oleh

Sarirogo Membantah

Harianpilar.com, Bandarlampung – Pengelola Agrowisata Kebun melon Universitas Lampung (Unila) Sarirogo membantah jika pengelolaan dan bagi hasil dari kebon melon itu bermasalah. Sarirogo menyatakan telah membuat laporan keuangan dan bagi hasil dengan sebenarnya. Bahkan, Sarirogo justru menyesalkan pembongkaran kebun agrowisata itu karena pemutusan hubungan kerjasama itu baru sepihak dan belum sesuai perjanjian kerjasama.

Persoalan bagi hasil untuk Unila yang hanya Rp2,5 juta, persoalan harga jual buah, pejualan buah yang dibeli dari luar, semuanya sudah sesuai dengan ketentuan.”Kita jawab satu-satu ya. Kenapa harga itu kita hitung berdasarkan harga grosir, karena dalam perkebunan itu ada buah superan, ada kualitas A, ada kualitas B. Dan harganya memang jauh berbeda,” ujar Sarirogo saat dihubungi Harian Pilar, Selasa (24/11/2020).

Menurutnya, melon honey harganya Rp25 ribu, melon golden Rp20 ribu, melon sky Rp15 ribu, dan melon rock Rp10 ribu.”Itu harga untuk melon kualitas A. Untuk kualitas B dan C harganya ya gak sama, bahkan kualitas B banyak juga buahnya yang rusak. Buahnya juga ada yang untuk dicicipi pengunjung, itu masuk operasionallah,” terangnya.

Sementara, lanjutnya, untuk buah kualitas C dijual ke luar karena tidak boleh dijual di lokasi Agrowisata Unila, karena kecil-kecil dan tidak manis. Sehingga dijual ke luar dan harganya kurang dari Rp5000.”Sesuai perintah pak Rektor juga, bahwa buah yang kualitasnya tidak baik tidak boleh dijual di Agrowisata,” tandasnya.

Buah super, jelasnya, sekitar 70 persen dipetik langsung oleh pengunjung dan ditimbang sebagai penjualan di lokasi Agrowisata,”Jadi buah yang kita timbang di belakang tidak semuanya kita ecer di lokasi kebun, kalau yang kecil dan tidak manis kita jual diluar.  Dan kita punya semua tanda terima penjualanya ke pengupul-pengepul,” terangnya.

Sarirogo mengaku lebih rugi karena ada buah yang dijual ke luar dengan harga yang lebih rendah, namun hal itu tidak jadi masalah karena tujuannya agrowisata untuk edukasi meningkatkan pemahaman di masyarakat tentang kebuh melon yang berkualitas,”Dari awalkan Unila tujuannya edukasi, sebagai bagian dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Bukan bicara keuntungan, tapi untuk pendidikan, penelitian. Kok sekarang biacaranya lebih ke bisnis dan profit. Kalau biacara bisnis masak menyewakan tanah seluas itu hanya Rp500 ribu, malu sama orang,” cetusnya.

Soal ada buah yang dari luar dijual di lokasi Agrowisata, Sarirogo mengaku hal tersebut memang ada, namun jumlahnya tidak signifikan. “Itulah yang saya pakai untuk pembiayaan anak-anak yang ada di sana. Itu ada catatanya, kalau mau dibuka saya siap buka. Kalau mereka minta itu dilaporkan, tolong mereka memberi contoh. Karena di lokasi agrowisata itu ada jual empek-empek, nasi bakar, sate padang, dan jualan lainnya yang jumlahnya ada puluhan dan semua juga tidak dilaporkan ke saya. Semuanya setor ke BPU Unila. Harusnya saya dapat 75 persen dari pendapatnya. Begitu juga parkir, tidak ada laporan ke saya,” tegasnya.

Sarirogo mengaku tidak menuntut semua itu karena memang dalam perjanjian kerjasama tidak ada perjanjian tentang itu,”Yang ada hanya perjanjian kita memberikan 25 persen dari keuntungan bersih. Kita kasih bagi hasil Rp2,5 juta untuk Unila karena keuntungannya Rp10 juta lebih sedikit. Tapi satu hal yang harus digarisbawahi, dalam proses Agrowisata Unila tidak melibatkan uang Unila sama sekali, Unila hanya modal lahan saja, dan lahan itu juga kita sewa Rp500 ribu. Kenapa Rp500 ribu karena mereka sendiri yang menentukan, karena tujuannya edukasi, penelitian, Tridarma Perguruan Tinggi tadi. Kenapa sekarang orientasinya jadi bisnis. Jadi jangan dibolak balik masalahnya,” tegasnya.

Sarirogo mengatakan, total modal yang dikeluarkannya untuk membangun Agrowisata Unila sekitar Rp200 juta lebih, dana itu digunakan untuk seluruh proses pembangunan Agrowisata mulai dari pengolahan lahan sampai bibit dan pupuk. Saya minta ini diluruskan, saya hanya ingin masyarakat Lampung mencintai produk Lampung sendiri,” pungkasnya.(Tim/Maryadi)

Komentar