Harianpilar.com, Mesuji – Berbagai kerusuhan dan konflik berdarah di Kabupaten Mesuji yang akhir-akhir ini terjadi nampaknya membuat Bupati Mesuji Khamami pusing. Pasalnya, konflik berdarah yang terjadi di Mesuji berdampak luas bagi pertumbuhan Kabupaten Mesuji yang tenggah berkembang di mata masyarakat baik ditingkat provinsi maupun nasional, terlebih banyak beredarnya senjata api (Senpi) ilegal dan berkembangnya narkoba di Mesuji.
Khamami menilai, berbagai konflik berdarah yang terjadi di Mesuji memang menjadi kendala terlebih masyarakat luar menilai Kabupaten Mesuji sangat negatif akibat pertumpahan darah terus menerus. Apalagi, beberapa pekan terakhir bentrok berdarah terus terjadi dan ini juga dipicu akibat peredaran senpi serta narkoba yang sagat luas dan sulit dikontrol.
“Konflik berdarah akhir-akhir yang terjadi saat ini tentunya membuat masyarakat cemas terlebih warga pendatang. Hal ini juga bisa dilihat keributan yang terjadi pasti kedua kelompok mengunakan senjata api ilegal. Artinya peredaran senjata api ini sagat banyak sehingga setiap bentrok selalu terdengar korbannya terkena tembakan,” paparnya.
Dikatakan Khamami, padahal dirinya selama menjabat sebagai Bupati Mesuji tidak kurang-kurangnya mewarning warga supaya tidak menggunakan atau memiliki senjata api (Senpi) ilegal alias tanpa izin, baik media sosialisasi maupun disampaikan secara langsung kemasyaakat tetapi masyarakat tetap tidak mengindahkannya sehingga setiap bentrok selalu senpi ilegal yang terdegar. Bentrok antar kelompok masyarakat.
“Kita ambil contoh, keributan yang terjadi belum lama ini antara warga Kagungan Dalam Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Meusji dengan Sungaiceper Kecamatan Sungaimenang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dimana bentrok tersebut telah memakan korban jiwa dan ini taklain disebabkan akibat letusan senpi ilegal tersebut,”sesalnya.
Padahal, lanjut Khamami, sosialisasi agar masyarakat tidak memiliki senjata api sudah sering kali dilakukan, baik melalui akun facebook maupun bertatap muka langsung tetap tidak diindahkan. “Kita tidak tau harus bagai mana lagi, dan ini bisa dilihat setiap keributan senjata api selalu keluar dan ini terutama di desa perairan yang apabila setiap kejadian selalu menggunakan senjata rakitan serta maraknya peredaran dan penggunaan narkoba,”imbuhnya.
Lebih dalam dipaparkan Khamami, tingginya peredaran senjata api, dan narkoba di Mesuji tentunya diharapkan ada langkah nyata dari aparat keamanan baik TNI maupun polri. Karena, Pemkab Mesuji sendiri sudah sering kali melakukan sosialisasi, penyuluhan dan himbauan larangan sudah sering dilakukan, namun sepertinya belum sepenuhnya ditinggalkan kebiasaan yang kurang baik tersebut.
“Jika tidak dilakukan tindakan hukum, keamanan Mesuji selalu dibayangi dengan kehawatiran yang tidak diinginkan. Dia meminta supaya aparat penegak hukum merazia setiap rumah, di mana sudah saatnya untuk dilakukan. Para pemilik senjata api tanpa izin dihimbau untuk menyerahkan kepada kepolisian atau TNI atau kepala desa, sebelum ada tindakan hukum,”tukasnya. (Sandri/JJ)









