemen mahasiswa. Dan sebaiknya nama-nama bakal calon harus diverifikai dan diterima.
“Nama-nama bakal calon itu baiknya diverifikasi dan diterima semua, agar mereka dapat berkompetisasi di Pemira,” ujarnya.
Syaiful Anwar juga meminta kepada seluruh mahasiswa agar melakukan penolakan Pemira dengan aksi damai.
“Tolong jika memang ingin mengeluarkan aspirasi dengan aksi damai jangan brutal, kami disini menyaksikan dan akan mendengarkan aspirasi kalian dalam penolakan ini. mari kita selesaikan secara damai di dalam dengan tiga perwakilan masing-masing fakultas,”ajak Syaiful.
Berdasarkan hasil mediasi mahasiswa dengan IAIN, memuat dua opsi yang ditawarkan Rektor IAIN melalui Warek III bersama Dekan Fakultas Syariah & FEBI berikut dengan Wadek III yakni, menerima dan mengakomodir seluruh bakal calon bersengketa dengan melanjutkan pemira. Jika poin pertama tetap ditolak maka Pemira ditunda selama 2 bulan. (Ramona/Juanda)









