oleh

Warga Pertanyakan Bubuk Abate Gratis

Harianpilar.com, Bandarlampung – Puskesmas di Bandarlampung tampaknya enggan menjalankan instruksi Wlikota Bandarlampung Herman HN terkait pembagian bubuk abate, guna  menekan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

“Kita memang belum menerima bubuk abate itu kok, tapi denger-denger sih , kalau kita perlu abil aja di Puskesmas,”  ujar salah seorang warga Sukarame, Anita Mayasari, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (11/4/2015).

Dijelaskan Anita, jika masih banyak warga sekitar yang belum mengetahui jika bubuk abate dapat diambil secara gratis di Puskesmas, pasalnya tidak ada sosialisasi yang dilakukan oleh Puskesmas ataupun Puskeskel tentang bubuk abate.

“kaYaknya sih belum banyak yang tahu tentang bubuk abate gratis itu, karena kita juga kan baru denger-denger aja, belum ada orang puskes yang ngejelasin ke kita,” terangnya, seraya menjelaskan hingga saat ini, dirinya dan warga pun belum mendapatkan bubuk abate gratis itu.

“Belum dapet kita, kalau di bagiin ke rumah secara gratis mah kita ambilah, tapi kalau gratis,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Bandarlampung Imam Santoso mengatakan  jika seharusnya pihak Puskesmas, jangan hanya menunggu Warga untuk datang dan meminta bubuk abate, melainkan juga harus membagikannya kepada warga baik melalui kelurahan ataupun ketua RT setempat.

“Nah, ini yang tidak dijalankan. Pastinya Kadiskes pun sudah intruksikan jajarannya di puskesmas untuk bergerak dan turun. Tapi pertanyaanya apakah dijalankan ataukah tidak sama sekali dan hanya menunggu warga untuk datang,” terangnya, saat di hubungi via telepon, Minggu (12/4/2015).

Menurutnya,  Puskesmas maupun Puskeskel yang ada di kota ini, harus maksimal dalam memberikan pelayanan kesehatan, serta tanggap dengan keadaan masyarakat sekitar, sehingga semua masyarakat merasa benar-benar dilayani oleh Puskesmas atau Puskeskel.
“Jadi, tolong dong bantu pak wali kita ini untuk turun ke masyarakat lakukan penyuluhan tentang DBD dan berikan bubuk abate tanpa menunggu warganya meminta. Lalu, petugas poskeskel maupun puskesmas juga bisa melihat tempat-tempat sarang nyamuk agar dapat mengimbau masyarakat yang awam,” tuturnya.

Maka dari itu, komisi IV kata dia, meminta agar petugas kesehatan yang ada hingga lingkungan kelurahan dan lingkungan dapat lebih giat untuk turun ke masyarakat dan bekerjasama dengan ketua RT.

“Jadi janga mereka bilang tidak bisa karena tidak ada waktu dan ngomong sibuk. Pesoalan turun ke lapangan kan bisa melakukan penjadwalan yakni mengatur manajemen waktu kerja dan tim yang turun. Terlebih selain gaji ada insentif kepada mereka dari pak wali, dan pak wali sudah bayarkan masa iya anak buahnya nggak mau bantu apa yang diharapkan pemimpin kota ini,” tandasnya (Buchari/JJ).