oleh

Aliansi Lampung Memanggil Tolak Omnibus Law

Harianpilar.com, Bandarlampung – Ribuan massa mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam Aliansi Lampung Memanggil menggelar aksi di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung, Rabu (07/10/2020). Demo yang semula berjalan damai berujung ricuh dan mengakibatkan sejumlah dari massa aksi maupun anggota kepolisian mengalami luka dan dilairkan ke rumah sakit. Massa aksi ini bergerak menyuarakan aspirasi penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law.

Dari pantauan, awalnya ribuan massa terus menyampaikan orasi di depan gerbang Komplek Pperkantoran DPRD dan Gubernur Lampung. Semakin lama massa aksi terus bertambah termasuk massa siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Perwakilan massa aksi sempat diterima oleh Ketua DPRD Provinsi Lampung Mingrum Gumai dan beberapa anggota DPRD lainnya untuk berdialog, perwakilan mahasiswa meminta Ketua DPRD dan 85 anggota DPRD Provinsi Lampung menyamakan pendapatnya untuk menolak Undang-undang Cipta Lapangan Kerja dihadapan seluruh massa aksi.

“Ketua DPRD dan anggota Dewan yang kami hormati, kami minta hadirkan 85 anggota DPRD Lampung untuk menemui kawan-kawan massa aksi diluar. Anggota DPRD adalah wakil rakyat, bukan petugas partai politik. Yang harus disampaikan aspirasi rakyat, bukan aspirasi partai politik,” ujar perwakilan mahasiswa.

Di luar gedung DPRD, massa aksi kemudian berhasil menerobos dan masuk ke halaman depan Kantor DPRD. Orator secara bergantian menyampaikan orasi, sementara massa sudah berdesakan dan sempat terjadi kericuan antar massa aksi. Namun, hal itu meredam dan massa kembali melanjutkan aksi dan menyampaikan orasi. Ketua Komisi II DPRD Lampung Wahrul Fauzi Silalahi sempat menemui massa aksi dan naik ke mobil komando. Meski sudah berada di tengah ribuan massa, namun Wahrul tidak diberi kesempatan untuk berbicara sebagai wakil rakyat.

Wahrul justru dijadikan jaminan supaya Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay turun dari gedung dewan dan menemui massa.”Kami jadikan Ketua Komisi II sebagai jaminan. Kami menginginkan Ketua DPRD yang turun menemui kami. Bukan anggotanya,” kata orator yang berada di mobil komando.

Amarah mahasiswa memuncak karena Ketua DPRD Lampung tak kunjung keluar dari gedung dewan. Mahasiswa mulai melempari batu dan botol ke arah gedung dewan. Hal itu memicu bentrokan antara aparat dengan massa aksi. Pagar dan kaca Kantor DPRD Provinsi Lampung rusak dan pecah. Selain itu juga menyebabkan sejumlah anggota polisi dan massa mahasiswa terluka. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan water canon ke arah kerumunan massa, yang membuat massa kocar kacir.

Namun, sejumlah massa aksi masih ada yang bertahan meskipun tidak di dalam halaman Kantor DPRD Lampung. Polisi masih berjaga dan menghimbau mahasiswa untuk mundur. Rupanya mahasiswa kembali membuat perlawaan sekitar pukul 17.10 WIB. Pasukan Sabhara menggunakan motor kemudian dikerahkan. Termasuk mobil panser menembakkan gas air mata ke arah jalan Dokter Warsito dan ke Wolter Monginsidi turunan kantor Kejati Lampung.

Berdasarkan pantauan, aparat polisi kemudian mengamankan dua orang dari massa aksi. Dari interograsi petugas, remaja yang mengenakan kaos dalam dan hanya mengenakan celana pendek itu mengaku seorang pelajar. “Saya masih sekolah bang, ampun bang,” katanya seraya menangis.

Selain itu, seorang pria berambut gondrong yang diduga mahasiswa juga diamankan. Hingga Rabu (07/10/2020) sore, setidaknya ada enam pria yang diamankan. Mereka dibawa ke pos Satpol-PP Pemprov Lampung. Ada juga mahasiswa yang mengalami luka di bagian pelipis.

KORBAN

Kepala Sub Bagian Humas dan Informasi UIN Raden Intan Lampung, Hayatul Islam, mengatakan, akibat bentrokan aksi menolak UU Ciptaker mahasiswa UIN Raden Intan Lampung yang mengalami luka baik ringan maupun berat ada 4 orang. “4 orang mahasiswa UIN yang terluka dalam aksi yang terjadi di hari ini (kemarin),” ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (07/10/2020).

Menurut Hayatku, keempat mahasiswa UIN tersebut yakni Fahrian Aji Wibisono (mahasiswa Fakultas Syariah) mengalami luka robek dikepala, Rian Firza, Bembi (Fakultas Syariah mengalami luka-luka dan Uswatun Hasanah (Fakuktas Ushuluddin). “Fahrian Aji Wibisono, Rian Firza dan Bembi hanya mengalami luka ringan dan sudah pulang kerumah sedangkan Uswatun Hasanah masih dirawat di rumah sakit Cokro karena mengeluh sakit dibagian kepala dan tulang ekor serta terkena gas air mata,” jelasnya.

Hayatul menjelaskan, saat ini Wakil Rektor 3 UNI Raden Intan, Prof. Wan Djamaludin PHd beserta Dekan Fakultas Syariah Dr. H. Khairuddin Tahmid sedang menjenguk Uswatun Hasanah.

Diketahui, DPR dan pemerintah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja menjadi undang-undang dalam rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan pada Senin (05/10/2020). Keputusan ini disetujui oleh tujuh dari sembilan fraksi, mereka yang setuju antara lain PDIP, Golkar, Gerindra, Nasdem, PKB, PAN, dan PPP. Sementara dua fraksi yang menolak adalah Demokrat dan PKS.

Proses pengesahan RUU Cipta Kerja diwarnai dengan perdebatan hingga menimbulkan ketegangan sampai Fraksi Partai Demokrat walk out dari sidang paripurna.
Pengesahan UU Cipta Kerja ini juga mengundang reaksi keras dengan gelombang demonstrasi dari masyarakat sipil seperti mahasiswa, masyarakat adat, kelas pekerja, para guru, hingga tokoh agama.(Ramona/Harry/Maryadi)

Komentar