Harianpilar.com, Bandarlampung – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jendral Moeldoko mengajak 3000 mahasiswa Lampung dari 10 perguruan tinggi menyikapi langkah Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Moeldoko menilai langkah itu sudah semestinya mendapat pengawalan TNI di mana nantinya pada 2025, Indonesia memasuki masa masuk penduduk produktif (fix population) sehingga dapat menjadi 10 negara besar pemain ekonomi dunia.
Oleh karena itu maka dirinya meminta peran TNI bersama para mahasiswa potensi konflik di Indonesia dalam menimalisir truble spot seperti di Aceh, Poso, Papua, Ambon termasuk di Lampung.
“Perlu ada integrasi semangat dan sinergis usaha TNI bersama komponen bangsa lain seperti mahasiswa dalam menjaga keamanan negara yang sangat dibutuhkan menghadapi situasi yang dapat merusak eksistensi langkah kita menuju tingkat internasional,” kata Moeldoko saat menghadiri kuliah umum kepada mahasiswa se-provinsi lampung di gedung serba guna (GSG) Universitas Lampung (Unila), Selasa (19/5/2015).
Selain itu ia juga mengajak para insan intelektual di provinsi Sai Bumi Ruwa Jurai ini juga memiliki 4 kunci menghadapi langkah menghadapi masa depan dalam kancah globalisasi meliputi sikap antisipasi, adaptasi, mampu berkembang baik dan terus lakukan inovasi dalam menyikapi hidup.
Langkah itu pula yang mampu membentengi para mahasiswa dalam menghadapi 10 tren ekstrim dari pengaruh masuknya Indonesia kedalam lingkup pergaulan kehidupan internasionalisasi.
Seperti terbatasnya sumberdaya energi, terus terjadinya inovasi dibidang ekonomi, peningkatan tekanan hidup dalam meningkatkan sumberdaya manusia hingga harapan hidup lebih dari 100 tahun.
“itu juga diikuti ancaman perubahan iklim, masa depan globalisasi dirongrong ancaman keamanan perang masa depan seperti perang asimetris dan budaya. Dikuti juga semakin berkembangnya ilmu pengetahuan aneh dengan makin intensnya penemuan IPTEK unik. Ditambah masa depan individu lebih terpaut hak perseorangan yang terbelenggu kecanggihan teknologi sampai kebangkitan negara berkembang seperti Tiongkok sebagai pusat ekonomi dunia,” paparnya. (Lia/JJ)









