oleh

Karomani Minta Budi Sutomo Jadi Tersangka

Harianpilar.com, Bandarlampung – Terjadi ketegangan antara terdakwa mantan Rektor Unila Karomani, dengan saksi Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila Budi Sutomo, pada proses persidangan perkara suap penerimaan mahasiswa baru Unila 2022, di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Selasa (14/2).

Karomani menilai, ada tiga kesaksian Budi Sutomo penuh dengan kebohongan, untuk itu Karomani meminta kepada Jaksa KPK untuk menetapkan Budi Sutomo tersangka.

Menanggapi bantahan itu, Ketua Majelis Hakim Lingga Setiawan mempersilahkan Karomani menanggapi kesaksian Budi Sutomo.

“Ada tiga kesaksian yang saya ingin tanggapi, kesaksian yang penuh kebohongan,” kata Karomani.

Pertama, Karomani mengaku dirinya tidak pernah mengatakan kepada saksi Budi Sutomo bahwa, orang kaya wajib dan harus dipaksa berinfak.

Kedua, kata Karomani, pernyataan Budi tidak pernah menitipkan mahasiswa itu adalah kebohongan. Setiap tahun Budi titip mahasiswa.

“Itu bohong majelis, setiap tahun dia menitipkan mahasiswa kepada Saya. Dia bermain sendiri, saya minta KPK usut dia,” ungkap Karomani.

“Tetapkan saja dia sebagai tersangka,” tandas Karomani.

Menanggapi hal itu, Hakim Lingga menanyakan kepada Budi, namun Budi mengaku tetap pada keteranganya.

“Iya majelis, saya tetap pada keterangan saya,” ujarnya.

Meski demikian, Budi mengaku jika dirinya hanya dititipkan dari temannya.

“Di 2021 itu, itu teman saya yang dititipkan ke saya,” ujarnya.

Mendengarkan pengakuan Budi, Hakim Lingga menegaskan keterangan Budi jika ikut menitipkan mahasiswa.

“Berarti itu kamu menitipkan mahasiswa, jangan interpretasi kan bahwa itu dari temanmu tapi bukan kamu yang menitip. Jadi benar pernah menitipkan mahasiswa,” tanya Lingga.

“Iya, majelis,” jawab Budi.

Diketahui,  Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang kembali menggelar persidangan lanjutan perkara dugaan suap dan gratifikasi, terkait kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Unila pada 2022, atas nama tiga Terdakwa yakni Karomani, Heryandi dan Muhammad Basri.

Seorang saksi yang juga berstatus sebagai PNS Tulangbawang ngaku setor Rp150 jutausai anaknya dinyatakan lulus masuk Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Dimana dalam pelaksanaan agenda sidang ke sembilan kali ini, Jaksa Penuntut KPK menghadirkan sebanyak tujuh saksi diantaranya atas nama Ruskandi, Tugiyono, Evi Kurniawaty, Evi Daryanti, Budi Sutomo, Nurihari dan Shinta Agustina.

Dan salah satu dari saksi di atas merupakan seorang berstatus sebagai PNS di Kabupaten Tulangbawang Evi Daryanti mengaku memberikan uang Rp150 juta kepada Budi Sutomo. Disebut atas perintah Karomani untuk urusan pengisian furniture gedung LNC.

“Waktu itu saya ketemu Budi Sutomo teman lama saya, ketemu di rumah beliau. Saya konsultasi di bulan Juni, disuruh belajar, saya dikasih buku. Selaku orang tua ya kami mengusahakan untuk minta tolong, beliau bilang insyaallah,” ucapnya.

“Satu minggu setelah pengumuman beliau, main ke rumah saya di Palapa,” jelasnya.

“Dia bilang ‘maaf mbak maaf benar ini ada infaq’, saya kurang jelas untuk apa cuman setau saya ada sebutan untuk NU itu lah. Saya kasih 150 juta,” lanjut Evi Daryanti. (*).