Harianpilar.com, Tulangbawang Barat – Terbongkarnya dugaan penyimpangan dalam pengerjaan mega proyek Islamic Center dan Sesat Agung Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubarat) memantik kekecewaan dari masyarakat setempat terhadap Kepemimpinan Bupati Tubarat Umar Ahmad.
Apa lagi hingga kini belum terlihat sikap tegas dari Umar Ahmad terhadap masalah tersebut. Sebagai Bupati Tubarat, Umar Ahmad dinilai seharusnya mendukung langkah DPRD setempat untuk menghentikan proyek itu, dan dilakukan evaluasi secara komprehensif terhadap rekanan dan para pejabat Dinas PU yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut.
“Kami kecewa sepertinya Bupati Tubarat tidak bersikap tegas dalam masalah ini. Harusnya Bupati mendukung penghentikan proyek itu,” tegas Wardi, warga Tubarat, Kamis (25/6/2015).
Selain itu, lanjutnya, harusnya Bupati berani bersikap tegas dengan mengevaluasi rekanan dan pejabat PU yang bertanggung jawab terhadap proyek itu.”Kan yang menemukan adanya penyimpangan itu anggota DPRD. Kemana pengawas dari Dinas PU kok bisa kecolongan dan diam saja jika pengerjaan proyek itu tidak benar. Bupati harus bersikap tegas,” cetusnya.
Terpisah, Kepala Kejaksaan negeri (Kejari) Menggala, Zuhandi.SH, mewarning agar pengerjaan proyek Islamic Center dan Sesat Agung itu dilakukan sesuai ketentuan.Jika tidak, maka pihak-pihak yang terlibat harus berurusan dengan hukum.
“Kalau sekarang memang kewenangan Dewan untuk mengawasinya. Kami ingatkan agar pengerjaanya sesuai ketentuan, jika tidak mau berurusan dengan hukum setelah pekerjaan itu selesai nanti,” tegasnya.
Sementara, Bupati Tubarat, Umar Ahmad, hingga berita ini diturunkan belum berhasil di konfirmasi. Beberapa kali dikonfirmasi selalu tidak menjawab meski ponselnya dalam keadaan aktif. Begitu juga pesan singkat yang dikirim ke ponselnya, tidak dijawab.
Seperti diketahui, DPRD Tubarat melakukan inspeksi mendadak terhadap proyek pembangunan Islamic Center dan Sesat Agung Tubaratn yang diduga kuat sarat penyimpangan. Dalam sidak ini, para wakil rakyat itu menemukan banyak kejanggalan baik dari segi kualitas bahan bangunanya maupun kualitas pekerjaanya.
Selain menemukan tiang pancang yang tidak maksimal, para anggota DPRD Tubarat juga menemukan lantai untuk meletakkan cakar ayam tidak menggunakan batu 1.2 dan 2.3.
Bahkan bahan bangunan yang di gunakan dalam pelaksanaan pembangunan Islamice Center dan Sesat Agung diragukan kualitasnya, baik dari pasir maupun batunya.
Parahnya, kedua proyek ini juga tidak memiliki papan proyek, papan proyek justru ada di dalam lokasi camp bangunan.
Ketua Komisi C DPRD Tubarat, Paisol. SH, mengakui pihaknya kecewa dengan pelaksana pembangunan Islamice Center tersebut. Selain tiang pancang yang terpasang tidak maksimal, cakar ayam tidak memiliki kekuatan dalam mengunci pondasi bangunan. Bahan bangunan juga dinilai tidak masuk standar untuk pembangunan.
Paisol menjelaskan, anggota dewan yang melakukan sidak merupakan lintas komisi, yang terdiri dari komisi A,B,C yang tergabung secara bersama, dalam melaksanakan pengawasan terhadap pembangunan di wilayah setempat.
Ketidak beresan pengerjaan kedua proyek ini juga diakui oleh pihak pekerja.”Kami akui ada kekeliruan, kontroling spek pekerjaan terhadap lantai kami kira tidak menggunakan Beton mutu K setelah kami cek ternyata dalam speknya memang menggunakan. Maka dari itu ini sudah kami perbaiki,” kilah Alek selaku Pelaksana Lapangan dari Perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut kepada sejumlah awak media baru-baru ini.
Dan sangat lebih mencengankan dan semakin menambah kuatnya dugaan adanya permainan dalam proyek tersebut setelah Alek selaku Pelaksana kegiatan dari Rekanan menyatakan bahwa kesalahan tersebut baru pihaknya ketahui setelah adanya kunjungan dari Anggota DRPD Tubarat dalam bentuk Sidak.
“Kemarin kita dapat teguran dari dewan, maka apa yang disampaikan setelah kita pelajari dan sesuaikan dengan RAP ternyata salah maka kami langsung memperbaikinya. Bahkan jika hal tersebut memang kita ketahui maka pastinya akan kami perbaiki,” pungkasnya. (Epriwan/Juanda)








