oleh

Dedy Mawardi: KSP Harus Paham Presiden

Harianpilar.com, Bandarlampung – Jabatan kepala kantor staf (KSP) Presiden pasca ditinggal Luhut Binsar Panjaitan, kini banyak menjadi incaran para pendukung Jokowi baik dari partai politik maupun loyalis relawan Jokowi.

Masing-masing pihak berlomba-lomba memberi argumentasi yang terkesan “ideologis” dan “faham” betul sosok Presiden Jokowi dengan Nawacitanya, seperti…”KSP sebaiknya diisi oleh loyalis sejati Presiden yang berkeringat dan berdarah-darah pada saat pilpres. Kepala staf adalah orang-orang yang benar-benar memahami Nawacita bahkan ada yang berpendapat langsung menunjuk nama seseorang.

“KSP sebagai institusi baru, tidak terbantahkan hadir sebagai institusi yang membantu Presiden di luar Setneg dan Setkab dalam hal memberikan informasi, formulasi dan solusi kebijakan yang cepat terkait munculnya persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik dan pertahanan keamanan sehari-hari di Indonesia,” Ketua Seknas Advokat Indonesia Dedy Mawardi, SH, dalam rilis yang ditrerima Harian Pilar, MInggu (30/8/2015).

Menurut Dedy, KSP adalah institusi yang sangat strategis bagi Presiden Jokowi.

“Oleh karena itu, KSP harus dipimpin oleh orang-orang yang tidak hanya faham Nawacita tapi di isi oleh orang yang “dekat” baik secara fisik maupun non-fisik yang setiap hari bisa ketemu dan diskusi dengan Presiden, memiliki pengalaman didalam mengurus negara atau pemerintahan, memiliki jaringan lintas institusi/kelembagaan dan kepemimpinan yang kuat sekapasitas Luhut Binsar Panjaitan. Dan yang paling penting paham Presiden baik secara idiologis, psikologis maupun budaya,” jelasnya.

Ditegaskan Dedy, ada 5 kriteria sosok yang pantas menggantikan Luhut Binsar yakni, orang yang benar-benar dekat secara politis dan budaya, pernah berkecimpung dalam pengelolaan negara atau pemerintahan, memiliki jaringan yang kuat dengan lembaga/institusi formal dan non-formal Negara, memiliki kepemimpinan yang kuat dan faham dan mampu untuk mewujudkan program Nawacita. (Rls/JJ)