oleh

Menelisik “Buruk Rupa” Proyek PUPR Lamsel

Harianpilar.com, Bandarlampung – Pelaksanaan sejumlah proyek milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lampung Selatan (Lamsel) tahun 2019 diduga kuat bermasalah. Hal itu terlihat dari ‘buruk rupa’ proyek yang baru beberapa bulan selesai dikerjakan itu.

Kondisi proyek pemeliharaan Jalan Natar – Batas Pesawaran senilai Rp1,8 Miliar, dari awal pengerjaan hingga kondisinya terkini.

Proyek yang kualitasnya meragukan itu diantaranyan pemeliharaan Jalan Natar – Batas Pesawaran senilai Rp1,8 Miliar dikerjakan CV.Perisai Gemilang Jaya. Kemudian pembangunan Embung Desa Pancasila Kecamatan Natar senilai Rp761 juta dikerjakan CV. Berkah Mandiri.

Kondisi proyek pembangunan Embung Desa Pancasila Kecamatan Natar senilai Rp761 juta yang sudah banyak mengalami retak-retak.

Kondisi kedua proyek ini sudah mengalami kerusakan cukup parah. Seperti proyek pemeliharaan Jalan Natar – Batas Pesawaran, meski menelan anggaran Rp1,8 Miliar proyek yang dikerjakan CV.Perisai Gemilang Jaya kondisinya sudah rusak, berlubang, mengelupas, hingga ada bagian yang amblas.

“Kuat dugaan perbaikan jalan itu tidak dilakukan galian/peching sebelum di perbaiki, melainkan langsung di timbun matrial. Begitu juga dengan pengaspalan jalan di duga kuat adanya pengurangan volume ketebalan, seharusnya sekitar 4 cm, namun di lokasi kegiatan hanya 2-3 cm. Hal yang sama pada pelebaran jalan yang di cor beton di duga kuat sebelum di cor tidak di lakukan pemadatan dan penyiraman pasir, hal tersebut mengakibatkan kerusakan yang begitu cepat bahkan saat ini kondisi jalan sudah banyak retak dan berlobang kembali,” tegas Ketua Pergerakan Masyarakat Anti Korupsi (Pematank), Suadi Romli, Minggu (13/09/2020).

Menurutnya, berbagai kejanggalan dalam pengerjaan proyek itu mengindikasikan adanya penyimpangan dalam pelaksanaanya.”Dari awal pengerjaan proyek itu sudah kami pantau, jadi kami paham bagaimana kondisinya dilapangan dan kami ada bukti-bukti visual dari awal pengerjaan hingga kondisinya saat ini,” tegas Romli.

Begitu juga, lanjutnya, pembangunan Embung Desa Pancasila Kecamatan Natar di duga kuat terjadinya penyipangan. Selain penggunaan material, galian pondasi pada bangunan seharusnya sebelum di pasang batu harus di tabur pasir namun di lokasi tidak di tabur pasir. “Begitu juga pemadatan tanah di duga kuat tidak di lakukan secara maksimal hal ini terlihat dari bangungan embung yang sudah banyak yang retak. Bahkan untuk saluran aliran ke bawah diduga kuat tidak di bangun,” tandasnya.

Menurutnya, penegak hukum harus mengusut masalah ini agar tidak terus terulang dan bisa menjadi pembelajaran.”Kami juga meminta KPK memperhatikan masalah ini, jangan sampai ada anggapan proyek-proyek itu sudah kondisinya baik semua,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Dinas PUPR Lamsel, Syahroni, hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi.(Tim/Maryadi)

Komentar