oleh

Pegawai TKS Mengaku Dirampok, Rp30 Juta Uang Disdik Raib

Harianpilar.com, Tanggamus – Dinas Pendidikan (Disdik) Tanggamus dinilai terlalu sembrono soal uang dan kini harus kebakaran jenggot. Betapa tidak, bukannya melakukan efisiensi anggaran demi kelangsungan program, uang sebesar Rp30 juta yang disinyalir milik disdik justru raib begitu saja.

Sebelum raib pada Senin (2/11/2015) sekitar pukul 17.00 WIB, uang itu diambil oleh Alimudin (30) dari Bank Lampung Kotaagung. Alimudin yang belakangan diketahui seorang tenaga kerja sukarela (TKS) di disdik, meletakkan uang puluhan juta itu di dalam tasnya. Dalam perjalanan pulang dari bank, dia mengaku telah dirampok tiga pria berhelm di jembatan Pekon Talangrejo, Kecamatan Kotaagung Timur.

Sangat disayangkan, para petinggi Disdik Tanggamus terkesan buang badan dan menganggap sepele raibnya uang puluhan juta itu. Padahal, ada pertanyaan krusial yang seharusnya diklarifikasi oleh disdik, mengapa bisa uang sebanyak itu begitu mudahnya dipercayakan kepada seorang TKS? Dan jika sudah demikian, lantas siapa yang akan bertanggungjawab terhadap uang puluhan juta itu? Karena bukannya tidak mungkin, hilangnya uang itu akan menghambat program-program kerja disdik.

Meski sempat dipingpong sana-sini, akhirnya sedikit demi sedikit mulai tampak kejelasannya. Saat hendak dikonfirmasi terkait peristiwa ini, Kepala Disdik Tanggamus Anas Anshori sedang berada di Bandung. Penelusuran lalu diarahkan ke Sekretaris Disdik Hi. Amiruddin Harun. Respons Amiruddin Harun pun cukup mengejutkan, sebab dia mengaku sama sekali belum mengetahui perampokan ini. “Wah, begitu ya? Tapi maaf sekali ya, saya malah belum dengar apa-apa. Silakan coba tanyakan ke Bidang Kepegawaian atau ke Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras). Karena kalau tidak salah, TKS yang bernama Alimudin itu tugasnya di Bidang Sarpras. Sekali lagi maaf ya, saya buru-buru. Ini dipanggil Pak Bupati,” ujar Amiruddin Selasa (3/11/2015) siang sambil berlalu.

Tak berhenti di situ, penelusuran berlanjut ke Kabid Kepegawaian Haru Abimanyu. Menurut dia, kabar perampokan ini sudah didengar sejak Selasa pagi. Namun lagi-lagi, tak ada jawaban pasti. Haru hanya membenarkan, bahwa Alimudin merupakan TKS di Bidang Sarpras Disdik Tanggamus yang masa kerjanya sudah lebih dari lima tahun. “Tapi kalau soal uang apa yang dibawanya, saya juga tidak tahu. Untuk jawaban pastinya, silakan tanyakan saja ke Kabid Sarpras. Karena Alimudin kerjanya di bagian itu. Kalau dari saya, hanya sebatas itu yang bisa saya sampaikan,” sebut Haru seusai makan siang di kantin belakang kantor disdik.

Sayangnya, Kabid Sarpras Beni Irawan, kemarin tidak dapat ditemui di kantor. Meski sudah ditunggu hingga pukul 15.00 WIB, dia tak kunjung terlihat. Sementara Syaiful Adnan (35) yang merupakan kakak kandung Alimudin dan sama-sama bertugas di disdik membenarkan, bahwa adiknya dirampok tiga pria yang semuanya menggunakan helm full-face.

“Adik saya itu baru pulang dari Bank Lampung di Kotaagung Senin sore dan mau pulang ke rumah. Begitu sampai di jembatan Talangrejo, dia dihadang tiga pria pakai helm full-face. Kata adik saya, awalnya mereka mau merampas sepeda motor Yamaha Mio sporty warna hijau yang dikendarai adik saya. Tapi setelah tahu kalau adik saya membawa uang banyak di dalam tas, motor nggak jadi diambil. Malah tas berisi uang itu yang diincar mereka. Saya juga kurang paham uang apa yang dibawa itu. Maaf ya, saya mau ke polres dulu mendampingi adik saya yang sekarang sedang diperiksa,” kata dia seraya bergegas pergi dari kantor, entah untuk menghindari kejaran media atau memang benar mau mendampingi Alimudin di mapolres.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Samsuri, mendampingi Kapolres AKBP Ahmad Mamora membenarkan pencurian dengan kekerasan (curas) tersebut. Samsuri mengatakan, Alimudin sudah melaporkan peristiwa yang dialaminya. Dan saat ini, polisi masih memeriksa Alimudin untuk mendalaminya. “Dia (Alimudin) sudah melapor dan ini sedang dimintai keterangan oleh penyidik. Tunggu saja nanti perkembangannya, apakah ini murni aksi kriminal atau ada skenario lain di balik ini semua. Karena jujur, kami tak habis pikir, kok bisa Disdik Tanggamus dengan mudahnya mempercayakan pengambilan uang puluhan juta rupiah itu kepada seorang TKS. Tanpa pengawalan pula dan hanya dibawa menggunakan sepeda motor. Apa di dinas itu tidak orang lain yang bisa lebih diandalkan selain TKS? Ini kan sangat berbahaya. Akibatnya ya seperti ini,” ujar Samsuri melalui sambungan ponselnya. (imron/joe)