oleh

Buruh Keracunan Dapat Santunan

Harianpilar.com, Bandarlampung – Sejak sepekan lalu, paska peristiwa buruh keracunan di Pelabuhan Panjang, Kapal KM Horai, bermuatan karnel biji sawit 1000 ton, masih sandar di Dermaga C, Pelabuhan, Panjang, dengan garis polis line.

Sementara meski bukan berstatus karyawan pihak Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Transindo Jaya, tetap memberikan santunan kepada para korban meninggal, termasuk korban yang dirawat di rumah sakit.

“Dua korban meninggal sudah diberi santunan, meski bukan karyawan PT Transindo. Tapi sebagai bentuk kepedulian, karena kami hanya perusahaan jasa angkutan. Terhadap kasus itupun, semua pihak korban tidak ada yang mau menuntut, dan mereka buat dalam pernyataan tertulis,” kata karyawan PT Transindo Jaya Halidi, Selasa (3/11/2015).

Halidi menceritakan, bahwa kondisi saat ini, pihaknya merugi ratusan juta rupiah, karena barang buatan tidak bisa dibongkar. Pihak PT Transindo, sementara masih menunggu ijin Polresta Bandar Lampung. Halidi, membenarkan isi kapal belum bisa di Bongkar.

“Ya belum di bongkar mas, masi menunggu penjelasan dari Polresta, dan hingga kini sudah tujuh hari belum aja kejelasan dari Polresta,” kata Halidi.

Dikatakannya, PT Transindo Jaya dirugikan akibat lambatnya proses bongkar muat tersebut, sementara biaya di Pelabuhan, masih menjadi beban PT Translindo. “Perhari kita kena biaya PBM, sandar, dan lain lain, operasional, mencapai Rp15 juta perhari. Sekarang sudah masuk hari ke 9, sudah 120 juta,” kata Halidi, yang mengaku karyawan PT Transindo.

Apalagi, banyak peralatan yang sifatnya sewa. “Kontrak sewa hanya lima hari, karna musibah, jadi sampai sekarang, kami bingung soal hukum, apa proses hukum yang berjalan harus berakibat merugi. Kalo di bongkar, kan tidak mengganggu. Tidak mungkin kapal dan isinya ini dibawa sidang ke pengadilan,” katanya.

Padahal, katanya, waktu itu banyak disaksikan kepolisian, katanya barang boleh di bongkar, dan proses hukum jalan. “Tapi katanya belum boleh, kami tidak tahu kenapa, kami sedang menunggu. Sementara muatan itu kini semakin berkurang kualitasnya,” katanya. (Joe/JJ)