Harianpilar.com, Lampung Selatan – Harga ayam potong dan telur di pasar tradisional sejak sepekan mengalami kenaikan seperti yang terjadi di Pasar Inpres Kalianda Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel).
Naiknya harga ayam poptong dan telur ini menyebabkan para pedagang dan pembeli mengeluh. Pasalnya, harga beli dari pemasok dari harga Rp18 ribu perkilogram menjadi Rp20 ribu perkilogram, sementara itu harga telur dari pemasok Rp17 ribu perkilogram, saat ini naik mencapai kisaran Rp21.200 perkilogram. “Untuk harga ayam potong kami jual Rp35 ribu, satu ekornya dengan ukuran 1,5 kilogram, sementara itu untuk telur kami jual Rp23 ribu perkilogramnya,” kata Suharti, pedangang yang ada di Pasar Inpres Minggu (24/1/2016).
Suharti juga menambahkan, kenaikan harga ayam potong tersebut sejak tahun baru 2016 yang lalu, sementara untuk kenaikan harga telur disebabkan harga beli dari pemasok telur mengalami kenaikan, dari harga Rp16 ribu hingga Rp17 ribu perkilogram saat ini menjadi Rp21.200 perkilo.
“Kami juga tidak tahu apa penyebab naiknya harga ayam potong tersebut, katanya sih karena pakannya mengalami kenaikan, terus terang saya heran. Padahal telur ini kan hampir tidak pernah mengalami kelangkaan, kok harganya malah naik terus, naiknya Rp500, kalo tahun lalu harga telur yang kami jual cuma Rp20 ribu perkilo, namun saat ini jual Rp23 ribu perkilogram,” tambahnya.
Dia juga menjelaskan, kenaikan harga terutama telur bisa dua kali dalam sehari, sehingga dirinya menjual disesuaikan dengan harga dari pemasok. “Sebenarnya kami tidak mau jual telur, tapi kebutuhan pokok. Kalaupun harus tetap menjual, tapi keuntungannya nihil, karena harga membingungkan. Belum lagi kalau ada telur-telur yang pecah, bukan untung, malah nombok,” jelasnya.
Selanjutnya kata dia, dirinya sedikit kesulitan jika harga telur belum setabil dan terus naik. Sedangkan sulit harga telur itu untuk turunnya. Akibatnya, tak sedikit pembeli yang mengeluhkan adanya kenaikan harga telur tersebut.
Pihaknya berharap kepada pemerintah setempat agar dapat memberikan solusi dan memberikan penjelasan terkait harga tersebut. Sehingga, penjual mendapatkan hak yang layak begitupun konsumen tidak merasa dirugikan. “Harapan saya sih harga ayam potong dan telur cepat turun, supaya padagang enak menntukan harganya, dan konsumen juga tidak komplain,” harapnya.
Sementara itu menurut salah seorang konsumen Ratna, dirinya sebagai konsumen mengaku heran atas naiknya harga ayam potong tersebut, bahkan untuk telur kerap naik. Sebab telur saat ini terbilang tidak sulit didapat.
“Saya heran harga ayam potong dan telur naik terus, masalahnya ayam potong dan telur gak susah didapat, tetapi harganya kok naik terus. Jadi, sedikit repot membagi uang belanjanya, kalau harga sembako ada yang naik salah satu kayak telur ini. Saya berharap harga sembako yang merupakan kebutuhan pokok bisa didapat dengan harga murah,” harapnya. (Saiful/Mar)









