oleh

“Jim, kita galang Jurnalis Peduli Demokrasi. Untuk dukung Mbak Esti,” demikian bunyi pesan WhatsApp dari bro Wirahadikusuma, sembari menyertakan tulisanya Mati Bersama Esti di rilislampung.id, Sabtu (15/02/2020) sore.

Sejenak saya cermati pernyataan-pernyataan Mbak Esti dalam tulisan mantan Pimred Radar Lampung itu. Sepintas saya menangkap ada kekecewaan, ketegaran, keyakinan dan keberanian dalam pernyataan-pernyataan mantan Komisioner KPU bernama lengkap Esti Nur Fathonah itu.

Kekecewaan : karena Mbak Esti merasa keputusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang memecatnya secara tetap dari Komisioner KPU Lampung terlalu berlebihan. Tidak Adil. Mengabaikan pembelaannya.

Ketegaran : Mbak Esti sadar keputusan DKPP bersifat final. Tak ada guna menyesalinya. Lebih baik menatap kedepan.

Keyakinan : Mbak Esti menyakini ada pihak lain yang justru melakukan kesalahan lebih besar dari kesalahan yang dia lakukan. Keyakinanya dikuatkan bukti-bukti yang diyakininnya kuat.

Keberanian : Mbak Esti memiliki keberanian untuk mengungkap semua yang menurut dia melakukan kesalahan lebih besar dari kesalahannya. Hanya saja, Mbak Esti butuh dukungan baik secara materil maupun moril.

Dari kesimpulan sepintas itu, saya menyanggupi ajakannya Bro Wira. Ini bukan soal mendukung Mbak Esti, tapi lebih luas dari itu. Menyelamatkan demokrasi.

“Oke jim. Bagus itu. Tapi harus diperluas, jangan hanya jurnalis. Tapi kita galang Aliansi Peduli Demokrasi. Atau apapun namanya, prinsifnya harus bisa mengakomodir semua pihak secara individu maupun lembaga untuk bersama-sama mendukung Mbak Esti mengungkap semua ini,” saran ku.

“Oke jim. Siap kita galang. Tar kita lanjut jim. Gw lagi nyetir,” balas Bro Wira sambil mengirim foto jalan yang dilaluinya.

Menyanggupi ajakan Bro Wira ini. Sebagai bentuk partisipasi dalam upaya menjaga jangan sampai proses demokrasi dicederai oleh praktik-praktik curang oleh siapapun. Tanggungjawab bersama untuk menjauhkan proses demokrasi dari anasir-anasir yang merusak.

Aristoteles dalam karyanya : Politic. Sudah dari ribuan tahun lalu menggariskan minimal ada tiga syarat yang dipenuhi orang-orang yang mengisi jabatan-jabatan penting. Pertama, ada kesetiaan pada konstitusi yang sudah ditetapkan. Kedua, memiliki kecakapan yang tinggi untuk menjalankan tugas-tugas jabatan. Ketiga, memiliki kebaikan karakter dan keadialan.

Pun begitu dengan penyelenggara pemilu, harus diisi orang-orang yang minimal memiliki tiga syarat itu. Maka perlu proses yang baik dan jujur dalam pengisiannya. Tak boleh ada keraguan sedikitpun.

Langkah Akademisi Universitas Lampung (Unila) DR. Budiono bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung, yang melaporkan dugaan permainan dalam rekrutimen Komisoner Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menjadi pintu untuk melihat kedalam persoalan yang lebih jauh.

Kini, pintu itu telah menemukan jalan yang tidak hanya diharapkan dapat melihat, tapi juga bisa membongkar persoalan secara keseluruhan. Agar bisa dilakukan perbaikan.

Dengan begitu, kedepan tidak ada lagi keraguan terhadap kredibilitas penyelenggara pemilu. Tidak ada lagi perdebatan dan saling curiga atas dugaan kecurangan. Dan perdebatan diruang publik bisa lebih substansial. Yakni, bagaimana pemilu mampu menghasilkan produk berkualitas, legitimete, dan sesuai harapan rakyat. Semoga..Wallahu A’lam Bisshowab.

Komentar