oleh

Pesebaran Sars-Cov-2 atau corona virus mengguncang dunia. Semua aspek kehidupan terganggu. Bukan mustahil ini bakal menjadi salah satu bencana kemanusiaan terbesar abad 21 ini.

Terkonfirmasi pandemi virus corona baru (COVID-19) sudah melebihi 300.000 kasus di seluruh dunia. Italia menjadi negara dengan dampak terburuk, 53.578 warga negaranya terinfeksi Covid-19.

Kematian di seluruh dunia melonjak melebihi angka 12.000 pada Minggu (22/03/2020).

Di Indonesia, jumlah pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) kembali bertambah 64 orang pada Minggu (22/03/2020). Sehingga total pasien corona menjadi 514 orang yang dinyatakan positif.

Sedangkan jumlah korban meninggal dunia dan sembuh juga bertambah. Korban meninggal bertambah menjadi 10 orang, dan total mencapai 48 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh juga bertambah 9 orang menjadi 29 orang.

Perlu peran semua pihak untuk menghentikan covid 19 ini. Terbukti ketika warga dengan pemerintahnya saling mendukung, sejumlah Negara berhasil mengatasi virus ini.

Tiongkok, Negara pertama paling parah terserang Covid19 berlahan mulai keluar dari krisis kemanusiaan itu. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut per Jumat (20/03/2020) waktu setempat, tidak ada kasus virus Corona Covid-19 baru di Wuhan, daerah tempat pertama Corona muncul. Kini Tiongkok justru mulai meluaskan perannya di dunia untuk melawan covid 19. Tiongkok menawarkan bantuan keseluruh Negara guna melawan covid 19 ini.

Korea Selatan, Negara kedua yang merasakan goncangan hebat virus itu setelah Tiongkok, juga sukses melawan covid 19. Dengan stategi trace, test, and treat (lacak, uji, dan obati) Korsel berhasil menekan penyebaran dan angka kematian akibat corona.

Vietnam, juga masuk dalam jajaran Negara yang sukses menekan kematian dan penyebaran covid 19. Vietnam bahkan berhasil menyembuhkan pasien covid 19 dengan persentase kematian hampir nol persen. Wakil Perdana Menteri Vietnam Vu Duc Dam menyatakan sejak Jumat (28/02/2020) pemerintah setempat telah mendeteksi tidak ada kasus infeksi virus corona baru.

Cukup dari tiga Negara ini belajar bagaimana menghadang dan menghadapi gelombang virus 19 yang dahsyat itu. Terlepas dari apa idiologi ketiga Negara ini, tapi satu hal yang patut dipetik sebagai pelajaran. Warga ketiga Negara ini sudah mengamalkan ‘Politik Seperlunya, Sisanya Kemanusiaan”.

Ketika wabah menyerang, warga ketiga Negara ini bersatu bersama pemerintanya melawan corona. Semua perbedaan politik, pandangan, bahkan sekat-sekat yang bersifat idologis sekalipun disingkirkan. Semua bergandengan tangan, berperan sesuai kemampuan masing-masing, dan pastinya mengikuti semua kebijakan pemerintahnya.

Dari ketiga Negara itu juga bisa dilihat, keberhasilan melawan corona bukan terletak pada lockdown atau tidak. Tiongkok dan Italia sama-sama melakukan lockdown, tapi hasilnya berbeda.

Tiongkok sukses meredam corona setelah mengunci pintu masuk dan keluar, terutama di daerah yang parah seperti Kota Wuhan. Dan warganya tertib mengikuti kebijakan pemerintahnya.

Italia justru porakporanda dengan jumlah penderita dan kematian paling tinggi saat ini. Akibat warganya meremehkan dan mengabaikan kebijakan pemerintahnya.

Sementara, Korsel dan Vietnam sebaliknya, sukses tanpa lockdown.

Sekali lagi, kunci utama keberhasilan Tiongkok, Korsel dan Vietnam itu terletak pada sikap warganya yang bersatu atas nama kemanusiaan.

Sikap itu juga yang menunjukkan warga ketiga Negara itu bukan lagi hewan politik. Aristoteles dalam salah satu karya besarnya Politik, menyebut manusia hakikatnya hewan politik. Saut Pasaribu yang menerjemahkan Politik, menafsirkan Aristoteles menggunakan istilah ‘hewan politik’ untuk melukiskan mahluk lain seperti semut dan lebah bukan hanya hidup bersama, tapi juga bekerja bersama untuk tujuan umum, sama seperti manusia. Yang membedakan manusia dengan hewan, terletak pada lebih banyak karakter rasionalitasnya ketimbang karakter politisnya.

Ketika manusia kehilang rasionalitasnya maka akan kehilangan rasa kemanusiannya, dan karakter politisnya akan lebih dominan dalam situasi apapun. Dan itu tidak terjadi pada warga ketiga Negara yang sukses melawan Corona.

Di Indonesia, wabah corona sudah mulai masuk tahap mengkhawatirkan. Bukan hanya jumlah terinfeksi yang terus bertambah, jumlah yang meninggal juga meningkat dan mengalahkan jumlah yang sembuh.

Namun, ada fenomena berbeda. Saling hujat, saling menyalahkan, mengabaikan himbauan pemerintah dan tokoh agama, justru lebih nampak. Parahnya, ada upaya mempolitisir isu corona.

Dalam kondisi seperti saat ini, atas nama kemanusian semua pihak harus bersikap bijak. Hentikan tindakan menggunakan isu corona sebagai alat untuk saling serang, saling ejek apa lagi saling menjatuhkan.

Yakinlah, pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk rakyatnya, tanpa dibeda-bedakan. Begitu pun para tokoh agama dan lembaga keagamaan pasti akan memberi fatwa atau himbauan yang terbaik bagi pengikutnya.

Sebagai warga Negara yang baik cukup ikut dan dukung kebijakan pemerintah. Sebagai umat beragama cukup ikut fatwa atau himbauan lembaga keagamaan dan tokoh agama masing-masing. Itu sudah sangat membantu perang melawan corona.

Berpolitiklah secukupnya, kemanusiaan sisanya. Karena kita bukan ‘hewan’ politik…Wallahu A’lam Bishawab

Komentar