oleh

Herman HN, Parosil dan Reihana Siap Divaksin

Harianpilar.com, Bandarlampung – Sebanyak 40.520 vaksin corona virus disease (covid) 19 telah tiba di Provinsi Lampung. Namun, vaksin itu belum boleh digunakan sebelum izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) terbit. Walikota Bandarlampung Herman HN, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus dan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung DR.dr. Reihana menyatakan siap menjalani vaksinasi pertama setelah izin EUA ada.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr.dr.Reihana, mengatakan, jumlah pasti vaksin covid 19 yang tiba di Lampung 40.520 dan vaksin itu masih disimpan dilokasi yang sudah sesuai standar penyimpan. Vaksin itu belum bisa dibuka atau digunakan sebelum izin EUA terbit.”40.520 itu jumlah pastinya. Tapi belum boleh dibuka sebelum ada izin EUA,” tandasnya, Senin (04/01/2021).

Disinggung apakah siap divaksin, Reihana dengan tegas menyatakan siap.”Siap” tandas juru bicara Gugus Tugas Covid 19 Provinsi Lampung ini.

Begitu juga Wali Kota Bandarlampung Herman HN. Dihadapan wartawan Walikota dua periode ini menyatakan siap menjadi orang pertama yang di vaksin, dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Selain menjadi orang pertama, pemberian vaksin akan berlangsung di 31 puskesmas dan rumah sakit se- Kota Bandar Lampung.

“Saya siap jadi yang pertama. Kami juga yakin, Kota Bandarlampung akan mendapatkan vaksin yang banyak sebab berada di zona merah,” jelas Herman HN.

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, juga menyatakan kesediannya untuk divaksin pertama.’Saya siap, agar masyarakat juga yakin. Ini demi pemutusan penyebaran covid 19,” ujar Parosil.

Menurut Parosil, masyarakat harus yakin apa yang dilakukan pemerintah adalah yang terbaik untuk semua.”Pemerintah tidak mungkin membuat kebijakan yang akan menyusahkan rakyatnya. Ini ikhtiar bersama untuk kebaikan bersama,” pungkasnya.

Diketahui, ribuan vaksin tahap pertama tiba di UPTD Instalasi Farmasi dan Kalibrasi Alkes Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung, pada Senin (4/1) sekitar pukul 01.30 Wib dini hari.

Mobil boks pengangkut vaksin bernomor polisi D 8888 SL itu dikawal ketat aparat kepolisian yang menurunkan dua unit barracuda, empat kendaraan taktis dan 35 personel kepolisian bersenjata laras panjang. Dua unit mobil Kimia Biologi Radiologi (kbr) juga turut mengawal pengiriman vaksin tersebut dari PT Bio Farma Bandung, Jawa Barat.

Terpisah, Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari BPOM Lucia Rizka Andalusia mengatakan perlu usaha besar dalam mendistribusikan vaksin Sinovac ke seluruh Indonesia. “Mengingat Indonesia negara kepulauan, perlu usaha besar untuk pendistribusian sampai ke titik penyuntikan,” kata Rizka dalam jumpa pers, seperti dilasir suara.com, Senin (04/01/2021).

Ia mengatakan meski izin penggunaan darurat/EUA vaksin COVID-19 belum keluar, distribusi antivirus dilakukan lebih awal. Kendati demikian, distribusi diperbolehkan agar nanti begitu EUA dirilis membuat vaksin COVID-19 bisa disuntikkan kepada penerima. Menteri kesehatan, kata dia, sudah menginstruksikan agar vaksin Sinovac bisa didistribusikan ke daerah sehingga menjadi bagian persiapan menyukseskan vaksinasi dan mendorong kesiapan petugas di daerah.

Rizka mengatakan prosedur tersebut merujuk Perpres 99/2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19. Dari perpres tersebut mengatur penyuntikan atau vaksinasi baru dapat dilakukan jika vaksin terkait mendapat EUA dari BPOM.

BPOM, kata dia, juga berupaya memastikan agar sepanjang jalur distribusi vaksin memenuhi persyaratan agar vaksin tetap efektif digunakan. Pengawalan mutu vaksin tersebut harus dilakukan mulai dari produk berasal dari industri farmasi sampai digunakan dalam pelayanan vaksinasi kepada masyarakat.

“Ini penting karena vaksin ini rentan mengalami kerusakan jika berada pada suhu dan tempat penyimpanan yang tidak sesuai dengan persyaratan. Mengingat proses vaksinasi bertahap, memerlukan waktu pelaksanaan agar masyarakat berpartisipasi aktif dalam vaksinasi. Sambil menanti, masyarakat agar disilplin protokol kesehatan,” pungkasnya.(Tim/Maryadi)

Komentar