Harianpilar.com, Bandarlampung – Program bina lingkungan (Biling) penerimaan siswa baru yang digagas Pemkot Bandarlampung terkendala dalam proses verifikasi lokasi (rumah-red) calon siswa Biling, hingga memakan waktu yang cukup panjang. Seperti yang dialami SMAN 7 Bandarlampung.
Wakil Kepala SMAN 7 Bandarlampung Dasimah mengatakan, meski panitia sudah dibagi berdasarkan zona, namun tetap saja menemukan kesulitan dalam menemukan lokasi rumah calon siswa biling yang telah mendaftar di sekolah tersebut.
Untuk menemukan satu rumah saja, diakui guru yang pernah mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam ini, panitia harus menghabiskan waktu berjam – jam berkutat di daerah yang sama.
“Meski hanya berbekal nama salah satu orang tua, tidak menjamin memberikan kemudahan dalam pencarian karena bisa saja orang tuanya kurang dikenal oleh warga sekitar,” jelas Dasimah, Kamis (10/6/2015).
Tak hanya itu saja, jelasnya, dalam formulir pendaftaran, kerap pendaftar tak menggambar denah lokasi rumahnya dan tidak mencantumkan nomor telepon seluler miliknya, sehingga tidak bisa melakukan komunikasi saat mencari lokasi rumah.
“Pendaftar sering tidak menggambar denah, tidak menuliskan nomor telepon yang bisa kami hubungi. Kami akui panitia juga lalai dalam memeriksanya,” aku Dasimah.
Namun, meski dengan masalah tersebut, pihaknya tetap harus dapat menemukan lokasi di mana calon siswa biling menetap untuk mengetahui layak atau tidaknya masuk dalam kelas Biling yang merupakan program unggulan khusus Kota Bandarlampung saja.
“Harus ketemu pokoknya karena kita bisa melihat dari situ kriteria kurang mampunya. Kita juga harus bertanya kepada lingkungan sekitarnya apakah benar anak itu benar tinggal di sana dengan orang tuanya, atau hanya baru menetap bahkan titipan saja. Itu bisa mempengaruhi lolos tidaknya,” paparnya.
Dasimah memaparkan hingga kini jumlah calon siswa biling yang terdaftar sebanyak 266 orang dengan kesediaan kelas 10 kelas, sehingga untuk setiap kelas sebanyak 32 orang siswa biling. “Udah jalan survey selama 4 hari lalu dengan 10 guru dalam 5 tim. Memang jika berdasar pada jadwal udah tutup tapi gak menutup kemungkinan untuk dibuka kembali tergantung kebijakan mengikuti,” jelasnya.
Dasimah berharap ke depan, untuk pendaftaran siswa biling, dapat mencantumkan nilai sebagai persyaratan sehingga tidak menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. “Kualitas anak pun harus diperhatikan sehingga tidak hanya karena dorongan orang tua semata sementara mental anaknya misalnya malas – malasan sehingga menjadi kendala ke depannya. Dulu ada anak biling yang hanya karena orang tuanya ngotot agar anaknya bisa diterima namun kenyataannya anak tersebut malas – malasan sekolah, kerap gak masuk. Menjadi kendala ketika penentuan kenaikan kelas sehingga tidak dapat lanjut,” cerita Dasimah. (Lia/JJ)









