oleh

Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung ‘Ngamuk’ Rektorat Hancur

Harianpilar.com, Bandarlampung – Demo ratusan mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berakhir ricuh. Insiden ini dipicu lantaran pihak mahasiswa tidak terima setelah sekretaris pribadi wakil rektor II Idhaman Warga, diduga melakukan pemukulan terhadap salah seorang mahasiswa.

Akibat aksi pemukulan itu, mahasiswa yang emosi spontan membalas dengan melakukan pengeroyokan terhadap Idhaman. Tak ayal ke dua pihak baik mahasiswa maupun Idhaman mengalami luka-luka.

Tidak terima dengan aksi pemukulan yang dilakukan Idhaman, pihak mahasiswa melaporkan aksi anarkis itu pihak polisi.

“Kami sudah melakukan pelaporan aksi pemukulan terhadap salah seorang mahasiswa ke Polsek Sukarame,” kata Senior UKM SBI Chepri Hutabarat, di sela-sela aksi demo menolak pungutan liar (pungli)  yang dilakukan pihak kampus terkait uang pembangunan masjid yang dipatok IAIN sebesar Rp500 ribu, Rabu (11/3/2015).

Untuk diketahui, aksi demo mahasiswa ini menolak pungli yang selama ini dirasakan mahasiswa sangat memberatkan dan tidak memiliki dasar atas pungutan tersebut.

“Ya kami keberatan dong dengan himbauan itu, katanya sukarela tapi dipatok sebesar Rp 500 ribu untuk yang mau wisuda, kalau mahasiswa baru yang masuk 2014 bayar juga Rp500 ribu, kalau tahun 2013 itu Rp350 ribu, sukarela tapi kok dipatok. Kalau yang mau wisuda nggak bayar, diancam nggak boleh wisuda,” ungkap Koordinator Lapangan SBI Ahmad Hadi Baladi Ummah.

Hadi juga mengakui jika awalnya mereka tidak ingin melakukan unjuk rasa, namun hanya memasang Banner yang berisi himbauan untuk mengahapuskan semua bentuk pungli di kampus. Namun, belakangan banner tersebut dicopot  oleh salah seorang dosen sekaligus Pembina UKM SBI Eva Rodiah Nur.  Akibat banner tersebut dicopot mahasiswa menggelar unjuk rasa.

“Kami awalnya memasang banner yang berisi tulisan “Berantas Semua Bentuk Pungli di Kampus Ini” tapi benner kami dilepas, itu banner pertama mas. Setelah itu kami buat banner lagi dengan isi yang sama, kami pasang lagi malah dilepas. Kebetulan waktu itu ada yang lihat kalau yang lepas itu Bu Eva Rodiah Nur selaku pembina kami. Dia turun dari mobil terus ngelepas banner, ada saksinya mas, itu malah staff kampus yang ngomong,” paparnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, mahasiswa IAIN melakukan unjuk rasa pada pukul 09.30, mereka melakukan long march yang dimulai dari depan perpustakaan pusat IAIN dan dilanjutkan mengelilingi tiap-tiap fakultas di kampus itu.

Suasana sempat menegangkan ketika puluhan mahasiswa tersebut membakar ban di halaman fakultas syariah,  diiringi dengan musik yel-yel menggunakan alat-alat musik.

“Siapa bakar ban itu, tidak menghargai itu, saya laporkan ke polisi nanti,” ujar Wakil Dekan III Fakultas Syariah Supaijo.

Bahkan tidak hanya itu, mahasiswa menggelar swepping untuk menglilingi setiap ruangan di fakultas tersebut untuk mencari Eva Rodiah Nur, setelah beberapa menit tidak menemukan Eva, massa kembali berkumpul dan berorasi kembali.

Kapolsek Sukarame Kompol I Made Bayu Sutha, yang berada di lokasi berhasil mengamankan Idhaman yang menjadi sasaran amuk massa.

“Bapak itu harus diamankan, biar suasananya kembali kondusif,” tegasnya.

Akibat unjuk rasa tersebut, 3 mobil rusak, kaca gedung kantor rektorat pecah-pecah bahkan ruangan dalam kantor pun menjadi rusak, belum diketahui kerugian akibat insiden itu.

Sementara,  Kabag Administrasi Umum, Akademik dan Kemahaasiswaan (AUAK) IAIN Raden Intan Lampung Habiburahman membantah, jika pihaknya menentukan besaran sumbangan sukarela pembangunan masjid.

“Nggak ada, Kita nggak tentukan, itu kan sumbangan sukarela. Kalau mau nyumbang silahkan, itu juga diberlakukan untuk dosen bukan hanya mahasiswa,” ujarnya.

Menurutnya, pihak kampus IAIN Raden Intan tidak pernah menghalangi mahasiswa untuk wisuda sebab tidak membayar uang sedekah tersebut.

“Enggak pernah, namanya sumbangan sukarela kan, kita nggak pernah menghalangi yang mau wisuda kalau enggak bayar uang sumbangan itu gak papa,” paparnya.

Dalam aksi itu, mahasiswa mendesak pihak IAIn untuk menghapus Infaq bernominal Rp500 ribu pada calon wisuda, kembalikan dana infaq bernominal pada Mahasiswa baru angkatan 2013 dan 2014, meminta Eva Rodiah Nur agar meminta maaf secara tertulis dan terbuka dan diberhentikan sebagai pembina UKM SBI IAIN, stop segala bentuk pungutan dan sumbangan yang mengatasnamakan agama di kampus itu. (Buchari/Juanda)